Mbok Yem menangis sesenggukan di dalam gubuknya. Setelah Elizabeth kini Buto Ijo malah memakan Mail. Dan kejadian itu disaksikan langsung oleh dirinya sendiri, juga segelintir orang Dusun yang belum kabur.
Mbok Yem tak percaya, Mail yang selama ini baik padanya sudah tiada.
Ya, meskipun Mbok Yem tidak terlalu setuju jika anaknya didekati Mail, tapi Mbok Yem gak pernah menolak kalau Mail datang membawa martabak. Apalagi, Mail juga pintar berburu, ia sering membawa hewan-hewan yang berhasil ia tangkap ke Mbok Yem untuk dimasak.
Mbok Yem merasakan kekecewaan yang luar biasa pada Buto Ijo. Dulu, ia selalu menganggap si Buto adalah sosok yang baik. Bahkan sampai tadi, makanya Mbok Yem mau membebaskan raksasa itu.
Tapi, hasilnya malah jadi seperti ini, Buto Ijo sudah mengkhianati Mbok Yem.
“Duh Gusti, aku ni salah apa sih sampe begini?” Ucap Mbok Yem di sela-sela tangisannya.
“Terus sekarang Elizabeth ke mana Gusti? Apakah s*****a yang kudapat dari Ki Gunung Sakti tidak berguna?”
Ya, perbekalan yang diberikan kepada Elizabeth adalah barang-barang yang berhasil didapatkan Mbok Yem dari Ki Gunung Sakti yang ada di puncak gunung. Mbok Yem pernah suatu hari ke sana dan meminta pertolongan Ki Gunung Sakti .
“Apa benar Elizabeth hilang? Atau Buto cuma berbohong?” Mbok Yem pusing bukan main mikirkan nasib orang-orang terdekatnya.
“Samlekum!” Sebuah seruan dari luar membuyarkan lamunan sedih Mbok Yem.
“Iyaa, kumsalam!” Mbok Yem berjalan ke luar sambil mengusap air matanya.
Ketika pintu depan dibuka, ternyata ada Ijal, anak Pak RT yang bungsu. Yang sikapnya ke perempuan-perempuanan. Teman Elizabeth main lompat tali di halaman Balai Warga.
“Kenapa Jal?” Tanya Mbok Yem.
“Anu, Mbok!”
“Anunya siapa?”
“Ihh mbok Yem! Bukan gitu, anu loh! Kata Daddy akuh, mbok Yem jangan tinggal di sini dulu, serem mbok, sendirian di sini. Takut Mbok Yem dimakan juga sama Si Buto Gendeng itu!”
“Dia gak bakal makan aku, dia gak suka orang tua, katanya pait.”
“Ya tapi itu Mail, yang bentukannya kaya upil komodo dimakan aja tuh sama Si Buto Gondrong!” Ujar Ijal yang ternyata demen ganti-ganti nama orang dan punya persepsi sendiri terhadap bentukan wajah seseorang.
“Kamu jangan katain Mail begitu, dia udah tenang di sana.” Ujar Mbok Yem.
“Hemm, di sana di mana? Di usus dua belas jari-nya si Buto Sableng?”
“Ya itu kan badannya! Arwahnya udah terbang, bersatu bersama Sang Gusti Pangeran.”
“Oh iya, iya okee. Jadi gimana nih?”
“Gimana apanya, Jal?” Mbok Yem balik bertanya.
“Aku gak disuruh masuk nih Mbok? Pegel tau aku diem mulu nih di depan pintu.”
Mbok Yem tersenyum, lalu mempersilahkan Ijal masuk ke dalam gubugnya. Lalu mereka berdua pun duduk di lantai beralas tikar yang terbuat dari anyaman daun pandan.
“Mbok gak mau tidur di rumah aku dulu nih?” Tanya Ijal, kali ini terdengar sungguh-sungguh dengan ajakannya.
“Engga, nanti kebun timun punya Mbok siapa yang jaga? Mbok di sini aja Jal.”
“Hemm, mbok gitu deh ihh!” Ucap Ijal dengan nada memelas.
“Iya... huhuhu, soalnya, huhuhu!” Belum apa-apa Ijal sudah menangis, membuat Mbok Yem bingung apa yang terjadi pada Ijal, karena Mbok Yem kan gak ngapa-ngapain ya?
“Kamu kenapa Jal?” Tanya Mbok Yem.
“Iya, huhuhu, kata Papih aku, kalau Mbok Yem gak mau nginep di rumah, aku aja yang nginep di sini, huhuhu, aku disuruh jagain Mbok Yem.” Jelas Ijal.
Mbok Yem syok mendengar itu.
Lha? Pak RT waras nyuruh Ijal yang jagain? Ini sih ogut yang jagain doi! Dumel Mbok Yem dalam hati.
“Udah, kamu balik aja Jal, mumpung belum gelap. Simbok gak apa-apa di sini sendiri. Kan dari dulu juga sendiri, kamu tahu.” Ucap Mbok Yem dengan nada halus. Namun Ijal masih menangis.
“Gak bisa Mbok, kalo aku pulang ke rumah tanpa Mbok Yem, aku gak dikasih pinjem lipstik sama Mamih.” Ijal masih sedikit terisak. Sedih banget dia tu yaa, kaga boleh mengekspresikan dirinya.
“Hemm, kamu mau nginep di sini?” Tanya Mbok Yem, karena bagaimana pun, Mbok Yem males kalau harus menginap di rumah Pak RT. Soalnya istrinya Pak RT tuh gajebo (gak jelas bo).
“Tapi tidurnya sama Mbok Yem ya? Atut aku tu.” Ujar Ijal.
“Semprul, situ kan laki!”
“Ya aku mah kan b*****g ini sih Mbok,” Ucap Ijal, tangisannya sudah terhenti, ia mulai lenjeh lagi.
“Yaudah nginep sini aja lu, dasar bocah semprul.” Ujar Mbok Yer, akhirnya pasrah ditemenin sama dakocan macem Ijal.
“Asikkk, makasih yaa Mbok. Ehehehe! Terus malem ini kita mamam apa nich, Mother?”
“Mother-mother, pala lu dempet!”
“Ya kan aku tu mau mengakrabkan diri, Mbok. Sapa tau mbok mau adopsi aku, terus aku jadi cantik kaya Elizabeth.” Ijal malah curhat.
“Dah, kamu tunggu sini, Simbok mau masak dulu ya?”
“Mau aku bantu Mbok? Gini-gini aku jago gulat loh!”
“Jago gulat mau bantu masak! Ini antara komedi atau otak lu ilang separo, Jal!” Ledek Mbok Yem, ia tahu Ijal mencoba melucu, menghiburnya yang sedang sedih.
“Heheheh!” Ijal tersenyum, dan Mbok Yem cuma merespon dengan geleng-geleng kepala.
Capek ladenin Ijal, akhirnya bok Yem meninggalkannya sendiri, berjalan ke belakang gubugnya yang dilengkapi sumur.
Di belakang, Mbok Yem mengolah jantung pisang untuk makan malam hari ini. Tak lama, Ijal bergabung, berjongkok dekat Mbok Yem.
“Mbok mau bikin sambel ndak? Aku jago nyambel nih.”
“Yaudah sana bikin, cabe sama tomatnya petik aja di situ.” Mbok Yem menunjuk kebun kecilnya yang berisi tanaman-tanamanan bumbu. Seangkatan kebun besarnya hanya berisi timun raksasa, bisnis yang diberikan oleh Buto Ijo agar Mbok Yem dan Elizabeth lancar menyambung hidup.
Duh, aku sakit hati kalo inget si Buto! Seru Mbok Yem dalam hati.
“Okeee Mbok! Ena banget di sini, mau nyambel tinggal petik. Di rumah, kalo mau ada yang pedes, kudu dengerin omongan tetangga dulu, huh!” Keluh Ijal.
Malam ini, Mbok Yem dan Ijal pun memasak, sambil bertukar cerita menutupi kesedihan kehilangan Elizabeth dan Mail yang berpulang ke lambungnya Buto.
****
Bayu sudah kembali sehat. Biasanya, ketika kembali dari dunia seberang ia akan jauh lebih kuat, namun kali ini karena racun yang diberikan Mail, ia jadi melemah.
“Bener mau kerja sekarang Boss?” Tanya Dimas memastikan, ia baru saja melihat Boss-nya terkapar tak berdaya, agak ngeri jika Bayu langsung beraktivitas, pikir Dimas.
“Udah sehat kok gue, obat dari kakek manjur!” Ucap Bayu optimis.
“Yaudah, saya setirin mobilnya Boss Bayu aja ya? Biar kita gak pisah mobil.” Usul Dimas, masih belum tega jika harus membiarkan Bayu membawa mobil sendiri.
“Oke, good idea.”
Setelah Dimas selesai membantu Bayu berganti baju, keduanya keluar, menghampiri Kakek Yadi yang sedang memetik bunga mawar di halaman belakang.
“Kek, kami mau pamit ya?” Ucap Dimas, sopan, seperti biasanya.
“Beneran Bayu? Kamu udah bisa keluar lagi?” Tanya Kakek Yadi.
Bayu mengangguk yakin. Ia sudah 24 jam lebih tidak mengecek semua bisnisnya. Dan lagi, ia ingin segera membatalkan perjanjian dengan Pak Chandra Wiguna.
Sekarang, setelah mengetahui Elizabeth berasal dari tempat yang sama dengannya, Bayu merasa perlu melindungi wanita itu, meskipun Elizabeth menyebalkan sekalipun.
“Tenang Kek, Dimas bakalan temenin Boss Bayu terus kok!” Ucap Dimas, mencoba menenangkan Kakek.
“Yaudah, kalian berdua hati-hati ya!”
Keduanya pun bergantian mencium punggung tangan Kakek Yadi. Setelah pamit, mereka berjalan ke luar. Dimas langsung mengarah ke kursi kemudi mobil Bayu, sementara Bayu duduk di kursi penumpang depan.
“Jadi kita kemana dulu Boss? Kantor?” Tanya Dimas ketika mobil keluar dari pekarangan rumah yang luas.
“Lo yakin Elizabeth aman?” Bayu malah balik bertanya.
“Yakin Boss, saya udah kasih nomor HP saya ke Wanda sih, bilang kalau ada apa-apa telepon saya!”
“Telepon Wanda sekarang! Cek dulu, kalau Elizabeth aman, berarti kita langsung ke kantor!” Titah Bayu.
Dimas menepikan mobilnya, tidak ingin sembrono menyetir sambil membuka ponsel. Ketika sudah menyalakan lampu hazzard sebagai tanda darurat, Dimas melakukan panggilan ke Wanda. Sengaja me-loudspeaker agar Boss Bayu ikut mendengar.
“Hallo Mas Dimas!” Sapaan lembut terdengar di kejauhan sana.
“Wan, mau ngecek, Elizabeth ada?”
“Ada, Mas. Tapi ya amplooppp!” Nada suara Wanda langsung berubah kesal.
“Kenapa?” Tanya Dimas.
“Dia nangkep ikan Arwana punya Mamih Tini, terus dia bakar di halaman belakang, katanya laper. Mamih Tini jadi nangis-nangis nih.”
Bayu dan Dimas menahan senyum mendengar itu. Ternyata kelakuan Elizabeth makin ajaib saja.
“Ya kok bisa sampe dia laper? Gak kamu kasi makan?” Bukan Dimas yang berbicara, tapi Bayu.
“Eh? Ada Mas Boss Bayu, eheheheh, ya udah Mas Boss, udah dikasih makan sama aku tu, sesuai perintah Mas Didim, tapi... masa dia maunya pepes Iguana, ya siapa juga yang mau bikin makanan begituan? Eh alhasil malah ikan arwana Mamih deh jadi korban.” Jelas Wanda panjang.
“Yaudah, kamu jagain dia. Bilang Tini gak usah sedih, nanti saya beliin Arwana 5 biji!”
“Bukan masalah itu Mas Boss ganteng, katanya Mamih, ikan ini peninggalan mendiang berondong kesayangannya dulu.” Wanda sedikit membocorkan rahasia Mamih Tini.
“Halah, gak penting, udah bilangin Tini jangan nangis, kaya anak SD aja!” Seru Bayu gemas.
“Oke Mas Boss Bayu!”
“Yooo!” Bayu pun mematikan sambungan telepon. Ia tersenyum, senang karena Elizabeth aman.
“Oke Dim, yuk sekarang kita urusin si Chandra Wigendeng!” Ucap Bayu.
Dimas tersenyum, menangguk, lalu, ia pun menjalankan kembali mobil menuju kantor. Siap mengurus pembatalan perjanjian jual-beli Elizabeth.
********
TBC