"Eh, Nurul. Kamu sama siapa? Sendirian aja?" Alfi mencoba untuk bersikap biasa saja. Meskipun sebenarnya jantungnya sudah seperti mau copot. Ternyata itu suara Nurul. Teman kuliah Dania yang ternyata adalah sepupunya Ratih.
"Aku sama Indra sih, dia masih di toilet. Hayo ... Kamu sama siapa Al? Jangan macam-macam ya di belakang sepupuku?"
Mata Nurul sudah melotot mengamati Dania. Dania makin panik, dia tidak mungkin membiarkan rambutnya ke depan terus seperti itu. Namun, bagaimana reaksi Nurul kalau sampai dia tahu bahwa perempuan itu adalah Dania.
Akhirnya Dania ingat, Dia memiliki masker di saku celananya. Dania buru-buru mengambil masker itu dan segera memakainya.
"Eh, Nggak mungkin macam-macam lah. Aku sama sepupu aku dari Malang, kebetulan dia pas main ke Surabaya jadi aku ajak dia jalan-jalan. Iya, begitu. Jangan curiga gitu ah, nggak baik," ucap Alfi yang terdengar lancar sekali.
Saat itu Alfi dan Dania segera turun dari crazy car. Nurul mengamati betul-betul perempuan yang bersama Alfi. Dia sama sekali tidak yakin bahwa perempuan itu adalah sepupu Alfi.
"Masa sih? Kenapa kamu harus memakai masker begitu?" Ucap Nurul sambil mengamati Dania.
"Saya agak flu, mbak. Jadi harus pakai masker."
"Oh ya perkenalkan, ini sepupuku, Dan ... "
"Danda. Namaku Danda." Dania buru-buru memotong ucapan Alfi dan segera mengulurkan tangannya. Untung saja Alfi belum sempat untuk menyebutkan nama Dania. Kalau sampai Sudah terucap, pasti Nurul akan curiga bahwa itu adalah dunia yang dikenal.
"Oh, hai aku Nurul. Sepupu dari istrinya Alfi. Aku harap kamu benar-benar sepupunya Alfi, kalau sampai kalian ada sesuatu, awas aja ya," ucap Nurul sambil menatap Dania dan Alfi bergantian dengan dengan tatapan yang sepertinya penuh kebencian.
Dania mengelus d**a dan membuang nafas lega Setelah dia melihat menurut pergi meninggalkan mereka.
"Akhirnya Dia pergi juga. Jantungku rasanya mau lompat. Ternyata Nurul sepupu Ratih?"
"Kamu kenal dia?"
"Iya. Nurul itu tetangga desaku dan teman kuliah dulu. Tapi aku sudah agak lupa karena jarang Bertemu."
"Iyalah kamu agak lupa. Dia kan sudah lama tinggal di luar negeri. Baru 1 tahun terakhir ini aja dia pulang. Pantas saja Kamu akhirnya makai masker."
"Ternyata begini ya mas rasanya kepergok berdua dengan suami orang. Ah, seluruh tubuh rasanya lemas seperti tanpa tulang."
Alfi menatap Dania, awalnya dia memang berusaha untuk membuat wanita itu menjadi wanita yang percaya diri dan tidak insecure lagi. Alfi memang menyukai denia, namun dia juga punya tujuan baik untuk menjadikannya wanita yang merasa dirinya berharga. Wanita yang layak dicintai.
"Dan, maafkan aku ya."
"Maaf untuk apa?"
"Maaf karena aku nyaman dekat denganmu. Maafkan aku selalu merindukanmu dan ingin selalu berdua. Aku tahu ini salah, tetapi setelah kamu memelukku Saat hujan itu, aku benar-benar tidak bisa menghilangkan kamu dari ingatanku. Aku tidak bisa tidur setiap malam."
"Bukan mas yang salah. Tapi aku. Aku yang tidak tahu diri menyukai Suami sahabatku sendiri."
Mereka berdua saling tatap. Seolah tidak ada yang memandang mereka. Mereka tidak peduli. Ya, kadang orang dewasa yang sedang jatuh cinta noraknya melebihi cintanya remaja.
"Aku tahu cinta ini sebuah kesalahan. Tapi aku berharap, saat ini kita bisa menikmati apa yang menjadi pilihan kita. Kita sudah terlanjur memilih pilihan ini. Aku sudah siap dengan segala resikonya."
Dania menatap mata Alfi. Mungkin bagi orang lain, kata-kata Alfi hanyalah sebuah gombalan semata. Namun tidak bagi Dania. Menurut wanita itu, setiap kata yang terucap dari bibir tipis lelaki itu, selalu berhasil membuat hatinya bergetar dan membuat dia percaya. Ya, dia percaya Alvi begitu menyayanginya dan membuat dia merasa berharga.
"Aku tahu, kita akan terus bermain kucing-kucingan seperti ini. Entah sampai kapan, tapi aku senang berada di dekat Mas Alfi. Aku bahagia ada yang selalu memperhatikanku dan menganggapku istimewa."
Mata Dania berkaca-kaca. Mereka masih berada di dekat wahana crazy car. Satu dua orang melewati mereka dan memandang mereka yang saling bertatap bak adegan yang ada di drama Korea. Mungkin beberapa begidik jijik melihat dua orang dewasa yang saling bertatap seperti itu. Orang bilang, kadang jatuh cinta bisa membuat urat malu seseorang menjadi putus. Ya, kiranya begitulah adanya yang terjadi pada Dania dan Alfi.
"Hey, kita disini untuk bersenang-senang. Karena kita sudah bermain yang membuat tegang, sekarang kita menuju ke pantai yuk?"
"Ngapain?"
"Ini beneran kamu bertanya, di pantai mau ngapain?"
"Aku nggak suka laut."
"Mulai hari ini kamu akan suka," ucap Alfi sambil tersenyum lalu dia menggeret tangan Dania. Dan ia tidak bisa apa-apa selain pasrah.
Ya, mungkin ini alasan Alfi mendua. Dia ingin suasana yang berbeda. Dia ingin bermain-main dan melakukan hal yang seru, sesuatu yang tidak bisa dilakukan bersama Ratih. dia terlalu kaku dan selalu berpendirian teguh. Kalau dia tidak mau sesuatu, sampai kapanpun saya tidak akan mau melakukannya. Dia tidak akan goyah akan apapun.
Berbeda dengan Dania. Dia bisa mengikuti apa mau Alfi. Dia juga bisa membuat Alfi menjadi dirinya sendiri yang rame. Dan satu lagi, dan ia bisa membuat hati Alfi bergetar saat tangan Dania melingkar di tubuhnya, juga saat kepala Dania bersandar di bahunya. Hal yang tidak bisa ia rasakan kembali saat bersama Ratih.
Saat itu Alfi Terus berlari sambil menggandeng tangan Dania, dan membawa wanita itu menuju ke pantai. Ya, pantai itu tidak pernah sepi. Selalu padat pengunjung.
Saat mereka berjarak beberapa meter dari bibir pantai, tiba-tiba dania menghentikan langkahnya hingga membuat Alfi juga ikut terhenti.
"Kenapa Dan?"
"Kita di sini saja ya?"
Alfi melirik ke samping, ada ayunan tepat di samping mereka.
"O ... Kamu mau ayunan di sini? Main ayunan sambil main es krim?" Alfi meledek.
"Apa sih, Mas. Aku cuma ingin disini saja."
"Iya aku tahu, di sini sambil main ayunan kan? Ayo ... " afi kembali menarik tangan Dania dan mengajaknya main ayunan.
Mereka duduk di satu ayunan panjang. Dania duduk malu-malu sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, takut di pandang orang. Ya, begitulah orang insecure. Dia selalu merasa ada yang memandangnya, selalu ada yang memandang aneh pada dirinya. Padahal itu hanya ada dalam imajinasinya saja.
Saat itu, handphone Alfi berdering. Tapi segera mengambil handphone dari tas yang menyilang di dadanya. Foto istrinya bersama Dania berpendar di handphonenya. Tanpa pikir panjang, Alfi segera mengangkatnya.
"Mas, Sekarang kamu lagi di mana dan sama siapa?" Suara di seberang sana terdengar penuh emosi.
Air muka Alfi seketika berubah. Dia langsung menggigit jari telunjuknya. Pasti Nurul sudah mengadukannya pada Ratih.
"Siapa mas?" tanya Dania yang cukup jelas terdengar di handphone Ratih di seberang sana.