Gara-gara Denik

1063 Kata
[Kalau aku jadi malam, kamu mau jadi apa?] Hanya sebuah pesan singkat receh itu berhasil membuat dirinya tersenyum dan berbunga-bunga. Mungkin itu memang goyonan dan rayuan jadul, tetapi bagi Dania itu tetap saja menarik jika Alfi yang menuliskan. [Burung hantu] Dania membalasnya cepat. [Ha? Burung hantu?] [Iya, karena burung hantu hanya bahagia saat malam, seperti aku, yang hanya bahagia saat ada kamu] Dania mengetikkan itu sambil tersenyum. Sambil diikuti emot love, kiss dan hug. Di seberang sana, Alfi juga sedang senyum-senyum sendiri sambil menatap handphone di toko elektroniknya. Beberapa hari ini Alfi sangat rajin sekali ke toko. Biasanya ketika Ratih ada di rumah, dia lebih memilih untuk tinggal di rumah sejenak dan menemani Ratih. Namun, akhir-akhir ini dia tidak peduli Ratih ada di rumah atau tidak, dia lebih suka menghabiskan waktunya di toko sambil chat Dania. Meskipun hanya chat yang tidak penting menurut orang lain, tetapi sangat membahagiakan bagi mereka. [Hahaha aku harus meleleh apa harus ketawa?] [Mas Alfi jangan ketawa. Nanti banyak yang tercuri hatinya.] "Mas, ini calon suaminya Dania kan? Yang sering ngapel?" Alfi yang saat itu duduk di sebelah meja kasir dikagetkan oleh mulut TOA mbak Sumiati. Alfi yang tadinya hanya senyum-senyum, kali ini memasang wajah tegang dan senyum kaku. Sontak, beberapa karyawan yang saat itu ada di sekitar Alfi langsung melongo dan menghentikan aktivitas mereka. Mereka semua tampak kaget mendengar penuturan Mbak Sumiati, hanya Joko yang terkesan biasa saja. Beberapa karyawan kasak-kusuk, menerka nerka apa yang terjadi. "Em … mbak, silahkan dipilih dulu barangnya. Mbak menginginkan apa biar diantar oleh karyawan saya." Alfi tersenyum sopan, dan bermaksud mengalihkan pembicaraan. "Saya mau mencari kipas angin. Yang murah yang bagus ya, Mas? Aku dapat diskon kan? Aku kan tetangganya Dan_" "Joko! tolong antar Mbak ini ya? Mau lihat kipas angin." Alfi langsung memotong pembicaraan Mbak Sumiati sebelum dia berbicara lebih banyak. Jantung Alfi sudah berdegup dengan kencang dengan irama tidak karuan. Bisa gawat kalau tetangga Tania bermulut TOA itu lama-lama di sini. Alfi duduk di tempatnya semula, sedangkan Joko segera mengantar Mbak Sumiati ke jajaran kipas angin yang letaknya kebetulan tidak jauh dari tempat Alfi duduk. "Mas, harus di diskon ya? Karena bos kamu itu itu pacarnya tetangga saya, bukan cuma tetangga sih, pacarnya pas kamu itu sahabat saya sahabat dekat." Mbak Sumiati melihat-lihat kipas angin sambil terus nerocos. Entah kenapa dan apa tujuannya dia membeli kipas angin jauh-jauh sampai ke toko Alfi yang jaraknya cukup jauh dari rumah, perlu menempuh waktu sekitar 1 jam dari rumah mbak Sumiati ke toko elektronik ceria milik Alfi. Joko yang memang sudah tahu keadaannya, hanya tersenyum tipis menanggapi ocehan Mbak Sum. "Mbak jangan mengada-ngada. Pak Alfi sudah_" "Em, mbak Mau kipas angin yang tipe mana?" Joko langsung memotong ucapan Denik. "Aku mau yang ada remotnya dan ditempelkan di dinding. Terus yang suaranya itu tidak begitu berisik gitu Lo mas." "Baik mbak, ada sini saya tunjukkan." "Wah, gila! Calonnya Dania ini keren punya toko sebesar ini," ucap Mbak Sumiati sambil memandang ke sekeliling. "jangan ngawur mbak, pak Alfi itu_" "Mbak warna yang ini suka?" Joko langsung memotong kembali pembicaraan Denik. Denik langsung melotot geram ke arah Joko yang dari tadi selalu memotong pembicaraannya. "Jangan warna putih