“Lo coba rayu suami gue.”
Bola mata Revila membesar, terlihat hampir mau copot. Gadis itu tidak percaya mendengar permintaan konyol itu. Iya konyol, mana ada seorang istri meminta gadis lain untuk merayu sang suami? Ayolah Revila tidak pernah mendengar permintaan itu. Apalagi permintaan itu ditujukan kepadanya. Ya benar saja.
Revila menggeleng tegas, menolak permintaan gila itu. “Lo harus berpikir jernih.”
Dee tidak setuju. Baginya itu satu-satunya cara untuk mengetahui tabiat sang suami. Lagi pula Dee percaya Revila tidak akan macam-macam ke suaminya. “Rev bantuin. Biar tahu suami gue di luar sana kayak gimana,” mohonnya sambil menangkupkan kedua tangan di depan d**a.
“Enggak!”
“Ayolah.”
Mata Revila tertuju ke manik mata Dee. Dia melihat ada kesungguhan di mata itu. Dia kaget ide gila itu benar-benar terpikir oleh Dee. Namun, Revila tidak mau ikut-ikutan gila. Merayu suami? Hah, dia seperti pelakor saja.
“Gue nggak mau,” jawab Revila final.
Sepertinya Dee tidak mau menyerah begitu saja. Dia menarik tangan Revila dan meletakkan di kening. Dee menunduk lalu mulai terisak pelan. “Gue bahkan baru nikah enam bulan yang lalu, Rev. Gue takut pernikahan gue gagal gara-gara gue nggak bisa mertahanin suami gue,” jelasnya. “Kalau gue bertindak sendiri suami gue pasti selalu pasang senyum manis.”
Revila menarik tangan dari genggaman Dee. Namun, Dee dengan cepat menggenggam tangan mulus itu.
“Rev, please. Lo cukup ajak suami gue jalan terus lo korek informasi dari suami gue,” pinta Dee.
Lagi-lagi Revila menarik tangannya. Hasilnyapun selalu sama, Dee dengan cepat menggenggam tangan itu, bahkan begitu erat sampai Revila meringis kesakitan.
“Dee. Lo tahu kan ini berisiko,” kata Revila dengan suara pelan.
Perlahan Dee mengangkat wajah sedangkan tangannya tetap menggenggam tangan Revila. Dee mengangguk paham, ini memang berisiko. Namun, menurutnya ini satu-satunya cara. “Apa lo ada ide?” tanyanya. “Gue nggak bisa kalau cuma tanya doang ke suami gue. Jelas dia pasti bohong.”
Revila menarik napas panjang. Bahkan Dee belum mencoba sudah berpikiran buruk dulu. “Kalau suami lo tahu lo nyuruh gue buat ngerayu dia, nggak nutup kemungkinan suami lo makin marah sama lo. Dia jadi nggak percaya sama lo.”
“Salah sendiri kenapa nggak jujur.”
Dee tetap keras kepala. Baginya sang suami selalu berbohong. Jika seperti ini terus, Dee butuh sebuah tindakan. Dan ide itulah yang tercetus. “Rev. Please.” Dee kembali memohon. “Lo coba pikir dulu. Kalau udah kita tinggal nentuin rencana.”
Revila diam saja. Dia lalu menarik tangannya dan tidak lagi ditahan oleh Dee. Dia lalu fokus dengan maket di depannya. Dalam hati sebenarnya dia ingin mengungkapkan penolakan. Hanya saja dia tidak tega melihat Dee. Temannya itu sekarang sudah frustrasi, jika langsung ditolak Revila tidak sanggup melihatnya.
Besok gue bakal ngomong jujur ke Dee.
***
Sepulang dari kampus kepala Revila terasa pening. Perpaduan antara lapar dan kesal sendiri mendengarkan curhatan dua temannya. Seperti kerja kelompok sebelumnya, Dee dan Lory lebih banyak curhat. Jika kemarin Lory masih bisa fokus mengerjakan, tadi sama sekali tidak. Karena sibuk curhat dengan Dee. Membicarakan mantan pacar dan suami yang selingkuh. Hanya Revila yang benar-benar fokus dengan maketnya.
“Hai. Kok wajahnya suntuk gitu?”
Revila menoleh. Dari arah samping Noel berjalan dengan satu tangan di masukkan ke saku.
“Enggak,” jawab Revila lalu berjalan masuk.
Gadis berkemeja putih dengan rok hitam selutut itu langsung menuju kasir. Sedangkan Noel berdiri di dekat pintu masuk, memperhatikan Revila yang tidak bersemangat itu.
Usai memesan, Revila memilih tempat duduk di bagian tengah. Dia langsung menyandarkan kepalanya di sandaran tempat duduk. Kedua ibu jarinya lalu memijit pelipis.
“Panas banget ya di luar?”
Noel mendekat lalu duduk di hadapan Revila. Gadis itu diam saja, tidak menunjukkan ekspresi terganggu atau semacamnya. “Mau air mineral sambil nunggu pesanan lo dateng?”
Revila menegakkan tubuh lalu menggeleng pelan. “Gue udah minum kok.”
Respons Noel hanya manggut-manggut. Dia memperhatikan Revila yang lagi-lagi memijit pelipis itu. “Lo sakit?”
Sontak Revila menghentikan gerakannya. Dia melipat kedua tangannya di atas meja lalu menggeleng pelan.
“Ada masalah?” tebak Noel.
Revila diam, memperhatikan lelaki di depannya. Dia merasa lelaki itu supel dan pasti sering berinteraksi dengan wanita. Revila penasaran mengapa suami Dee sampai selingkuh padahal sang istri sangat cantik. Hanya suara Dee saja yang sangat cempreng. “Menurut lo cowok bisa selingkuh itu karena apa, sih?”
Pertanyaan itu membuat Noel mengernyit. Dia menatap Revila saksama. Selama lebih dari sepuluh detik mereka hanya saling berpandangan. Sebelum Noel mengalihkan pandang lebih dulu. “Lo habis diselingkuhin?” Noel malah kembali tanya.
“Silakan.” Pelayan berseragam biru muda datang membawakan pesanan.
Revila segera mengambil jus alpukatnya dan menyeruputnya pelan. Setelah itu dia kembali fokus menatap Noel. “Udah jawab aja.”
Noel mengangkat bahu. Menurutnya tidak begitu penting juga tahu Revila diselingkuhi atau tidak. “Bisa jadi bosen. Atau tuh cewek bikin nggak nyaman. Kira-kira kayak gitu. Soalnya gue nggak pernah selingkuh.”
Revila manggut-manggut. Dia harus tanya kegiatan Dee di rumah apa aja sampai sang suami mungkiin merasa bosan dan tidak nyaman. “Kalau alasan lain selain itu?”
Bibir Noel tertarik ke arah kiri, lalu alisnya sedikit menukik. Dia tampak berpikir mencari jawaban lain. “Emang dasar cowoknya.”
“Jadi karena tuh cowok emang selingkuh?” tebak Revila. Dia menyantap nasi dengan ayam krispi sambil kembali mengajukan pertanyaan. “Cowok suka selingkuh itu biar apa, sih? Biar keren?” tanyanya.
Lama-lama Noel bingung mencari jawaban. Dia memang lelaki tapi tidak pernah selingkuh dan tidak pernah mencari tahu alasan seorang lelaki selingkuh. Tak lama Noel ingat dengan Moren, sang sahabat yang suka gonta-ganti pasangan. “Kalau temen gue sering gonta-ganti cewek karena dia pernah disakitin. Makanya dia kayak balas dendam gitu. Menurutnya semakin banyak cewek yang takhuk semakin membuat puas dan sedikit ngelupain patah hatinya.”
Revila terdiam. Dia pernah membaca novel di mana tokoh lelaki suka gonta-ganti pasangan dan menyakiti wanita. Alasannya sama seperti yang diucapkan Noel, karena sakit hati.
“Emang kenapa sih lo tanya-tanya gitu?” tanya Noel setelah tidak ada yang bersuara.
Hening.
Gadis dengan make up tipis itu hanya terdiam. Dia ingat permintaan Dee tadi siang. Dia senang kalau bisa membantu temannya. Namun, jika urusannya seperti ini, jelas itu lain cerita.
“Temen gue diselingkuhin sama suaminya.” Akhirnya Revila memilih menjawab. Dia butuh seseorang yang bisa diajak diskusi. Kebetulan atau apa, hanya Noel yang ada saat ini.
“Oh. Temen lo waktu di mal bukan?” tebak Noel. Dia ingat dengan wanita yang memberikan nomor Revila kepadanya.
“Iya itu. Suaminya selingkuh.”
“Mungkin dandanan temen lo terlalu menor.”
Kalimat Noel membuat kening Revila mengernyit. Gadis itu tampak yakin. “Apa bisa?”
Melihat tampan lucu Revila: kening mengernyit dengan tatapan polos, membuat Noel terbahak. Lelaki itu tidak percaya kalau Revila sepolos ini. “Gue bercanda, Rev. Kenapa dianggap serius sih? Haha.” Noel lalu terbahak.
Seketika Revila mengubah raut wajahnya. Dia kira itu serius, ternyata tidak. Gadis itu lalu melanjutkan makan siangnya, tidak meladeni Noel yang masih saja tertawa.
“Sorry. Nggak lucu, ya?” tanya Noel setelah tawanya reda. Dia bertopang dagu memperhatikan gadis yang sibuk menyantap ayam krispi itu.
“Gue kan lagi serius. Ngapain bercanda?” Revila menyudahi makan siangnya. Dia segera menegak jus alpukat dan meminumnya hingga tandas.
Noel tersenyum melihat makanan yang dipesan Revila habis. “Gue senang kalau pengunjung habisin makanannya.”
“Makanan itu rezki. Jadi jangan disia-siain.”
Kalimat itu membuat Noel menjentikkan jari. “Kadang ada pengunjung yang cuma icip-icip doang. Pas ditanya mereka alasan makannya cuma sedikit. Padahal kalau mereka bilang, pasti porsinya dikurangi. Jelas harganyapun pasti dikurangi.”
“Kenapa harga lo kurangi juga?” tanya Revila. Dia pernah membeli makanan dengan porsi kecil tapi tetap saja harganya dengan porsi normal.
“Nggak adil aja kalau mereka tetep bayar mahal.”
“Strategi marketing?”
Kepala Noel bergerak ke kiri dan ke kanan. Bukan soal strategi, bukan juga mencari nilai plus di mata pelanggan. “Dulu kakek nenek gue hidup susah. Mereka sering beli makanan setengah porsi, harganya lumayan miring,” ceritanya. “Lalu pernah mereka beli di salah satu warung porsi setengah, tapi dihargai harga normal. Kakek nenek gue seketika ganti dong. Pilih porsi normal aja, tapi malah dimarahin dikirain ngerjain pembeli.”
Revila mengangguk mengerti. Inilah yang dinamakan hidup itu tentang belajar. Kedua kakek dan nenek Noel belajar tentang sebuah harga makanan setengah porsi. Lalu mereka tidak ingin orang lain bernasib sama hingga memberikan harga khusus ketika ada yang memesan setengah porsi.
“Balik ke topik tadi. Kenapa sih lo kok penasaran banget sama suami temen lo yang udah nikah itu?” tanya Noel. Dia menebak kalau Revila sibuk memikirkan itu.
Perlahan Revila membuang napas panjang. “Gue dimiinta temen gue ngerayu suaminya.”
“Gila!” Mendengar itu Noel tidak sadar berteriak. Dia segera menunduk meminta maaf ke pengunjung yang menatapnya tampak terganggu. “Gila. Temen lo waras, tuh?” tanya Noel dengan suara pelan.
“Gue juga kaget pas denger itu. Kayaknya dia frustrasi banget.”
“Terus lo terima?”
Revila terdiam. Dia mengangkat tangannya menghadap ke atas. “Gue nggak mau. Tapi gue belum ngomong ke dia.”
Noel seolah paham apa yang dirasakan Revila, bimbang. “Saran gue mending lo cepet ngomong ke temen lo. Bagaimanapun nama baik lo taruhannya. Kalau ada yang tahu, lo bakal dicap....” Noel sengaja tak melanjutkan kalimatnya.
“Iya gue tahu.” Sekarang Revila sedikit tenang dan tidak sebingung tadi. Ternyata berdiskusi dengan Noel cukup seru. Terlebih lelaki itu mau berkompromi dengan tidak banyak bercanda.
***
Setelah perut kenyang dan sedikit beristirahat di kafe, tubuh Revila kembali bugar. Gadis itu melesat ke toko buku mencari buku referensi untuk laporannya. Mumpung hari Minggu, dia ingin mencari buku baru. Karena esok hari pasti dia sibuk dengan janjian bertemu dosen dan melanjutkan membuat maket. Kini maket itu berpindah tangan ke Lory, giliran lelaki itu yang mengerjakan.
Dua buku desain interior sudah di tangan. Revila berjalan sambil mengedarkan pandangan ke buku-buku yang ditumpuk. Lalu pandangannya tertuju ke buku kreasi menu. Tanpa bisa dicegah, tangannya mengambil buku itu.
Revila langsung ingat saat mencoba martabak manis buatan Noel di kafe. Rasanya memang enak, tapi tetap saja penampilan pasti yang dilihat pertama. Revila tersenyum, sepertinya dia akan membeli buku ini sekalian. Sebagai ucapan terima kasih karena lelaki itu pernah membelikannya buku dan diskusi singkat tadi siang.
Akhirnya Revila membawa tiga buku itu ke kasir. Dia terdiam, memikirkan kapan buku itu akan dia berikan. Kenapa nggak sekalian mampir? Toh satu arah.
“Totalnya tiga ratus ribu, Kak.”
Revila tersentak. Dia mengambil kartu debit dan menyerahkan kartu biru itu ke petugas kasir.
Sejam kemudian Revila sampai di kafe. Dia masuk dengan buku masakan di tangan kanan. Dia mengedarkan pandangan, mencari lelaki berkaus oversize tadi. Namun, sejauh mata memandang, Revila tak mendapati lelaki itu.
“Ada yang bisa saya bantu, Kak?” pelayan lelaki dengan kumis tipis berdiri di depan Revila.
“Emm. Cowok yang....” Revila menggaruk belakang telinga. Dia lupa dengan nama lelaki itu, atau bahkan dia tidak tahu nama lelaki itu.
“Mas Noel maksudnya? Kalau Mas Noel ada di halaman samping,” kata pelayan itu lalu berjalan mengantarkan pesanan.
Revila segera berjalan ke halaman samping. Dari jauh dia melihat Noel sedang bercanda lalu memeluk gadis berambut panjang. Mereka kayaknya pacaran. Perlahan Revila berjalan mundur. Dia mendekap buku yang akan diberikan ke Noel dengan erat. Entahlah, mengapa dia buru-buru pergi dan sedikit kecewa.