'Jika ada dosa termanis, mungkin inilah yang dimaksud. Aku menyukainya, menyukai setiap jengkal dari tubuhnya. Aku suka senyumnya, aku suka suara lembutnya dan aku suka cara dia memperlakukanku. Dia adalah gambaran sosok sempurna seorang laki-laki, yang selalu membuat wanitanya begitu merasa berharga. Apakah kamu juga melakukan hal ini ke Ratih, Mas? Ah, sepertinya tentu saja kau melakukannya. Dan memang dia yang berhak. Namun, izinkan aku merasakannya untuk saat ini. Izinkan aku menggenggam erat tanganmu, dan merasakan getar-getar cinta yang mulai menjalar ke seluruh tubuhku.'
Dania masih menatap Alfi. Tatapan penuh kekaguman, tatapan yang mengandung harapan agar dia bisa selamanya menatap mata indah itu. Meskipun Dania tahu, mungkin hanya 1% kemungkinan hal itu akan terjadi. Namun, seperti apa yang pernah diucapkan Alfi. Untuk apa memikirkan tentang nanti yang belum tentu terjadi. Lebih baik dinikmati saja apa yang dijalani sekarang.
"Masuk sekarang yuk?"
Ucapan Alfi membuat Dania melepaskan pandangan, lalu dia menunduk dan mengangguk.
Alfi dan Dania saling berpegangan tangan. Mereka masuk ke dalam area wisata dengan senyum yang mengembang di bibir masing-masing. Degup jantung yang tidak karuan berdetak di tubuh masing-masing. Ya, mereka seperti terlahir kembali menjadi sosok remaja yang kasmaran. Sehingga mereka melupakan status mereka yang sesungguhnya.
Setelah mereka menerima tiket, mereka segera masuk ke tempat wisata yang banyak sekali wahana di dalamnya. Entahlah, Alfi merasa kembali menjadi remaja yang ingin seru-seruan bersama Dania.
"Kita naik itu yuk?" Ucap Alfi sambil menunjuk salah satu wahana yang berhasil membuat orang jerit-jerit. Yaitu crazy car.
"Yang itu? Nggak mau. Semua yang naik jerit-jerit ketakutan. Pasti nggak seru."
"Justru mereka menjerit karena seru. Cobain deh. Nanti kamu bisa meneriakkan apapun yang ingin kamu teriakan."
"Berdua aja? Ngeri. di sana tadi ada wahana seperti itu tapi yang rame-rame."
"Jet coaster? Aku nggak mau rame-rame. Maunya sama kamu aja. Berdua. Mau?"
"Tapi ngeri mas. Nanti kita enggak jadi senang-senang malah takut."
"Dan, Sudah saatnya kamu mencoba hal-hal baru. Sudah saatnya juga kamu mencoba hal yang menantang. Karena hidup, mau tidak mau akan mengalami goncangan. Nah, tugas kita, bagaimana agar kita tetap bisa bahagia dan menyikapi dengan tenang goncangan yang datang itu. Sama seperti saat kita naik crazy car nanti."
Dania tertawa kecil. Bisa-bisanya makhluk ngangenin itu membuat analogi crazy car sama kehidupan.
"Kenapa tertawa?"
"Serius banget sih jelasinnya. Cuma naik crazy car doang."
"Mau?"
"Kalau itu bisa membuat mas Alfi senang, Ayo." Akhirnya Dania mengiyakan.
Ya, Alfi benar. Dania menyadari bahwa dia harus mencoba hal-hal baru, mencoba keluar dari zona nyamannya. Semua itu harus dimulai dari hal-hal kecil, bukan? Termasuk dimulai dengan menaiki crazy car ini.
Alfi tersenyum, tidak menyangka analogi kehidupan yang ia ciptakan mampu membuat Dania berubah pikiran. Alfi kembali menggenggam tangan Dania erat, lalu mengajaknya berlari kecil menuju ke tempat crazy car.
Crazy car adalah wahana seperti mobil mainan, nanti akan meluncur di lintasan di atas ketinggian seperti roller coaster. Crazy Car ini hanya bisa ditumpangi dua orang, jadi cocok sekali untuk pasangan yang ingin ber lebay-lebay.
Sampai di sana, masih ada beberapa remaja dan pasangan muda yang sedang antri. Sepertinya hanya Dania dan Alfi saja orang dewasa yang saat itu sedang ikut antri.
"Mas, aku malu. Remaja semua ini yang antri," bisik Dania di dekat telinga Alfi.
"Ish, jangan bisik-bisik, nanti aku jadi ... "
"Jadi apa?" tanya Dania polos.
Alfi tertawa. Ternyata perempuan yang ada dihadapannya itu hanya berumur banyak, pengalamannya belum ada. Itu yang membuat Alfi semakin gemas.
"Eh, udah giliran kita. Ayo."
"Mas, aku takut. Aku juga malu."
"Dan, ingat! Kita tak akan pernah tahu seperti apa Asyiknya sebelum kita mencoba. Ayo."
Akhirnya Dania mengangguk pasrah dan membiarkan tangannya di tarik lembut oleh Alfi. Mereka segera naik ke mobil-mobilan yang cukup dinaiki oleh 2 orang itu. Alfi berada di depan, dan Dania di belakang.
Alfi menoleh ke belakang. Dilihatnya Dania yang masih mematung sambil menunduk dan memejamkan mata. Terlihat sekali ia sedang ketakutan. Alfi mengulurkan tangannya, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Dania.
"Mas, kamu mau ngapain?" Wajah takut dania berubah menjadi wajah tegang.
"Jangan berpikir macam-macam. Ini mau memasangkan sabuk pengaman," ucap Alfi sambil terkekeh.
Alfi segera meraih sabuk pengaman itu dan segera memasangkannya. Saat itu, jarak antara wajah mereka memang sangat dekat. Yang membuat jantung masing-masing bergetar hebat, Getaran yang mengalahkan rasa takut akan ketinggian.
"Sudah. Jangan takut. Kamu pasti akan suka. Lagipula cuma 1 menit doang. Paling tidak, sekali seumur hidup kamu pernah melakukan hal yang menantang," ucap Alfi yang masih belum menarik wajahnya meskipun dia sudah selesai memasangkan belt.
"Mas, mau jalan sekarang atau lebaran nanti ini?"
Ah, Si mas petugas itu sama sekali nggak ngerti orang sedang menghayati momen romantis. Alfi segera menarik wajahnya dan kembali menghadap ke depan.
"Sudah, Mas. Jangan sewot, nanti tumbuh uban," ucap Alfi yang sengaja becanda untuk mengurangi rasa malunya.
Mas petugas itu hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala.
Crazy car itu perlahan meluncur melewati lintasan yang tinggi. Dania semakin memejamkan matanya.
"Dan, teriak aja! Bebas teriak di sini! Jangan tutup mata. Pemandangannya indah. Jangan takut, aku akan selalu ada di sini. Aaaaaa ... " ucap Alfi sambil berteriak kencang.
Ya, dania tahu Alfi pasti akan menjaganya. Akhirnya, Dania pelan-pelan membuka matanya. Lalu dia berteriak kencang.
"Aaaaaaaa .... "
"Lega kan? Ayo teriak lagi. Dania ... Kamu cantik, kamu berharga, jangan insecure lagi!" Teriak Alfi. Alfi cenderung lebih santai dibanding Dania. Karena dia sudah beberapa kali naik crazy car ini, jadi sudah sedikit terkontrol ketakutannya. Saat dia pertama naik, jangan di tanya. Mungkin tak kalah takut dengan Dania.
Akhirnya Dania menutup mata lagi. Dia berpegangan erat ke baju Alfi yang ada di depannya saat crazy itu terasa berguncang. Antara rasa takut dan rasa bahagia bercampur jadi satu. Seringkali dia menulis dalam novelnya, tentang seseorang yang yang menyatakan perasaan pada wanitanya dengan berteriak persis seperti apa yang dilakukan Alfi saat ini. Dania hanya tidak menyangka, akhirnya dia bisa merasakan di dunia nyata, tidak lagi di dunia halunya.
Setelah beberapa detik, crazy car itu berhenti. Dania masih memejamkan mata, sambil mengangkat pundaknya sampai mengenai leher. Rambutnya acak-acakan sampai menutup mukanya.
"Dan, sudah," ucap Alfi lembut.
"Hai Al, ngapain di sini? Sama siapa hayo?"
Tiba-tiba ada perempuan yang menegur Alfi. Dania merasa tidak asing dengan suara wanita itu. Dari balik rambutnya, dia perlahan membuka mata. Mata Dania langsung terbelalak, mengetahui wanita yang ada di hadapannya. Dia langsung menggigit jari telunjuknya, panik tak karuan.
'Tuhan, aku harus bagaimana?'