Mas. Nanti cepet kotor. Aku mau warna gelap saja." "Baik, Mbak." "Kalau besok Dania sudah sah menjadi istri pemilik toko ini, pasti aku akan mendapat diskon yang gede setiap belanja." "Mbak ini kenapa sih. Dari tadi bilang pacarnya pak Alfi pacarnya pak Alfi terus. Pak Alfi itu sudah mempunyai istri. Namanya bu Ratih. Orangnya sangat baik, cantik, guru pula. Jadi tidak mungkin pak Alfi punya pacar." Denik, salah satu karyawan yang sedang berdiri di jajaran kipas angin langsung nyeletuk. Dari awal kedatangan Mbak Sumiati yang caper, Denik sudah tidak suka. Apalagi ketika mbak Sumiati mengatakan bahwa pa Alfi punya pacar, jiwa perempuannya meronta-ronta. Dia seolah tidak terima kalau ada perempuan yang dikhianati meskipun itu bukan dirinya. Mulut mbak Sumiati langsung menganga tepat setelah Denik melontarkan kata-kata mengejutkan itu. Joko langsung menepuk jidat. susah payah dia menjaga agar Denik tidak mengucapkan itu, tetapi akhirnya kata-kata itu keluar juga. "Kamu ngomong apa sih? Dia pacar tetangga saya. Nggak mungkin dia punya istri." "Ya elah mbak. Saya kerja di sini sudah bertahun-tahun. Mana bisa tidak mungkin. Mbak ini yang mengada-ngada. Lagi pula, Mbak di sini kan mau beli kipas angin, kenapa malah gosip di sini sih." Denik yang biasanya bersikap ramah kepada customer, kali ini dia begitu ketus terhadap Mbak Sumiati. "Jadi, boss kamu itu sudah punya istri?" "Iya." "Jadi, Dania itu … " Mbak Sumiati langsung menutup mulutnya. Kaget dan tak percaya. "Aku nggak jadi beli deh. Kipas di sini jelek-jelek," ucap Mbak Sumiati sambil berjalan menjauhi kipas angin, Joko dan Denik. Mbak Sumiati berjalan melenggang sambil melirik Alfi dengan tatapan sinis, lalu dia keluar dari toko masih dalam keadaan shock. Alfi yang dari tadi memantau, tetapi tidak tahu apa yang mereka bicarakan, segera berjalan menuju teknik dan Joko. Dari gelagat Mbak Sumiati, Alfi tahu bawa ada yang tidak beres. "Em … dia kenapa? Kenapa customer kita yang tadi pergi dalam keadaan uring-uringan seperti itu? Bukannya saya sudah sering bilang sama kalian, kita harus melayani customer dengan baik." "Saya cuma bilang Kalau Pak Alfi sudah punya istri. Dia tidak percaya dan malah uring-uringan seperti itu, Pak. Tentu saja saya menepis gosip yang disebarkan. Masa iya dia bilang Kalau Pak Alfi punya pacar? Kita semua tahu kalau Pak Alfi adalah sosok setia yang selalu menyayangi bu Ratih." Denik menjawab dengan sopan. Dia sangat percaya diri bahwa apa yang dia lakukan itu sudah sangat benar. Joko hanya bisa memejamkan mata. Takut dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Mendengarkan penuturan Denik, bahu Alfi langsung serasa merosot. Tulang-tulangnya seakan rontok, membuat dirinya seakan tak mampu menjaga dirinya sendiri, lemas saat itu juga. Alfi hampir limbung, Untung saja di tangkap oleh Joko. "Pak Alfi nggak apa-apa?" Afi terdiam sejenak, lalu menghela nafas panjang dan menghembuskannya. "Aku tidak apa-apa, Jok." Setelah merasa tenang, Dia segera berdiri tegak, dan menatap Denik, karyawan senior yang sudah beberapa tahun ikut bekerja dengannya. "Denik, lain kali siapapun mereka dan apapun yang mereka katakan, tetap layani dengan baik dan jangan berbicara kesana kemari di luar konteks penjualan. Biarkan saja mereka mau bicara apa. Jangan ditanggapi ya?" Afi tersenyum, senyum getir. Lalu dia pergi meninggalkan Deni dan Joko dan menuju ke ruangannya yang ada di belakang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN