EMPAT BELAS

1692 Kata
Begitu sampai di rumah, Dimas berlari masuk ke bagian dalam, ia memanggil-manggil Kakeknya, dan terdengar sahutan dari halaman belakang. Membuka pintu dapur dengan kencang, Dimas melihat Bayu yang tak sadarkan diri di dekat pohon keramat. Bayu terkapar lemas tak berdaya dengan rambutnya yang sedikit gosong. “Boss Bayu kenapa Kek?” Tanya Dimas, penasaran. Tak menyangka bahwa Bossnya yang super kuat ini bisa cidera sebegitunya. “Bantu Kakek bawa Bayu ke kamar, Dim.” Kakek tak menjawab, hanya memberikan perintah. Langsung saja Kakek Yadi dan Dimas bersama-sama menggotong Bayu ke dalam rumah, membawanya ke kamar terdekat. Ketika Bayu sudah berada di atas ranjang, Dimas baru menyadari kalau beberapa bagian kulit Bayu tampak berwarna biru, ia seperti orang keracunan. Dan... rambutnya sih yang sangat jelas. Di sisi kiri kepala Bayu rambutnya habis, hanya menyisakan sisa-sisa seperti habis terbakar, gosong. “Dim, kamu jagain, Kakek racikin obat dulu ya.” Ujar Kakek Yadi, Dimas mengangguk patuh. “Iya Kek, siap!” Sepeninggal Kakek Yadi, Dimas duduk di kursi yang ada, menghadap ke arah Bayu yang masih belum sadar. Dimas heran, apa yang terjadi pada Bayu sampai ia bisa seperti ini. Bukan kah Bayu kuat sekali? Bukan kah Bayu tidak bisa mati? Tapi.... kenapa bisa, siapa yang bisa membuat Bayu menjadi tak berdaya begini? Banyak pertanyaan di kepala Dimas sampai akhirnya Kakek Yadi kembali dengan sebuah nampan. Di atas nampan tersebut terdapat mangkok berisi racikan obat dan gelas air yang tak jelas apa isinya. Dimas langsung berdiri, membiarkan Kakek Yadi yang duduk. Sementara Dimas melihat bagaimana proses merawat Bayu, karena di masa depan, dia lah yang harus melakukan semua ini. Kakek Yadi mengambil racikan obat dari gelas dengan menggunakan pipet tetes, lalu menyelipkan ke dalam mulut Bayu, memasukan obat itu pelan-pelan. Kegiatan itu dilakukan sebanyak sepuluh ulangan. Bayu sedikit bereaksi, napasnya yang sebelumnya terengah-engah kini berhembus teratur. “Dim, obat yang ini kamu balur kan ke semua kulit Bayu yang berwarna biru yaa. Kamu lepas aja semua bajunya.” Titah Kakek Yadi, dan dengan patuh, Dimas mengangguk. “Baik Kek,” Ujar Dimas. Lalu Kakek Yadi pun keluar dari kamar. Ketika hanya berdua dengan Bayu di kamar, Dimas pun pelan-pelan melucuti baju yang dikenakan Bayu. Sambil sedikit memutar tubuhnya untuk melihat ruam berwarna biru itu muncul di mana saja. Dengan hati-hati, Dimas membalurkan racikan obat tersebut ke kulit Bayu, memeriksa setiap inchi tubuh Bayu agar tidak ada ruam biru yang terlewat tanpa diobati. Pas ketika Dimas selesai, Kakek Yadi kembali dengan sekantung kain kassa. “Buat apa Kek?” Tanya Dimas. “Kulitnya Bayu kita tutup pakai ini.” “Semua?” “Iya,” “Jadi kaya mummi dong?” “Iyaa, yuk, kita mulai tutup, biar Bayu cepat sembuh.” Ujar Kakek Yadi dan Dimas pun mengangguk seperti biasa. Membagi dua kerjaan, Kakek Yadi menggulung kain kasa ke tubuh Bayu dari bagian kepala sementara Dimas dari ujung kaki. Sampai akhirnya seluruh bagian tubuh Bayu tertutup dan ia tampak seperti mummi yang ada di film-film. “Terus abis gini apa Kek?” Tanya Dimas. “Ditunggu aja, kamu jagain ya Bayu, kakek siapin makanan buat kita.” “Iya, Kek.” Menunggui, Bayu. Dimas akhirnya duduk di ujung kasur, dekat kakinya Bayu. Ia sambil meneliti Boss-nya tersebut. Selama Dimas hidup, baru kali ini ia melihat Boss Bayu tak berdaya seperti ini. Karena yang ada di ingatannya, Bayu adalah sosok yang kuat, tegas dan kadang galak. Termenung, pikiran Dimas membawanya ke masa kecil, saat orang tua Dimas masih ada. Dulu, ketika orang tuanya yang bekerja untuk Bayu, Dimas memanggil Bayu dengan sebutan Om. Bayu sangat baik kepada Dimas, sering membelikannya mainan, dan juga makanan. Di umur 10 tahun, Dimas baru sadar kalau Om Bayu tidak pernah terlihat menua, namun saat itu orang tua Dimas tidak menjawab pertanyaan Dimas. Di umur Dimas ke 15, orang tuanya mengalami kecelakaan dan meninggal. Hari itu, Dimas melihat sendiri bagaimana Bayu sangat menyayangi keluarganya, Bayu ikut menangis bersama Dimas, ia seperti kehilangan orang tua juga. Yang Dimas tahu, sejak orang tuanya meninggal, Kakek Yadi yang tadinya tinggal di luar kota pindah ke rumah ini, aktif kembali menjaga Bayu dan sekarang... fokus mengajari Dimas bagaimana menjadi 'kuncen' dalam hal merawat Bayu. Sejak kematian Orang Tua Dimas, antara Kakek Yadi dan Bayu membuat kesepakatan baru. Dulu, keluarga Dimas turun temurun hanya boleh memiliki 1 anak saja. Karena Bayu adalah 'anak' utama yang harus dirawat. Tapi setelah tahu jika ada kejadian di luar kendali seperti yang terjadi pada orang tua Dimas, Bayu memperbolehkan jika nanti Dimas memiliki 2 keturunan. Untuk berjaga-jaga. “Dim!” Panggilan itu menghancurkan lamunan Dimas. Dimas lega ketika melihat Boss Bayu tersadar dan sudah bisa memanggilnya. “Boss! Bentar, saya panggil Kakek dulu!” “Elizabeth! Elizabeth di mana?” Tanya Bayu, ia seperti menuntut penjelasan. “Elizabeth ada, Boss. Aman di rumah Mamih Tini. Sebentar Boss!” Dimas bangkit lalu berjalan menuju dapur, tempat Kakek Yadi sedang memasak. “Kek, Kakek!” Panggil Dimas. “Ya, kenapa Dim?” “Boss Bayu sudah sadar Kek!” “Yaudah kamu tunggu sini sambil aduk sup-nya, kakek mau bicara sebentar sama Bayu!” Ujar Kakek Yadi, memberikan centong sayur pada Dimas. Lalu Kakek pun berjalan ke arah kamar yang ditempati oleh Bayu. Dimas hanya bisa bengong, seumur hidupnya dia belum pernah masak. Sedari kecil selalu orang tuanya yang memasak, dan ketika mereka tak ada, peran tersebut diganti oleh Kakek. Ini gimana caranya bikin sup? Tadi apa kata kakek? Diaduk? Diaduk gimana? Aduk perlahan apa kaya aduk telur? Dimas kebingungan sendiri. Hanya mengaduk-aduk kuah sup, Dimas membuka ponselnya, mencari tutorial membuat sup dan dalam tutorial tersebut, gak ada tuh perintah aduk-aduk. Dimas biarkan sup tersebut di atas kompor, sambil ia duduk di kursi makan, mencoba mencuri dengar obrolan Kakek Yadi dan Boss Bayu. Tapi... tidak terdengar apapun. Dimas bingung. Katanya aku yang akan mewarisi peran menjaga Boss Bayu, tapi kenapa ngobrol begini aku ndak diajak? Kan, kepo aku tu! Batin Dimas. Heuh! Kayaknya, sejak munculnya Elizabeth ada aja deh permasalahan di keluarga ini. Lha portal lah, Bos Bayu sakit lah. Sebenernya Elizabeth tuh siapa sih? Dimas terus berbicara dengan pikirannya sendiri. Tapi, ya gak ngerti aku tuh suka sama Elizabeth, dia cantik, baik dan amat sangat polos, dan cantik! Astaga, aku harus bilang berapa kali kalau Elizabeth itu cantik? “Dimas, bau gosong!” Seru Kakek Yadi. Dimas tersadar dan ternyata benar, centong sayur berbahan silikon itu hangus terbakar karena Dimas letakkan di sisi kompor, benar-benar tersentuh api. “Astaga Dim!” Seru Kakek Yadi. Dimas panik, ia bangkit dan segera mematikan kompor. Lalu mengecek bagian dalam panci yang berisi sup. Sepertinya sih aman. Ujar Dimas lega. “Kamu kan kakek suruh ngaduk sup, Dim. Kenapa malah bengong?” Tegur Kakek Yadi. “Heheh, maaf Kek, abis.. bingung, apanya yang diaduk?” “Untung sup-nya gak hancur ikut gosong juga.” “Iya, Kek. Untung.” “Yaudah, kamu ambil mangkok tiga, buat kita makan.” Titah Kakek Yadi. “Bos Bayu dulu aja yang makan, Kek, sama Kakek, nanti Dimas nyusul makan. Dimas suapin Bos Bayu dulu, gimana?” “Yaudah, ambil mangkuk buat kakek sama Bayu.” Dimas kali ini mengangguk, ia membuka laci di kitchen set dapur lalu mengeluarkan dua buah mangkuk ukuran sedang, lalu membawanya ke Kakek Yadi. Menuangkan sup dengan perlahan, Kakek meberikan satu porsi pada Dimas yang langsung dibawa olehnya ke kamar Bayu yang sedang beristirahat. “Boss, saya suapin ya?” Ucap Dimas, ia duduk di kursi yang tersedia, menghadap ke arah Bayu yang sedang berbaring. “Thanks Dim!” Sahut Bayu dengan suaranya yang masih lemah. Dengan telaten, Dimas menyuapi bosnya itu. Orang yang waktu kecil Dimas panggil paman, lalu kakak, dan sekarang Boss. Dimas berubah menjadi lebih besar, menua. Namun Bayu masih tetap sama menjadi sosok yang pertama kali ia lihat. “Air, Dim.” Pinta Bayu, dan Dimas langsung memberikan air obat yang sudah diracik oleh Kakek Yadi. Melanjutkan makan sampai habis, Dimas tetap menemani Bayu yang terbungkus kain kasa ini. “Boss, kenapa bisa sampe kaya gini?” Tanya Dimas. “Gue diracun, Dim.” “Diracun?” “Yap, kalau diliat dari ruam-ruam biru kaya Kakek, kayaknya gue diracun pake carfentanil.” Jelas Bayu. Sekarang Bayu sudah tenang, meskipun berbalut kain kasa, tapi nada suaranya sudah santai. Napasnya juga biasa, tidak teengah-engah seperti tadi. “What? Apaan itu?” “Semacam obat bius buat hewan-hewan besar kaya gajah, tapi... ini kayaknya dicampur koka.” “Koka? Kokain maksudnya?” Terlihat Bayu mengangguk kecil. “Siapa yang giniin Boss Bayu?” Tanya Dimas. “Gak tahu Dim, gue gak inget. Yang gue inget, gue dikerubuni oleh orang banyak, mereka mau bunuh gue, karena katanya gue makan salah satu warganya.” “Hah? Warganya? Siapa?” “Elizabeth!” Akhirnya ada titik terang mengenai kejelasan Elizabeth di dunia ini sekarang. Bayu, melalui wujudnya menjadi Buto Ijo bisa mendapatkan informasi yang memang dicari. “Elizabeth? Jadi bener? Dia dari dunianya Bos Bayu?” “Iya, Dim.” “Dan Boss Bayu makan dia?” Tanya Dimas ngawur. “Ya kalo gue makan dia, dia gak ada di sini. Semua cuma salah paham aja, Dim” “Oh iya,” Dimas menyadari kebodohannya, “Terus, Elizabeth bisa ada di sini gimana caranya Boss?” “Itu yang masih jadi misteri. Kakek Yadi berani sumpah kalau gak ada yang lewat, dan gue percaya itu. Gue percaya keluarga ini gak akan mengkhianati gue.” Ucap Bayu tulus. Dimas mengangguk kecil. “Dan, waktu awal anak-anak nemuin Elizabeth, mereka bilang mereka lihat Elizabeth di jalanan belakang Bar, kan? Dan itu jaraknya jauh banget dari sini. Tapi... di tengah kota juga gak ada portal, gue yang bisa jamin itu.” Bayu menjelaskan semua yang ia tahu pada Dimas. “Terus?” “Lo udah bisa batalin kontrak Elizabeth sama Pak Chandra Wiguna?” “Maaf, Boss. Belum.” Jawab Dimas kaku, ia merasa bersalah. “Yaudah, nanti itu gue urus. Yang penting kita udah tahu siapa Elizabeth dan nanti kita pikirin baiknya dia gimana.” Dimas tersenyum, akhirnya dia dan Boss Bayu satu visi dan misi. Dengan begini, Dimas bisa dengan mudah menyelamatkan Elizabeth dari om-om hidung belang bernama Chandra Wiguna yang menyebalkan itu. ****** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN