7-Satu Komplek

1648 Kata
“Revila!” Teriakan itu membuat Revila dan Noel menoleh ke sumber suara. Dari arah eskalator lelaki berkemeja denim mendekat. Lelaki itu lalu memperhatikan Revila saksama. “Bukannya lo sama Dee?” Revila mengangguk lalu menjawab pertanyaan Lory. “Iya barusan belanja bahan. Kenapa lo di sini?” Lory melirik ke lelaki yang memperhatikannya dengan pandangan menilai itu. Dia lalu menunjuk lelaki itu dan menatap Revila. “Lo sama pacar lo?” Pertanyaan itu membuat Revila dan Noel seolah salah tingkah. Revila buru-buru menggeleng sedangkan Noel hanya cengengesan. “Bukan. Lo kenapa ada di sini?” tanya Revila mengalihkan topik. “Tadi Dee ngabarin. Kebetulan pacar gue ngemal di sini ya udah gue nyamperin lo,” jawab Lory. “Pengennya sih bantuin belanja tapi kayaknya udah selesai, ya,” lanjutnya sambil melihat kresek besar di kedua tangan Revila. Mendengar kata “pacar”, Noel mendesah lega. Dia sempat beranggapakan kalau lelaki itu adalah pacar Revila tapi ternyata hanya teman saja. “Ya udah gue balik dulu,” kata Revila setelah tiga-empat detik tidak ada yang bersuara. Gadis itu lalu berjalan, tapi baru tiga langkah sudah ada yang menginterupsi. “Tunggu.” Noel dan Lory berpandangan sejenak. Mereka sama-sama heran mengapa bisa memanggil Revila bersamaan. Tidak ingin kalah, Noel langsung mendekati Revila. “Boleh gue minta nomor ponsel lo?” Nih cowok! dalam hati Revila menggeram. Dia sebenarnya menghindari pertanyaan lelaki itu. Tapi sepertinya lelaki itu ingat dengan tujuannya. “Rev. Sini biar gue yang bawa sampai depan. Nggak enak gue udah nggak ikut belanja,” Lory menginterupsi. Revila membuang napas lega. Dia lalu menyerahkan kresek di kedua tangannya ke Lory. Setelah itu pergi tanpa menjawab ucapan Noel. Sungguh Revila tidak suka dengan lelaki SKSD—Sok Kenal Sok Deket—seperti Noel itu. Melihat gadis itu pergi Noel membuang napas. Sungguh gadis antik. Jika tidak mau memberikan nomor ponsel setidaknya menjawab, jangan langsung pergi begitu saja. Noel lalu kembali ke foodcourt dengan tangan hampa. “Mana?” tanya Audrey. Dia menahan tawa melihat wajah sebal Noel. “Gue tebak pasti nggak dapet.” “Terus lo mau ngetawain?” “Iya. Hahaha.” Audrey tertawa puas sedangkan Noel menyugar rambutnya dengan kasar. Ini pertama kalinya dia meminta nomor seorang gadis. Sayangnya langsung ditinggal begitu saja. “Gue denger lo minta nomor Revila.” Suara cukup cempreng itu membuat Noel dan Audrey mendongak. Dee tersenyum ke Noel sambil menunjukkan ponsel. “Ini nomor Revila kalau lo mau.” Noel tersenyum tipis lalu menggeleng pelan. “Enggak. Gue bisa kok tanya ke dia sendiri.” Dee kaget dengan kalimat itu. Dia mendengus singkat lalu pergi dengan menggerutu. “Cowok aneh. Bukannya terima kasih udah gue kasih tahu malah sok nolak.” Selepas kepergian Dee, Audrey memperhatikan Noel dengan kening mengernyit. “Kenapa lo tolak?” “Prinsip, Dree.” Satu tangan Noel menarik semangkuk soto betawi di depannya. Dia langsung memakan kuah kekuningan itu. Membuat bibirnya kepanasan lalu tangan kirinya bergerak mengipas. “Makanya dilihat dulu,” kata Audrey. “Dari mangkoknya nggak panas. Tapi masih aja panas.” Satu tangan Audrey menyangga sisi kepala. Dia memperhatikan Noel yang sibuk menyantap soto betawi itu, lengkap dengan gaya kepanasan. “Kenapa nggak lo save nomor Revila tadi?” Noel menelan sesendok soto betawi itu lalu menatap Audrey saksama. “Prinsip. Nggak ada tantangannya kalau gue dapet nomor itu bukan dari ceweknya langsung.” Mendengar kalimat itu Audrey manggut-manggut. Menurutnya Dean CS setipe, sama-sama keras kepala dan memegang teguh prinsip yang keterlaluan. “Awal lo ketemu Revila gimana, sih? Kok kelihatannya dia benci banget sama lo,” tanya Audrey penasaran. Arah pandang Noel sekarang terfokus ke Audrey. Bibir lelaki itu lalu menukik ke atas. “Dia di kafe terus pesen air putih doang. Gara-gara itu gue jadi inget sama dia.” Audrey masih belum mengerti. “Terus gimana caranya dia benci lo? Harusnya kan yang kesel lo.” “Pinter juga istrinya Dean ini,” jawab Noel bercanda. Saat mendapat pelototan, Noel langsung melanjutkan ceritanya. “Besoknya dia dateng, gue deketin dong. Eh pas gue mau pergi kaki gue nendang meja. Sampai minuman dia muncrat ke bukunya,” ceritanya. “Kayaknya dia marah deh gara-gara bukunya basah.” Kini Audrey mengerti mengapa Revila tampak tidak suka dengan kehadiran Noel. “Kenapa lo nggak ganti aja bukunya? Sebagai bentuk tanggung jawab.” Noel terdiam, lalu menjentikkan jari. “Lo bener. Tapi buku dia apa, ya?” “Coba lo inget.” Selama sepuluh detik, Noel mencoba mengingat buku itu. “Kayaknya buku desain interior. Tapi judulnya gue lupa.” “Ya udah kalau gitu kita cari buku itu aja. Terus besok lo kasih ke dia,” usul Audrey yang langsung dijawab Noel dengan anggukan tegas. “Ya udah ayo cari!” Noel mengambil barang belanjaan lalu berjalan lebih dulu keluar foodcourt. Tanpa sadar lelaki itu selalu bersemangat karena Revila.   ***   Revila baru tahu kalau Overcafe memiliki tiga cabang. Sebelumnya dia selalu mengunjungi cabang yang tidak jauh dari kampus. Sekarang, saat dia baru dari tempat Dee dia melihat kafe itu. Tanpa pikir panjang Revila langsung membelokkan motornya ke arah kafe. Bisa dibilang Revila setia terhadap apapun. Ketika dia makan di suatu tempat dan merasa makanan itu enak, maka dia lebih sering makan di tempat itu. Pertama kali dia mengenal Overkafe karena interior kafe itu cukup kekinian. Selain itu pemilihan warna krem membuat pengunjung betah berlama-lama. Termasuk Revila yang tak begitu menyukai warna yang terlalu menyala. “Pesan nasi goreng toping bakso satu,” ucap Revila setelah berdiri di depan kasir. Usai melakukan pembayaran Revila memilih duduk di dekat tembok. Dia bertopang dagu memperhatikan interior kafe. Tidak jauh beda dengan kafe sebelumnya. Hanya saja di bagian kasir diberi sentuhan lukisan yang begitu besar. Sedangkan di tempat satunya tidak. Mungkin Revila akan mencoba ke cabang satunya lagi. “Eh ada Revila.” Suara yang dibuat manis itu membuat Revila mendongak. Dia membuang napas panjang mendapati kehadiran Noel. Revila pikir, ke cabang satunya membuatnya tidak bertemu dengan Noel. “Udah pesen?” tanya Noel lalu duduk di hadapan Revila. Revila hanya mengangguk singkat. Dia lalu mengeluarkan novel daripada berbincang dengan lelaki di depannya. Dia ingat kejadian kemarin saat lelaki itu meminta nomor ponselnya. “Kok tumben nggak di deket kampus?” Noel mempertanyakan kehadiran Revila. Biasanya gadis itu memilih Overcafe cabang dekat kampus. “Lagi pengen aja.” Senyum Noel mengembang. Dia melihat jelas bagaimana Revila terkesan menghindarinya. “Emm. Takut ketemu gue, ya?” Tubuh Revila kaku selama beberapa detik, lalu kembali relaks. Dia fokus dengan buku bacaannya, mendiamkan lelaki sok dekat itu. “Gue nggak bakal minta nomor ponsel lo kok. Suwer!” kata Noel sambil mengangkat kedua jari. Revila memperhatikan dengan saksama. Dia lalu mengangguk pelan. Dia akan mengingat janji lelaki itu. “Oh, iya. Gue punya sesuatu buat lo.” Noel berdiri lalu berjalan cepat menuju mobil. Sepertinya alam semesta memihaknya. Di saat dia ingin memberikan buku untuk Revila, dia langsung bertemu dengan gadis itu. Sungguh Noel tidak menyangka akan bertemu Revila di kafe satunya. Padahal niatnya ke sini hanya untuk memastikan bahan makanan. Pesanan Revila datang. Gadis itu buru-buru makan sebelum Noel kembali. Entah kenapa sejak kehadiran Noel, Revila jadi sulit berkonsentasi. Mulut lelaki itu seperti perempuan, tidak bisa diem dan suka sekali ngomong. “Nih buat lo.” Saat sedang asyik makan, sebuah buku berwarna hijau tosca langsung menghalangi pandangan. Revila mengangkat wajah memperhatikan Noel yang tersenyum itu. “Buat apa?” Noel meletakkan buku itu di meja lalu menjawab. “Kan, waktu itu gue basahin buku lo. Sekarang gue ganti. Yah, meski bukunya nggak sama, sih.” Revila manggut-manggut. Padahal dia tidak mempermasalahkan sebagian halaman yang basah. Awalnya memang kesal karena buku itu pinjaman dari papanya. Namun, sekarang tidak lagi. “Gue ngerepotin,” kata Revila tak enak. “Sama sekali nggak ngerepotin,” Noel menjawab cepat. “Justru gue ngerasa bermanfaat kalau buku ini lo baca. Lo bisa dapet ilmu baru.” Manik mata Revila tertuju ke lelaki di depannya. Untuk pertama kalinya lelaki itu tidak menggombal dan tampak berbicara serius. Revla mengangguk lalu mengangkat buku itu. “Makasih.” Senyum Noel mengembang. Dia lalu memperhatikan Revila yang menghentikan kegiatan makannya itu. “Gue pergi dulu, deh. Kayaknya lo lagi asyik makan.” Setelah mengucapkan itu Noel pergi ke lantai atas. Sampai di ruangannya dia berdecak. Kenapa gadis itu tidak menahan? Harusnya Noel tadi tidak perlu sok-sokan pergi. Buktinya dia sekarang menyesal. “Gue pengen ngobrol! Bukan malah pergi!!” geram Noel sambil mengacak rambut.   ***   Mama: El, kenapa nggak pulang? Kamu nginep di rumah siapa? Mama: El, baju-bajumu ke mana? Kamu ada urusan kerjaan? Kakak 1: NOEL! LO KE MANA DICARI MAMA! Kakak 2: LO KABUR YA? NGGAK MAU DIJODOHIN YA? SIYAN! Noel membaca pesan dari tiga wanita yang selalu ada di hidupnya itu. Dia geleng-geleng membaca pesan kakaknya, capslock jebol. “Sadarnya baru sekarang? Gila!” Lelaki itu memasukkan ponsel ke dalam saku. Harusnya kemarin dia bertemu dengan gadis yang akan dijodohkan. Namun, dia beralasan ada lembur dan mamanya percaya saja. Lalu hari ini dia tidak mendapat pesan yang berisi pertemuan dengan seorang gadis, justru pesan barusan yang dia dapatkan. “Ck! Keluarga gue ajaib,” gumamnya sambil berjalan keluar. Pukul sebelas malam kafe sudah tutup. Namun, saat week end tutup lebih lama yaitu pukul dua belas. Sekarang Noel menjadi penghuni terakhir di kafe. Dia mematikan semua lampu lalu mengunci pintu depan. Lelaki itu mengemudi ke arah rumah Dean. Saat melewati pertigaan dia kaget melihat mobil merah dengan sticker gambar lipstik di pojok kanan kaca depan. Sontak Noel mempercepat laju mobilnya. Tidak salah lagi itu mobil sang mama. “Pasti Pak Po yang disuruh mama nyari gue,” gerutu Noel. Namun, setidaknya dia bersyukur karena supir setia mamanya itu sering nggak ngeh saat malam hari. Katanya saat malam suasana sekitar begitu beda. “Iyalah beda, soalnya gelap,” itu jawaban yang sering Noel lontarkan jika Pak Po berkata seperti itu. Sisa perjalanan sama sekali tidak ada yang mencurigakan. Noel yakin kedua kakaknya tidak mungkin ikut mencarinya. Jelas, kakak pertama ada di Bandung dan kakak kedua ada di Jogja. Noel membelokkan mobil ke komplek perumahan. Dari arah kanan sebuah motor menyalipnya. Noel mengernyit merasa kenal dengan kemeja bunga-bunga warna biru tua yang dikenakan si pengendara. “Revila?” gumam Noel tak percaya. “Rumahnya di sini?” Memikirkan itu senyum Noel mengembang. Dia mempercepat laju mobilnya dan mengikuti Revila. Motor gadis itu melewati blok B lalu berbelok di pertigaan. Saat hendak berbelok, dari arah berlawanan mobil hitam juga berbelok. Terpaksa Noel mengalah dan membiarkan mobil itu melaju lebih dulu. Setelahnya Noel melajukan kendaraan. Di depannya terlihat sepi, tidak ada pengendara motor matic yang lewat. “Pasti rumahnya deket sini,” gumam Noel. Lelaki itu mengemudi dengan pelan lalu menoleh ke kanan dan kiri. Rumah-rumah di samping kanan kiri telah sepi dengan lampu yang telah padam. Mobil akhirnya sampai di jalanan paling ujung dan Noel tidak menemukan Revila. “Wait tadi Revila atau hantu, sih?” Noel buru-buru melajukan mobilnya ke blok D. Dia tidak ingin mengikuti Revila yang mungkin jadi-jadian itu. Lelaki itu akhirnya sampai di rumah Dean. Dia lalu berjalan masuk tak lupa mengunci pintu. Dari arah depan, gadis mengenakan motor matic lewat. Pandangannya menyapu setiap jalanan yang dilewati. “Hilang di mana, sih?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN