“Hilang di mana, sih?”
Revila mengendarai motor sambil mencari buku berwarna tosca yang diberi Noel. Sekarang buku itu hilang, Renalah yang menghilangkan. Sepulang dari kampus, dia langsung menuju rumah hendak membaca buku itu. Namun, kehadiran Rena membuat semuanya berubah. Dia ingat kejadian beberapa menit yang lalu.
“Kak Ren punya bacaan baru nggak? Gue ada tugas sih butuh referensi.”
Suara itu terdengar saat Revila baru membuka buku barunya. Dia mengangkat wajah dan melihat Rena memperhatikan buku di tangannya.
“Buku baru, Kak?” tanya Rena sambil berjalan mendekat. Gadis itu duduk di pinggiran ranjang dan memperhatikan buku itu saksama. “Wah mantep nih, Kak bukunya.”
Revila menutup bukunya lalu menyodorkan buku itu ke Rena. “Ya udah mau lo baca aja?”
Rena sama sekali todak menoleh. Gadis itu manggut-manggut lalu mengambil buku tosca itu. “Beneran, nih? Kakak nggak baca dulu?”
“Nggak usah,” jawab Revila sambil menggeleng pelan.
“Yey!” Rena turun dari ranjang sambil mengangkat buku itu tinggi-tinggi. Dia keluar kamar membuat Revila geleng-geleng. Adiknya memang terkadang seperti anak kecil, padahal gadis itu sudah delapan belas tahun.
Revila turun dari ranjang berganti duduk depan meja belajar. Dia mulai membuka desain yang telah dibuat Lory lalu memperhatikan dengan saksama. Setelah cukup lama mempelajari, Revila mengambil kertas warna-warni dan mulai membuat pola.
Satu jam kemudian, teriakan Rena terdengar kencang dan terdengar tangis tertahan. Sontak Revila menghentikan kegiatannya lalu berlari menuju lantai satu. “Kenapa?” tanyanya panik melihat Rena yang menangis.
“Bukunya, Kak.”
Kedua tangan Rena menutup wajah. Gadis itu menangis sesenggukan. “Gue habis keluar bentar sama Ian dan bawa buku itu. Terus bukunya nggak ada, nggak tahu jatuh di mana.”
Bola mata Revila melebar. Dia tidak menyangka buku yang baru dia pinjamkan ke Rena dengan cepat menghilang. “Jatuh atau gimana?”
Rena menggeleng pelan, tidak tahu pastinya. “Jatuh mungkin.”
“Lo tadi emang ke mana sama Ian?” Revila geleng-geleng. Adiknya itu setiap hari selalu bertemu dengan Ian. Jika, tidak bertemu sehari seperti kehilangan satu organ tubuh.
“Gue cuma keliling komplek. Paling jauh ke SPBU,” jelas Rena.
Mendengar itu Revila menghela napas panjang. Dia yakin kalau buku itu pasti terjatuh.
“Ya udah biar gue cari.” Setelah mengucapkan itu Revila mengambil motor dan mulai mencari buku yang mungkin saja jatuh di jalanan.
Hingga saat ini Revila masih mencari buku tosca itu. Jika buku itu bukan buku pemberian seseorang mungkin dia tidak kebingungan seperti ini. Dari kecil Revila selalu diajarkan apa yang diberikan orang suka tidak suka harus dihargai dan disimpan baik-baik.
“Nggak ketemu,” gumam Revila sambil memutar balik motornya setelah sampai di ujung gang buntu.
Gadis itu kembali memperhatikan jalanan. Namun, sampai motornya berbelok ke arah blok rumahnya, dia sama sekali tidak mendapati buku itu.
Pasrah, Revila memilih mengikhlaskan buku itu. Gadis itu memasukkan motornya ke garasi lalu berjalan masuk. Saat sampai di kamar, kehadiran Rena dengan seulas senyum menyambutnya.
“Kak. Maaf ya,” kata Rena dengan senyum malu-malu.
“Apa?”
Rena mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya. Dia melihat respons kakaknya yang terlihat kaget itu. “Maaf ya, Kak. Ternyata ketinggalan di tas Ian.”
Mendengar itu Revila mendesah lega. Dia mengambil buku itu lalu menatap adiknya dengan raut marah. “Lo nih, ya. Nggak bisa apa setiap hari nggak lupa?”
Senyum Rena mengembang lalu dia menggeleng pelan. “Bawaan dari lahir deh kayaknya.”
Revila geleng-geleng, selalu saja itu dijadikan alasan. Tidak ingin buku itu kembali hilang, Revila langsung menyimpannya di laci. Bersatu dengan buku-buku favortinya.
“Nggak biasanya loh kakak nyari buku sampai segitunya.” Rena duduk di pinggir ranjang sambil memperhatikan kakaknya.
“Itu kan dikasih. Jadi, itu harus disimpen baik-baik.”
“Dikasih siapa?”
Satu alis Revila terangkat. Adiknya ini kenapa antusias sekali? “Bukan dari siapa-siapa.”
Rena tersenyum menggoda. Jika, bukan dari seorang spesial, dia yakin kakaknya tidak akan sampai bingung mencari seperti tadi.
“Dari pacar kakak, ya?” goda Rena. “Hayo ngaku!”
“Apaan, sih? Udah sana!” Revila menarik kedua tangan adiknya. Meminta adiknya itu keluar dari kamar dan berhenti menggodanya. Namun, bukan Rena namanya kalau berhenti menggoda kakaknya.
“Cie.. Kakak punya pacar.” Rena terus saja menggoda.
“Bukan pacar, Ren.”
Rena manggut-manggut seolah percaya, tapi dia tetap yakin kalau buku dari seseorang yang spesial. LKalau kakak udah punya pacar berarti gue gagal dong comblangin lo.”
“Udah-udah. Ngapain sih comblang-comblangan?” Revila menutup pintu kamar, sebagai tanda percakapan ini telah selesai. Gadis itu lalu kembali duduk di depan meja belajar. Dari ekor matanya dia mendapati kertas kecil berwarna emas. Penasaran dia membaca kartu nama itu. “Ren. Ren. Ada-ada aja,” gumamnya.
Satu tangan Revila menarik laci lalu menyimpan kartu nama beruliskan Noel di sana.
***
Hari Sabtu, waktunya Noel mengurus kafe. Lelaki itu telah siap dengan apron di tangan dengan beberapa bahan masakan terjajar rapi. Siang ini rencananya dia akan membuat martabak manis. Menu di kafenya belum ada martabak manis dan dia merasa butuh makanan ringan itu.
Mengingat Noel akan membuat konsep piknik untuk halaman depan, maka menu makananpun harus menyesuaikan. Hingga tercetuslah menu martabak manis. Menurut Noel makanan itu sangat hits di kalangan remaja. Meski begitu dia ingin menyuguhkan martabak manis yang memiliki ciri khas.
“Perlu bantuan, Mas?” tanya Yoi—kepala chef di kafenya.
Noel menggeleng pelan lalu mulai membuka bahan satu persatu. “Lo catet aja bahan sama takeran yang gue pakai.”
Yoi mengangguk. Dia mengambil notes di ujung meja lalu mencatat bahan-bahan yang dipakai bosnya.
Kurang lebih dua jam lelaki itu bereksperimen. Bergonta-ganti adonan hingga menemukan tekstur yang pas. Awalnya adonan itu begitu lembek hingga martabaknya melebar ke mana-mana dan sulit mengembang. Tak menyerah, Noel mengulang lagi hingga adonan martabak itu kini sesuai harapan.
“Menurut lo perlu toping apa, nih?” tanya Noel ke Yoi.
“Kalau keju gimana? Rata-rata martabak toping cokelat sama mesis.”
“Yakin lo, enak?”
“Kita coba dulu.”
Noel mengangguk saja. Dia mengambil keju lalu memarutnya di atas martabak. Bisa dibilang Noel tidak begitu suka keju. Entahlah menurutnya keju itu rasanya membuat mual.
“Nah lo yang tata,” pinta Noel setelah martabak itu ditutupi keju penuh. “Kayaknya nggak asyik kalau kejunya cuma gini aja,” lanjutnya sambil memperhatikan martabak di depannya.
“Kalau kejunya dibakar dikit bisa nggak?” tanya Noel.
“Bisa, sih. Tapi nggak tahu rasanya. Kenapa nggak dilapisi cokelat lalu ditutup sama toping lain. Jadi topingnya bertumpuk-tumpuk.”
Saran itu membuat senyum Noel mengembang. “Ide bagus. Ya udah ambil mesis sama marshmellow.”
Setelahnya mereka mulai menata martabak agar enak dilihat. Hingga toping bertumpuk itu terhidang di hadapan mereka.
“Gue coba ke beberapa pengunjung deh. Kayaknya di depan lagi rame,” kata Noel sambil mengangkat martabak itu.
Yoi mengangguk sambil mencatat toping yang telah dia gunakan. Tak lupa dia mencoret takaran bahan yang tadi sempat gagal. Setelah itu Yoi menempel menu itu di gatungan samping kulkas.
Di depan, kafe sangat ramai didomonasi para remaja. Noel keluar dengan sepiring martabak di tangan. Lelaki itu bingung mencari siapa pelanggan pertama yang akan mencicipi martabak manisnya.
Saat mengedarkan pandangan, gadis berkaus stripe berwarna biru putih terlihat duduk sendiri. Senyum Noel mengembang. Dia langsung mendekati gadis itu dan meletakkan martabak ke atas meja. “Gue ada menu baru.”
Revila tersentak. Dia memperhatikan martabak dengan toping yang menyatu itu. “Apa ini?”
“Martabak. Topingnya emang bertumpuk.”
Noel mengiris martabak itu lalu menyodorkan ke Revila. “Coba deh rasanya. Menurut lo ada yang kurang atau gimana gitu?”
Mau tidak mau Revila memakan martabak itu. Rasa manis dari cokelat dan marshmellow langsung menyergap lidahnya. Lalu terasa sedikit asin saat keju itu memanjakan lidahnya. “Enak, sih. Cuma menurut gue ini terlalu manis.”
“Oke.” Noel manggut-manggut mengingat saran Revila. “Kalau dari penampilannya?”
Sekarang arah pandang Revila tertuju ke martabak di depannya. Martabak itu cukup rapi sebenarnya, tapi jika dibiarkan terlalu lama pasti akan berantakan.
“Kenapa nggak lo coba roti martabaknya bertumpuk,” jelas Revila. “Jadi martabak yang nggak terlalu tebel lo kasih keju. Terus lo tutup lagi, terus lo kasih cokelat. Menurut gue itu lumayan unik. Jadi kayak burger gitu tumpuk-tumpuk.”
Ide Revila membuat senyum Noel mengembang. Gadis ini bisa juga memberikan saran. “Boleh, tuh. Nanti gue coba.”
“Ini lo sendiri yang buat?” tanya Revila ingin tahu.
Noel mengedip lalu tersenyum lebar. Seolah bangga telah membuat martabak manis di depannya itu. “Iya dong.”
Revila manggut-manggut. “Kalau chef lo yang buat pasti lebih keren.”
Gila! Noel seolah diterbangkan lalu dihempas begitu saja. Lelaki itu meringis sedangkan Revila sama sekali tidak merasa bersalah. Menurut gadis itu ini kritikan cukup pedas. Namun, bisa membuat orang termotivasi.
***
Setelah mendapat saran dari Revila, Noel memutuskan kembali ke dapur. Dia tidak marah karena Yoi tadi tidak memberi kritikan atau apapun. Sehingga dia mendapat kritik pedas dari Revila. Namun, Noel memberi tahu ide dari Revila barusan. Kali ini lelaki itu memilih tak ikut campur. Dia yakin Yoi pasti lebih mengerti. Dan yang tadi pasti Yoi sungkan memberi tahu.
“Lo coba nanti kalau pengunjung nggak rame,” saran Noel.
Noel berbalik kembali ke arah depan. Dia melihat para pengunjung membeludak bertepatan dengan jam makan siang. Noel melihat beberapa pegawainya mondar-mandir dengan wajah memerah.
Tak tega melihat pemandangan itu, Noel ikut membantu. Dia mengambil makanan di atas nampan dan mengangkatnya. “Siapa yang pesen sosis?” tanyanya ke pelayan yang baru saja lewat.
“Meja nomor dua, Mas.”
Noel mengedarkan pandangan. Tepat sasaran karena meja nomor dua diduduki Revila. Semesta sepertinya selalu membuat Noel dan Revila bersinggungan. Tanpa buang waktu Noel langsung mengantar menu itu. “Silakan.”
Revila yang sibuk dengan laptop mengangkat wajah. Dia melihat Noel yang meletakkan makanan yang baru saja dia pesan. “Makasih.”
Manis bener, dalam hati Noel menilai. Dia barusan melihat senyum tipis Revila. Dia baru sadar jika gadis itu memiliki lesung pipi. Namun sepertinya si lesung pipi itu malu-malu hingga muncul saat bibir itu membentuk senyuman. “Sama-sama,” jawab Noel lalu berbalik.
Jika, kafe sedang ramai, tentu Noel akan menemani gadis itu. Dia janji tidak akan mengeluarkan suara. Cukup diberi izin menatap gadis itu maka Noel akan betah berlama-lama.
“Meja sepuluh, Mas.”
Noel mengambil nampan satunya lalu mengantar ke meja sepuluh. Sambil melangkah dia melirik ke Revila. Gadis itu masih fokus dengan laptop dan belum mencoba makanan pesanannya.
“Silakan,” kata Noel sambil meletakkan sepiring spageti ke meja sepuluh. Setelah itu Noel kembali meja kasir.
Bolak-balik mengantar pesanan seperti ini ternyata cukup melelahkan. Jika semua bos mau merasakan bagaimana menjadi pelayan, mungkin tidak akan ada bos yang sangat jahat kepada bawahan.
“Meja nomor lima belas, Mas.”
Kembali Noel mengangkat nampan dengan sepiring nasi goreng. Saat melangkah menuju meja yang dituju dia melihat seorang lelaki mendekat ke Revila. Lelaki itu terlihat berbicara sambil mengacak rambut. Lalu yang membuat Noel kaget, lelaki itu memeluk Revila dengan erat.
Sialan!