Wala dan Ambara sama-sama terpaku dan saling menatap, tanpa berbicara sepatah katapun. Ikatan batin seakan semakin kuat, bergejolak di hati mereka masing-masing. "Hei! Siapa bocah ini? Kenapa dia lancang sekali, menabrak Tuan Wala?" Jaya yang sedari tadi ada mendampingi Wala, seketika menyela dan merasa tidak senang dengan kehadiran Ambara di sana, apalagi kejadian itu sontak menjadi pusat perhatian para pengunjung. "Dimana orang tuamu? Mengapa anak kecil sepertimu, dibiarkan berkeliaran di sini, hah!?" Dengan sedikit kasar, Jaya menarik tangan Ambara, mencoba menjauhkannya dari Wala. "Hentikan, Jaya! Anak ini tidak bersalah, kau jangan berani mengusirnya!" Membalas dengan cara yang sama, Wala langsung menepis tangan Jaya. Dia justru menjadi marah, sebab Jaya bersikap kasar terhadap s

