“Kamu jangan macem-macem Beth! Kita nih cuma bertiga di sini, kamu jangan bikin Mamih Tini pusing terus!” Wanda menasehati Elizabeth yang baru saja bikin ulah.
“Iya Kak, maapin aku ya Kak, aku kan baru tau kalo ternyata ceklek-an itu tuh bikin terang atau gelap. Mejik banget!”
Elizabeth ternyata baru saja memainkan saklar lampu. Maklum saja di dusunnya belum ada listrik, Elizabeth bahkan gak tahu itu yang namanya lampu atau apa, jadi seperti anak norak pada umumnya, dia pun memainkan semua saklar yang ada di rumah, yang mengakibatkan Wanda dan Mamih Tini kesal karena semua ruangan tiba-tiba gelap.
“Yaudah, kan sekarang udah tahu, jangan dibikin mainan ya? Itu bukan mainan.”
“Iya siap Kakak Wakanda!”
“Wanda! Bukan Wakanda!” Seru Wanda mengamuk. Sembarangan banget emang Elizabeth ganti-ganti nama orang.
“Iya Kak Wanda, mon maap banget ini mah yaaa. Hehehehe!”
“Yaudah, kamu mau apa sekarang?”
“Mau mancing aku tu kak, udah lama banget gak mancing, gatel banget tangan aku pengin cari cacing buat umpan.” Ujar Elizabeth sambil menggaruk-garuk telapak tangan kirinya.
“Kamu nih yaa, cewek, cantik, tapi jorok banget sih?”
“Ih kok jorok? Aku tu dulu tiap hari tau begitu ihhh.”
“Ini udah malem, Beth. Udah tidur aja yuk?” Ajak Wanda lembut, ia lelah seharian ini menghadapi Elizabeth yang ajaib banget kelakuannya.
“Justru kalau malem enak Kak cari ikannya, mereka udah ngantuk, jadi suka gak sadar kalau nyamber kail.”
Terlihat Wanda sepertinya menahan emosi, tapi ia tidak langsung memarahi Elizabeth.
“Yaudah, mancingnya besok aja ya? Ini udah malem, sudah waktunya tidur! Besok! Kamu gak cuma mancing, tapi kamu harus belajar gimana jadi cewek, oke?”
“Lha, aku kan dari lahir cewek. Ihh Kakak Wakanda nih aneh! Aku tu udah cewek, disuruh belajar jadi cewek. Apa banget coba Kak?”
Mulut Wanda sudah komat-kamit pengin meledak marahin Elizabeth, tapi... berhubung cuti akhir tahun yang dijanjikan Dimas kepadanya, juga dua buah tiket liburan ke luar negeri, Wanda menahan amarahnya.
“Yaudah, pokoknya malem ini, waktunya kamu tidur! Gak ada yang aneh-aneh lagi! Kamu mau aku kurung di kamar mandi?”
“Kamar mandi? Yang ada kolam dadakannya itu? Ih aku sih seneng banget di sana!”
Terlihat Wanda beberapa kali menarik napas panjang. Agar semua uratnya tidak keluar dan lepas hanya untuk memarahi Elizabeth.
“Elizabeth! Tidur!” Seru Wanda dengan nada tegas, membuat Elizabeth langsung menciut dan mengangguk pasrah.
Wanda akhirnya bisa bernapas lega ketika Elizabeth masuk ke kamarnya. Memastikan kalau Elizabeth tidur, Wanda sengaja membentangkan selimut kepada anak asuhnya ini.
“Tidur yaa Cah Ayu! Jangan macem-macem kamu, pusing aku!”
“Iya Kakak Wanda, makasih!”
Wanda mematikan lampu ketika keluar kamar, ia bahkan mengunci pintu kamar Elizabeth dari luar, sesuai arahan dari Dimas.
Mencari-cari telepon genggamnya, Wanda menghubungi sebuah nomor untuk membantunya mengurus Elizabeth.
Semoga, orang ini bisa membenahi semua kelakuan aneh Elizabeth, amin! Ucap Wanda dalam hati.
***
Keesokan paginya, ketika Elizabeth sudah selesai sarapan, seorang wanita galak masuk ke dalam rumah. Bukan, wanita ini bukan Mamih Tini. Wanita ini seribu kali tampak lebih menyeramkan dibanding mucikari kesayangan semua orang itu.
“Selamat pagi! Perkenalkan, nama saya Athena! Madam Athena! Saya yang ditugaskan Wanda untuk mengurus gadis bernama Elizabeth!” Ujar Wanita ini dengan nada yang sangat anggun dan berkelas.
Ya, Wanda baru saja memanggil seorang tutor kenamaan untuk membimbing Elizabeth dalam bersikap! Ya, Elizabeth ikut les manner dan attitude, atau bisa disebut; kursus kepribadian.
“Wih? Ngurusin aku dong? Heheheh seneng banget banyak yang ngurusin aku, banyak yang sayang!” Ya, meskipun Elisabeth sudah sangat sopan terhadap yang lebih tua, dan gaya bicaranya juga lembut. Namun pembawaannya yang sedikit urakan harus disesuaikan dengan kehidupan masa kini.
“Elizabeth, gak boleh ketawanya sampe kaya gitu, mulai sekarang, kalau mau ketawa seperti ini!” Madam Athena langsung memperagakan dengan baik pada Elizabeth.
Karena ketegasannya, Elizabeth akhirnya menurut pada semua perintah Madam Athena.
Seharian ini, Elizabeth benar-benar ditatar oleh Madam Athena bagaimana cara bersikap yang benar. Mulai dari gaya duduk, gaya bicara kepada pria, ke orang yang lebih tua, ke anak-anak. Mereka juga belajar cara berjalan yang benar, harus sedikit melenggok namun tetap enak dilihat.
Untungnya, meski sedikit ngeyel, Elizabeth mampu menyerap pelajaran itu dengan baik.
“Buat hari pertama, oke! Besok kita mulai lagi dan belajar yang lainnya.” Ujar Madam Athena memuji Elizabeth.
“Siap Madam, terima kasih untuk ilmunya.” Ucap Elizabeth lembut, membuat Madam Athena mendecak kagum.
“Okay, Wanda, supir saya sudah siap?” Tanya Madam Athena.
“Sudah, Madam. Ayok saya anter!” Seru Wanda.
Lalu, Madam Athena dan Wanda pun berjalan ke bagian depan rumah, meninggalkan Elizabeth yang masih pusing dengan semua jenis sendok, garpu dan pisau yang ada di meja.
“Kamu dapet anak kaya dia dari mana?” Tanya Madam Athena saat hanya sisa berdua dia dengan Wanda.
“Emm, kita juga gak tahu Madam dia tuh aslinya dari mana.” Jawab Wanda jujur. Ya, soal asal usul Elizabeth, hanya Boss Bayu, Dimas dan Kakek Yadi yang mengetahuinya.
“Soalnya heran saya, bisa ada orang yang gak tahu apa-apa sama sekali. Istilah sendok-garpu, maksudnya yang dasar-dasar aja dia gak ngerti, emang selama ini dia tinggal di gua?” Jelas Madam Athena.
“Itu Madam yang bikin aku manggil Madam buat ajarin dia, aku tahu Madam terbaik banget! Soalnya aku syok, saklar lampu aja dia gak tahu. Tadi pagi sebelum makan, aku ajak dia house tour, ngasih tau nama-nama barang atau istilah, terus sekalian bilang mana yang boleh dimainin mana yang engga.” Dari penjelasannya, terlihat sekali kalau Wanda sangat baik, ia peduli pada Elizabeth dan ingin gadis polos itu berubah menjadi lebih baik lagi dengan belajar pada Madam Athena.
“Okay, see you tomorrow, Wan!” Ucap Madam Athena.
Mobil yang ditugaskan untuk mengantar Madam Athena sudah stand by sedari tadi di depan rumah, ketika pembicaraan mereka selesai, Wanda bergerak maju, membukakan pintu untuk gurunya tersebut.
“Terima kasih Madam, see you tomorrow!” Ucap Wanda lembut.
Madam Athena tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil. Wanda menutup pintunya dari luar dan sekian detik kemudian mobil pun melaju.
Wanda terlihat menarik napas panjang berkali-kali, mempersiapkan diri untuk menghadapi Elizabeth.
Ketika Wanda masuk ke rumah, ia terkejut melihat Elizabeth yang sedang berlutut di kaki Mamih Tini.
“Mamih, maafin aku ya! Ikan kesayangan Mamih aku bakar kemarin. Maaf sekali, aku tahu, itu ikan pasti sangat berharga, soalnya Mamih tempatkan dia di kotak kaca spesial, gak di kolam kaya ikan-ikan yang lain. Mohon berikan maaf kepada aku, Mamih.” Elizabeth terdengar memohon dengan tulus, membuat Wanda dan Mamih Tini heran.
“Udah Beth, kamu jangan sambil sujud-sujud gitu, ah!” Ujar Wanda, ia mendekati Elizabeth dan menariknya berdiri.
“Tapikan aku bersalah, kakak Wanda.”
“Udah, Mamih udah maafin kan, Mih?”
“Iya, udah kok!” Ujar Mamih Tini. Ya, siapa juga yang tidak akan memaafkan kelakuan Elizabeth setelah kompensasi sejumlah satu miliyar yang diberikan oleh Bayu hanya karena seekor ikan Arwana.
Kalau Mamih Tini punya lima ikan, mungkin kelimanya sudah ia suruh Elizabeth bakar, biar dia dapet 5 miliyar dari Boss Bayu.
“Terima kasih Mamih Tini untuk ketulusan maaf yang telah engkau berikan kepadaku. Tak akan aku sia-siakan maaf itu dan aku berjanji tidak akan nakal lagi.” Ucap Elizabeth sungguh-sungguh.
Wanda bingung, ini anak kenapa ngomongnya jadi kaku dan formal abis? Perasaan tadi gak belajar begitu deh?
Aneh emang si Elizabeth tuh!
***
TBC