Di tengah membuat laporan, Revila dikejutkan dengan kehadiran seseorang. Lelaki yang selalu telat janjian. Revila mengangkat wajah dan kaget melihat raut Lory. “Kenapa muka lo?”
Lory membuang napas panjang lalu mengacak rambut. “Cewek gue nyebelin, Rev.”
“Kenapa lagi?” Revila bosan dengan bahasan cewek Lory. Ngambeklah, cemburulah dan sejenisnya.
“Gue habis putus,” kata Lory lemah.
Revila tersentak kaget, lalu diam-diam tampak biasa saja. Gadis itu lalu menjawab. “Bagus dong. Lo bisa fokus kuliah.”
“Kok lo ngomong gitu, sih?”
“Lah, gimana? Secara kerja kelompok kita berantakan gara-gara urusan pacar,” jelas Revila apa-adanya. Dia sama sekali tidak keberatan kalau Lory itu pergi dengan pacarnya. Namun, baiknya tahu waktu. Jika kerja kelompok ya kerja kelompok. Bukan malah menghilang demi nemenin pacar.
“Revi!” Dengan cepat Lory langsung memeluk Revila erat. Lelaki itu sedang butuh teman curhat, malah Revila seperti acuh tak acuh kepadanya.
“Eh apaan sih lo peluk-peluk!” kata Revila tak suka. Dia memukul lengan Lory tapi lelaki itu tidak kunjung melepas pelukan itu.
“Bentar, Rev. Meski cowok gue butuh tempat bersandar.”
Modus! Revila memutar bola matanya malas. Gadis itu terus memberontak tapi pelukan Lory semakin erat. Revila menebak. kerja kelompok kali ini pasti tidak bekerja dengan baik. Karena tentu saja hati Lory yang sedang galau.
“Ehm. Maaf sebaiknya jangan berpelukan di sini.”
Suara itu membuat Lory segera melepas pelukannya. Dia menatap lelaki berkaus pendek itu dengan saksama. Sepertinya dia pernah melihat lelaki itu. Lalu Lory mulai ingat. “Lo yang di mal itu, kan?”
Noel melirik Revila yang terlihat menghela napas panjang. Setelah itu tatapannya tertuju ke lelaki di depannya. “Ya. Jangan bermesraan di sini,” kata Noel lalu menjauh.
Lory mendengus lalu duduk di samping Revila. “Tuh cowok siapa sih kok ngelarang gue?” tanyanya. “Gue kan nggak mesra-mesraan sama lo.”
Revila geleng-geleng. Menurut Lory itu memang bukan bermesraan tapi menurut orang yang melihat jelas berbeda. Revila lalu menatap Lory dengan tajam. “Mending lo lupain masalah lo. Sekarang mana keperluan buat kerja kelompok?” tanya Revila lebih memilih membahas masalah tugas.
Mendengar itu Lory menepuk kening. Dari semalam dia sibuk membujuk sang pacar hingga lupa dengan tugasnya. “Gue belum nyari.”
Kedua tangan Revila mengusap wajah. “Lo tahu nggak gue ngerjain itu sendirian. Lo yang cuma gue suruh cari bahan aja susah banget.”
“Gue beneran lupa, Rev.”
“Sibuk sama pacar lo, kan?” tanya Revila lalu buru-buru meralat. “Mantan lo maksud gue.”
Diingatkan dengan mantan, Lory mengacak rambut dengan frustrasi. “Bentar lagi deh gue cari. Terus gue anter ke rumah lo.”
Revila mengangguk. Bagus jika Lory mau bertanggung jawab dengan tugasnya. “Dan lagi, lo telat lagi satu jam dari janjian.”
Sontak Lory melihat arlojinya. Dia tidak sadar telat satu jam. “Iya-iya, sorry.”
“Mending sekarang lo bantuin bikin laporan. Maketnya emang belum jadi sepenuhnya, tapi cukuplah buat laporan,” kata Revila sambil menggeser laptop ke arah Lory.
Lory mengangguk, merasa jika dia sibuk maka lupa dengan sang mantan. Lelaki membaca laporan yang dikerjakan Revila, lalu mulai menambahi.
Sekarang Revila bisa bersantai. Dia mengambil sosisnya dan mulai memakan. Jujur perutnya dari tadi sangat lapar. Namun, tekad untuk menyelesaikan laporan jauh lebih besar.
“Rev. Dee emang ke mana, sih?” tanya Lory sambil membuka desain yang pernah dia buat.
Revila mengangkat bahu pelan. “Gue nggak tahu. Sibuk sama suaminya, kali.”
“Ck. Tuh anak ngurusin suami mulu.”
“Sama kayak lo ngurusin pacar mulu.”
Mendengar itu Lory tersenyum kecut. Revila sekalinya berbicara di luar topik tugas langsung berucap pedas.
“Oh ya lo mau pesan apa?” tanya Revila ingat Lory belum sempat memesan makanan.
Lory terdiam sejenak lalu menatap Revila. “Spageti oglio olio, deh.”
Revila berdiri lalu melangkah menuju kasir. Memesankan makannan untuk teman sekelompoknya yang mumpung rajin itu.
Dari arah meja Lory memperhatikan Revila. Sebenarnya gadis itu asyik tapi terlalu pendiam. Gadis itu juga perhatian. Lory tersenyum lalu melanjutkan pekerjaannya.
Di depan kasir, Revila berhadapan dengan Noel. Tidak tahu kenapa wajah lelaki itu terlihat suntuk. Tidak seperti sebelumnya yang terlihat berbinar dan penuh godaan.
“Mau pesan apa, Rev?” tanya Noel sambil menatap wajah Revila.
“Spageti oglio olio sama jus jeruk.”
Noel memencet ke mesin kasir hingga struk itu keluar. Dia lalu mengambil uang yang disodorkan Revila. “Dia sekarang pacar lo, ya?” tanya Noel sambil sibuk mencari uang kembalian.
Satu alis Revila terangkat, tidak mengerti pertanyaan lelaki di depannya. “Pacar?”
“Cowok yang meluk lo,” jawab Noel sambil mengulurkan uang kembalian. “Gue masih inget dia punya pacar. Tapi sekarang udah jadi pacar lo, ya?”
Mendengar kalimat itu Revila terkekeh pelan. Entahlah menurutnya lucu saja. Kenapa juga Noel terkesan kepo? “Apaan sih lo,” jawabnya lalu kembali ke mejanya.
Noel membuang napas panjang. Dia penasaran dengan hubungan Revila dan lelaki itu. Noel menebak, lelaki itu menyimpan rasa ke Revila.
“Kok gue jadi kepo sih!” geram Noel ke dirinya sendiri. Lelaki itu menyugar rambut lalu mencoba menghilangkan sesuatu yang mengganjal hatinya.
***
Motor ninja hitam itu berhenti di depan gerbang hijau lumut. Gadis yang dibonceng turun lalu merapikan rambunya yang berantakan. Setelah itu dia mengusap punggungnya yang pegal karena terus membungkuk.
“Kenapa?” tanya Lory lalu terkekeh pelan.
“Gue nggak mau lo bonceng lagi. Punggung gue pegel,” jawab Revila apa adanya.
“Kan, lo bisa pegangan ke gue.”
“Modus!”
Lory terkekeh pelan. Lelaki itu memperhatikan wajah Revila yang memerah karena terkena ganasnya sinar matahari. Namun, kemerahan itu membuat Revila terlihat cantik dan menggemaskan.
Mendapati Lory tidak kunjung pergi, Revila menepuk pundak lelaki itu. “Lo bengong?”
“Eh enggak kok.”
Buru-buru Lory mengalihkan pandang. Dia lalu menatap Revila sekali lagi. “Kalau udah dapet bahannya gue langsung ke tempat lo ya.”
Revila membuang napas pelan. Sejak meninggalkan kafe, di perjalanan dan barusan, Lory mengulang-ulang kalimatnya.
“Iya-iya. Udah deh cepet lo cari.” Setelah mengucapkan itu Revila berjalan menuju gerbang. Dia berdiri di sana melihat Lory yang mulai menyalakan mesin motor. Lelaki itu melambai lalu pergi menjauh. Selepas kepergian Lory, Revila masuk rumah. Baru saja dia membuka pagar, langsung dikejutkan dengan kehadiran Rena.
“Ciee. Dianter cowok cieee,” kata Rena.
Revila tak menjawab. Dia memilih melanjutkan langkah daripada meladeni adiknya itu. Tentu tadi adiknya nguping.
“Kak. Cowok tadi siapa, sih? Kenapa nggak diajak masuk dulu?”
Rena mengekor kakaknya yang masuk ke kamar. Gadis itu langsung duduk di pinggir ranjang memperhatikan kakaknya yang memulai membuat maket itu. “Kak,” panggil Rena kala tidak kunjung mendapat jawaban.
“Bukan siapa-siapa.”
“Tumben loh kakak dianter cowok.”
Mendengar Rena yang terus berisik, Revila terpaksa menoleh. Dia menatap adiknya lelah. “Tadi kan lo bawa motor gue. Jadi gue naik ojol. Pas pulang dia ngajak bareng. Ya udah gue terima aja.”
Mendengar penjelasan itu Rena manggut-manggut. “Tapi, Kak kok tumben lo mau dianter? Pasti dia spesial, ya?”
Lima detik kemudian Rena melanjutkan. “Jangan-jangan yang ngasih buku kemarin cowok itu, ya?”
Revila yang fokus menempel bentuk kursi seketika kehilangan konsentrasi. Dia menatap adiknya dengan tajam. Membuat Rena nyengir tak jelas, sadar telah membuat kakaknya itu terganggu.
“Dia nanti mau ke sini nganter bahan buat maket. Jadi tadi sekalian nganter biar tahu rumah gue di mana,” jawab Revila. “Soal buku bukan dari cowok itu. Udah ya, Ren gue mau lanjut nugas.”
Kalimat terakhir Revila membuat Rena langsung bungkam. Gadis itu tanpa sepatah kata keluar dari kamar kakaknya.
Selepas kepergian Rena, Revila menggeleng pelan. Dia merasa terlalu jahat ke adiknya. Namun, mau bagaimana lagi, dia kehilangan konsentrasi karena kekepoan Rena.
Tring!
Dering ponsel itu tiba-tiba terdengar. Revila mengambil tote bag-nya dan mengambil benda itu. Dia melihat nama Lory muncul. “Halo.”
“Rev. Gue lupa butuh warna apa aja.”
Mendengar itu Revila menepuk kening. Lory tidak jauh beda dengan Rena, pelupa. Padahal lelaki itu tadi berkutat dengan desain yang dibuat.
“Warna cokelat muda. Atau krem.”
“Oh ya, ya gue sekarang inget.”
“Terus apa lagi?” tanya Revila daripada nanti Lory menghubunginya karena lupa sesuatu.
“Emm. Lo nggak sekalian pesen makanan?”
Satu alis Revila terangkat. Lelaki ini bahas apa sih? Atau jangan-jangan pertanyaan barusan yang menjadi topik utamanya. “Ry. Gue kan baru aja makan. Udah ya kalau barangnya udah dapet langsung lo anter.”
“Oke.” Sambungan lalu diputus secara sepihak.
Revila meletakkan ponsel di atas tas lalu fokus mengerjakan maketnya. Karena putus cinta Lory jadi aneh. Sejak kapan Lory mendadak baik dengan menawarkan makanan?
***
Pagi ini Revila janjian lagi dengan dua teman kelompoknya. Semalam semua sudah sepakat untuk mengerjakan maket di gazebo depan gedung perkuliahan. Bisa ditebak, Revila datang lebih dulu sambil membawa maket. Sambil menunggu temannya, gadis itu sibuk dengan lem dan mulai menempel miniatur yang diperlukan.
“Rev..”
Suara sesenggukan itu membuat Revila menoleh. Lima langkah darinya Dee berdiri sambil mengucek mata. Mata Dee terlihat merah dan sedikit bengkak.
“Kenapa?” tanya Revila panik.
Dee mendekat lalu duduk di hadapan Revila. Kedua tangan Dee menutup wajah lalu dia menangis sesenggukan. “Kemarin gue lihat suami gue jalan sama cewek lain.”
Kali ini Revila tak marah dengan cerita Dee. Dia justru kasihan atas apa yang menimpa Dee. “Lo yakin? Mungkin cewek itu temen sekantor suami lo.”
Perlahan Dee mengangkat wajah. Dia menatap Revila dengan bibir bawah tertarik ke depan. “Masa kalau temen sekantor peluk-peluk, sih? Di tempat umum lagi.”
Revila mengusap belakang telinga. Dia bingung harus menjawab apa. Dia saja minim pengetahuan soal asmara. “Mungkin mereka habis menang tender. Lalu pelukan sebagai ungkapan rasa senang.”
Dee menggeleng tegas. “Gue lihatnya mereka mesra-mesraan, Rev.”
“Terus lo udah tanya ke suami lo?”
“Suami gue aja semalem nggak pulang.”
Haduh! dalam hati Revila mengeluh. Jika, kasusnya seperti ini maka Dee semakin yakin kalau sang suami memang selingkuh. Sebagai bentuk kepedulian, Revila memajukan tubuh lalu mengusap pundak Dee menenangkan. “Berdoa aja semoga apa yang lo khawatirkan nggak kejadian.”
Dee manggut-manggut tapi tetap saja di pikirannya sibuk menduga jika sang suami selingkuh. “Gue emang kurang cantik apa sih, Rev? Apa gue kurang perhatian? Perasaan, dia selalu gue utamain,” jelas Dee. “Bahkan gue sering mangkir tugas kelompok demi nemenin suami gue.”
Revila manggut-manggut, paham selama ini Dee sering mementingkan sang suami daripada kewajibannya sendiri.
Lalu hening.
Dua orang itu tampak menunduk dengan pikiran masing-masing. Revila sibuk memikirkan maketnya sedangkan Dee sibuk memikirkan suaminya. Dee sedang menyusun strategi agar semua rahasia suaminya itu terungkap.
“Rev, lo mau nggak bantuin gue?”
Pertanyaan itu membuat Revila tersentak. Dia mengangkat wajah melihat Dee yang menatapnya penuh permohonan.
“Apa?”
Dee menarik napas panjang. Dia sebenarnya tidak yakin dengan strategi ini. Namun, inilah satu-satunya cara agar tahu kelakukan sang suami di luar sana.
“Lo coba rayu suami gue.”