“Pak Bayu gak bisa seenaknya gitu dong!” Seru Pak Dani marah.
“Ya sudah, biarkan saya yang bicara dengan Pak Chandra!” Pinta Bayu.
Sejauh ini, belum ada kesepakatan dari ke dua belah pihak. Bayu ingin membatalkan perjanjian, namun pihak Pak Chandra Wiguna mati-matian tidak ingin dibatalkan.
“Gak bisa, Pak Chandra sibuk, jadi semua hal harus melalui saya dan hanya saya yang bisa mengambil keputusan untuk masalah ini!” Seru Pak Dani galak, kemudian sambungan telepon pun terputus.
“f**k!” Maki Bayu kesal, ia bahkan melemparkan telepon genggamnya itu ke lantai sampai hancur.
“Kita batalin sepihak aja, Dim! Kita sembunyikan Elizabeth di suatu tempat, gimana?” Usul Bayu.
“Emm, saya kepikiran itu sih Boss, cuma di perjanjian yang Boss bikin, siapapun pihak yang membatalkan itu, ada denda 5 Miliyar.”
“Ah biarin, kecil itu Dim! Mending itu, daripada berdebat sama si Dani, sinting.” Umpat Bayu.
“Baik, Boss! Elizabeth mau dibawa kemana? Rumah kakek?” Tanya Dimas, karena menurutnya tempat paling aman ya itu. Rumah keluarganya itu bahkan tidak ada di peta. Jika melihat peta, baik itu fisik maupun peta elektronik, yang terlihat hanyalah sebuah hutan. Dan, entah ada semacam mantra yang dipasangkan Bayu agar rumah itu tidak bisa dicari.
“Gak bisa, bahaya itu! Di sana ada portal, kalau Elizabeth lihat dan dia menembus portal itu, bisa bahaya.”
“Bahaya buat dia? Atau bahaya buat Boss?” Tanya Dimas memastikan.
“Bahaya buat kita berdua. Kalau gue lewatin portal itu aja bisa hilang ingatan, apalagi Elizabeth yang wujudnya cuma gadis kecil?”
Dimas mengangguk mengerti. Sekarang ini, Kakeknya sedang mencicil memberikan Dimas pengetahuan soal Bayu dan dunia lain sana lewat sebuah buku.
Yang Dimas tahu, dulu pernah ada percobaan anak dari leluhur Dimas yang diajak oleh Bayu melewati portal tersebut. Alhasil, Bayu sakit selama satu bulan dan anak leluhur Dimas kehilangan nyawanya.
Waktu itu, leluhur Dimas berkesimpulan kalau anak di bawah 15 tahun memang tidak bisa melewati portal tersbeut.
Lalu, sekian generasi kemudian, ada yang mencoba, seorang kakek seperti Kakek Yadi sekarang, sudah berketurunan jadi jika ia meninggal sudah ada penerusnya. Kakek tersebut masuk ke portal dan hasilnya sama, kakek tersebut kembali dengan keadaan tak bernyawa.
Setelah itu, Bayu melarang siapapun untuk melewati portal itu. Bayu tidak ingin melakukan tiga kali kesalahan yang mengakibatkan ia kehilangan anggota keluarganya.
“Jadi, gimana dong Boss? Kan harus ada yang jagain Elizabeth juga sementara kita beraktivitas seperti biasanya.” Tanya Dimas.
“Untuk sementara biar Elizabeth sama Tini dan Wanda dulu. Kamu bikin instruksi kalau untuk sementara gak ada yang boleh pulang ke rumah Tini. Dan... minta 10 orang bodyguard berjaga di rumah itu.”
“Baik Boss!” Dimas pun keluar dari ruangan Bayu.
Sambil berjalan, Dimas membuka ponselnya dan memberikan arahan ke bawahannya sesuai dengan instruksi dari Bayu. Menjaga Elizabeth dengan ketat.
Di ruangannya, Dimas membuka komputer yang memang sudah menyala, ia membuka koleksi foto hanya untuk melihat gambarannya sewaktu kecil yang sudah ia scan sehingga ada file digitalnya.
“Bener, mirip banget sama Elizabeth, kok bisa ya?” Dimas masih terheran-heran dengan gambarnya itu.
“Ini gue gambar pas umur berapa ya? Kenapa bisa tiba-tiba gambar cewek?” Masih berbicara sendiri Dimas memperbesar gambar di layar, agar muka Elizabeth yang ia gambar makin terlihat jelas. Ya, di gambar tersebut benar-benar menampilkan Elizabeth yang berada di dalam sebuah hutan.
Meneliti gambar tersebut, Dimas tersentak ketika menyadari satu hal.
“Gila! Baju dia di gambar ini, sama persis sama baju yang dia pakai di hari pertama!” Seru Dimas.
Tapi, bagaimana mungkin Elizabeth yang sudah dewasa ini digambar oleh Dimas sewaktu anak-anak? Sekarang saja, Elizabeth baru 17 tahun dan Dimas sudah 26 tahun.
Mengurut keningnya, Dimas benar-benar dibuat pusing oleh masalah Elizabeth ini. Dan kedepannya akan seperti apa? Elizabeth bisa pulang kah? Atau dia tetap tinggal di sini?
Dimas bangkit dari kursinya, berjalan kembali ke ruangan Bayu. Kali ini, ia ingin bertanya banyak hal soal dunia sana. Dimas ingin mendapat pencerahan.
“Boss!” Seru Dimas sambil membuka pintu, terlihat Bayu sedang sibuk dengan sebuah buku.
“Ya Dim? Masuk aja sini!” Ajak Bayu kemudian Dimas pun masuk.
Duduk di kursi yang biasa ia tempati, Dimas memandang lurus ke arah Boss-nya.
“Kenapa Dim?” Tanya Bayu lembut.
“Boss pernah bilang kalau saya boleh tanya apa aja, saya sekarang pengin nanya nih, bisa?” Dimas mengutarakan niatnya datang ke sini.
“Yaudah, ayok, tanya aja, mau sambil minum?” Bayu berbalik ke belakang, mengambil botol wiski yang memang tersedia di ruangannya.
Dimas bangkit, ia mengambil gelas dari rak yang ada, lalu membuka kulkas untuk mengambil es batu. Setelah itu, ia menuangkan minuman tersebut untuknya dan untuk Bayu.
Sebelum pertanyaan pertama di mulai, mereka berdua saling bersulang terlebih dahulu.
“Boss, boss kan udah tua banget nih ya? Inget gak umur boss berapa?” Tanya Dimas.
Bayu terseyum, menyesap minumannya lagi kemudian menjawab pertanyaan Dimas.
“Waktu gue kecil, waktu leluhur lo pertama temuin gue, di belahan dunia lain, piramida lagi di bangun.” Jelas Bayu.
Dimas terperangah mendengar itu.
“Jadi boss dari situ tuh?”
“Yap, pertama ke dunia ini, gue masih kecil banget.”
“Boss inget di dunia sana ngapain aja?” Tanya Dimas lagi.
“Lo tahu wujud gue kaya apa di sana, gak banyak yang bisa gue lakuin karena gue cuma bisa diem di hutan, sembunyi dari manusia-manusia jahat yang mau bunuh gue cuma karena tampang gue serem. Tapi, karena udah dapet peran yang menyeramkan di sana, gue kadang kalau lagi bosen ya nakut-nakutin orang.” Jawab Bayu,
Dimas mengangguk.
“Terus Boss inget soal Elizabeth gak?”
“Itu yang lagi gue gali ke ingatan sendiri. Lo tahu? Gue itu gak pernah mimpi, jadi gue sadar kalau gue dapet kilasan-kilasan memori, itu tuh bukan mimpi, itu kehidupan gue di tempat lain.” Jelas Bayu.
“Bingung saya tuh Boss, ini... saya punya gambaran pas kecil yang mirip banget sama Elizabeth.” Dimas memberikan ponselnya untuk dilihat Bayu, dan... rekasi Bayu sama seperti Dimas. Ia pun ternganga dengan kemiripan antara gambar tersebut dengan Elizabeth.
“Kapan kamu gambar ini Dim?” Tanya Bayu.
“Gak tahu, dulu Boss, umur 7 atau umur 10, entah lah.” Jawab Dimas. Bayu mengerutkan keningnya.
Seandainya saja Bayu tidak kehilangan ingatannya saat melalui portal, ia pasti sudah tahu semua yang terjadi.
“Saya penasaran, konsep waktu di sana sama di sini beda gak sih Boss?” Tanya Dimas.
“Kalau itu berubah-ubah, kadang di sana lebih lama, kadang lebih cepet. Dulu, gue pernah masuk portal, cuma duduk-duduk biasa aja, bosen, terus balik lagi, ternyata katanya gue udah satu tahun pergi, sampai waktu itu, cucunya, kaya lo gini yang ambil alih semua usaha. Tapi pernah juga, gue di sana lama, berburu binatang, ketemu orang, nakut-nakutin, pokoknya berhari-hari lah yaa, pas balik ternyata gue cuma pergi 1 jam.”
Dimas mengangguk, di buku yang diberikan Kakek Yadi belum sampai situ, tapi Dimas ingin menganalisa, perbedaan waktu tersebut penyebabnya apa?
“Kenapa nanya begitu, Dim?” Sekarang giliran Bayu yang bertanya.
“Iya Boss, kepikiran aja. Mungkin gak sih kalau pas kecil itu saya kaya dapet bisikan dari Elizabeth? Atau gak tahu lah.”
Bayu mengangguk, ia tidak pernah menganggap becanda firasat seseorang. Dan bisa jadi, yang dikatakan Dimas ini benar. Tapi, apa kaitannya antara Elizabeth dan Dimas? Sedangkan Dimas tidak ada hubungannya dengan dunia tempat Elizabeth berasal.
“Bisa jadi, cuma ya gak bisa dipastikan karena gak ada teori pastinya Dim, apalagi ingatan gue yang kaya gini. Sekarang nih, gue inget semua hal yang gue alami di dunia ini, dari dulu sampe sekarang. Tapi begitu di sana, blank, gue gak tahu sama sekali. Pun sebaliknya, gue gak tahu kehidupan geu di sana gimana, apa yang gue lakukan, ya itu.... gue cuma dapet kilasan-kilasan memori, yang tadi gue bilang.”
“Ada gak sih Boss cara-cara biar ingatan itu muncul?”
Bayu menggeleng untuk kali ini.
“Makan telor puyuh apa ya?” Sahut Dimas spontan.
“Hah?”
“Hehehe, engga Boss, abis pernah baca katanya telor puyuh bisa meningkatkan daya ingat.” Ujar Dimas malu-malu.
Bayu tersenyum mendengar itu. Dalam hatinya, ia sangat menyayangi Dimas. Anak muda ini sudah seperti adik, bahkan anak untuknya. Mungkin beberapa tahun lagi, saat Dimas menua, Bayu akan memanggilnya Bapak, lalu Kakek, seperti pendahulu Dimas.
Sedang memikirkan itu, Tiba-tiba Bayu ambruk ke lantai, Dimas langsung kaget melihat Boss-nya terjatuh.
“Boss? Boss Bayu kenapa?” Tanya Dimas khawatir, sementara Bayu seperti menahan sakit sambil memegang kepalanya.
“s**t! Dim... gue... gue dapet potongan memori soal Elizabeth!” Ucap Bayu sambil kesakitan.
******
TBC