TIGA BELAS

2152 Kata
“Hahahah emang enak lu, makan daging Anoa yang udah gue racun! Berani-beraninya sih lu makan calon istri gue!” Seru Mail ketika Buto Ijo tak sadarkan diri. Mail tersenyum puas, upayanya tetap tinggal di hutan selama satu bulan akhirnya membuahkan hasil, ia akhirnya bisa menangkap Buto Ijo. “Gilak! Kacau juga sih ini raksasa, buat ngebius dia aja gue kudu pake 5 dosis buat bius gajah dewasa. Hemm!” Mail bergumam sendiri. Kemudian Mail mengeluarkan perbekalannya, ia pun mengikat Buto yang kebetulan sudah bersandar di pohon. Dengan keterampilan tali menali seperti anak pramuka tingkat penggalang, Mail dengan lihai mengikat Buto Ijo dengan tali yang ia bawa. “Hahahah, sekarang, elu bakal jadi sandera gue! Bakal gue bawa semua warga di sini, biar mereka ramai-ramai bakar elu! Hahahaha! Berani-beraninya lu bohongin gue! Makan calon istri gue tersayang! Rasain lu!” Mail terus mengumpat sambil mempererat simpul yang ia buat. Setelah selesai mengikat Buto Ijo sekuat yang ia bisa. Mail kembali menggendong tasnya. Lalu ia berlari ke luar hutan menuju dusun Serbahese yang sedang berduka akibat hilangnya Elizabeth. Ya, meski sudah sebulan berlalu, warga dusun masih bersedih, Elizabeth yang merupakan primadona di kampung ini adalah kesayangan semua orang. Apalagi Mbok Yem, admin lambe dusun yang rajin menebar gosip-gosip hot yang membuat kampung selalu lebih hidup. Warga Dusun menyayangi keduanya. Sesampainya Mail di desa, dia langsung menuju rumah Pak RT, soalnya kalau gak lapor ketua Rukun Warga, takut gak afdol acara grebeg Si Buto Ijo-nya nanti. “Samlekum!” Seru Mail dari pekarangan rumah Pak RT. “Kumsalam, nyari sapose?” Tanya Ijal, anak Pak RT yang agak sedikit melambai. “Ini rumah siapa?” Mail balik bertanya. “Yee, situ dateng ke rumah siapa?” Ijal punya bibit nyolot ternyata. Dia gak mau digas sama Mail, jadi ya dibales deh begitu. “Heu, dasar lu terong presto! Mana bapak lu? Pak RT mana?” Tanya Mail tak sabar. “Ya siang-siang gini sih gak di rumah lah, emang bapak ogut pengangguran apah?” “Terus ada di mana?” “Noh di kali, lagi benerin tambak!” “Okeeh, gitu kek lu dari tadi, dasar Ijal Ijel” Ledek Mail. Begitu Mail sudah tahu keberadaan Pak RT, ia segera berlari lagi menuju tambak ikan milik pak RT. Jarak dari rumah Pak RT ke lokasi tambak lumayan jauh, karena rumah Pak RT berada di tengah dusun sedangkan tambak ada di dekat sungai, jadi Mail perlu membelah jalanan dusun untuk menghampiri Pak RT. “Pakkk! Pak erteeee!” Mail sudah semangat berseru memanggil Pak RT padahal jarak keduanya masih terpisah sekitar dua puluh meter. “Kenapa sih kamu heh?!” Seru Pak RT ketika Mail sudah berada di dekatnya. Sementara itu yang ditanya tidak langsung menjawab, ia sedang mengatur napas karena kelelahan berlari. “Heh? Kenapa?” Tanya Pak RT lagi. “Itu Pak, huh, anu, si raksasa hijau! Huh, udah aku tangkep Pak!” Seru Mail semangat dengan napas yang terengah-engah. “Buto Ijo?” Pak RT terdengar tidak percaya. “Iya Pak, siapa lagi kalo bukan Buto Ijo?” “Gimana cara nangkepnya kamu? Terus mana dia sekarang?” “Ada lah Pak, pake otak bukan otot hahahaha! Ya dia sekarang ada di dalem hutan Pak, mana saya bisa bawa dia kemari?” “Yaudah, kamu ke rumah mbok Yem, saya siapin pasukan, nanti kita semua ke sana!” Pak RT mulai memberikan intruksi. “Siap Pak!” “Ketemu di lapangan ya, Mail?” “Siap Pak!” “Siap-siap aja lu!” “Hehhehe, ayok Pak!” Ajak Mail. Lalu, Pak RT pun meninggalkan tambaknya begitu saja. Mereka bergegas, namun keduanya terpisah, Mail menuju rumah calon mertuanya; Mbok Yem. Pak RT berjalan ke arah balai warga. Sedang berjalan santai Mail tiba-tiba mendengar seruan Pak RT dari balai warga melalui pengeras suara. Pak RT yang mengajak penduduk dusun Serbahese berkumpul di lapangan untuk membinasakan Buto Ijo yang sudah menggangu ketentraman dusun Serbahese. “Para wargi nu abdi sayangi, hayu mangga urang ngumpul di lapangan. Jajaka karesep urang kabeh; Mail, geus tiasa nangkep Buto Ijo. Hayu, bring urang ka hutan!” (Para warga yang saya sayangi, ayok kita berkumpul di lapangan. Anak lelaki kesayangan kita semua; Mail, sudah bisa menangkap Buto Ijo. Ayo kita bersama pergi ke hutan!) Mail tersenyum mendengar seruan itu. Akhirnya, dia dianggap jadi kesayangan warga-warga di sini. Tapi mendengar itu juga, Mail menit mempercepat langkah kakinya agar segera sampai di rumah Mbok Yem. Ketika Mail tiba, Mbok Yem ternyata sudah ada di luar, menyambut Mail dengan tatapan sumringah. Membuat Mail tersenyum senang, sepertinya ia mendapat restu dari Mbok Yem. Tapi sayang, Elizabeth sudah tenang di dalam usus buntunya si Buto Kampreeet ituh. “Mail? Bener itu yang dibilang Pak RT?” Tanya Mbok Yem semangat. “Bener Mbok, aku sudah berhasil menangkap si Buto.” “Terus gimana?” “Dia ngeyel Bude, masa kata dia Elizabeth hilang, dia bilang dia gak makan Elizabeth, kan ngawur ya?” Jelas Mail. “Sejak kapan situ manggil sini Bude?” Tanya Mbok Yem. “Heheheheheh,” Mail nyengir polos. “Jadi Buto Ijo bilang kalau dia gak makan anaknya Mbok Yem?” “Iyaa, gak jelas emang tu makhluk, dia bilang Elizabeth hilang, terus capek lah kejar-kejar, jadi dibiarin aja Elizabeth lolos.” Mbok Yem hanya menganggukkan kepalanya pelan. Ia penasaran dengan nasib Elizabeth yang sebenarnya. Apakah raksasa itu berbohong atau dia berkata sejujurnya? “Ayok Mbok, kita kumpul sama warga! Kita rame-rame ke dalam hutan! Kita bakar si Buto Ijo, sama hutannya sekalian! Biar dia gak meresahkan lagi!” Seru Mail semangat, namun itu malah membuat Mbok Yem ngeri. Ya, bila hutan dibakar, bagaimana dengan kehidupan yang ada di dalamnya? Kan tidak cuma Buto Ijo yang tinggal di dalamnya. “Ayok!” Sahut Mbok Yem, di kepalanya masih banyak tanda tanya. Berjalan beriringan, mereka pun menuju lapangan yang memang terletak di pinggir hutan. Tanah lapang tempat anak-anak bermain, para bapak-bapak main adu ayam, atau para ibu-ibu meeting urusan Lambe Dusun. Ketika sampai di lapangan, sudah banyak warga yang menunggu, sesuai dengan arahan Pak RT. Lalu, ada pula pak Kepala Desa yang membawa tombak yang ujungnya memiliki panah tajam dari besi sebanyak tiga buah; Trisula. “Allahu, pak Kades, kamu teh mau masuk ke hutan apa mau nyelami Samudera melawan Poseidon?” Tanya Mbok Yem. “Waduh? Siapa tuch?” Pak Kades rupanya gak kenal sama Babang Pose Sang Penguasa Lautan. “Itu loh, Aquaman versi Yunani.” Jawab Mbok Yem singkat. “Wadu, Mbok, sapa pula itu Aquaman? Saya taunya cuma Pokemon.” sahut Pak Kades. Mbok Yem mendecak kesal. Jauh banget hubungannya antara Aquaman dan Pokemon. Malah, gak ada hubungannya sama sekali sih. Yang satu kartun, yang satu superhero DC Comics. Hih! Orang-orang sini kenapa sik? Pada gak tahu dongeng Yunani, huh, pantes aja aku yang jadi admin Lambe Dusun, wong aku yang paling pinter! Batin Mbok Yem mengomentari pengetahuan Pak Kades yang sebatas Pokemon. “Hallo semua warga!” Seru Pak RT. Ijal dan Pak RT bergabung di lapangan, mereka memegang beberapa buah tombak yang oleh Ijal ke beberapa pemuda. “Gimana Pak, bener Buto Ijo sudah tertangkap?” Tanya Pak Joko. “Betul Pak, Joko. Anak kita, Mail dengan gagah berani membuat Buto Ijo pingsan, jadi mari kita bergegas ke hutan untuk melenyapkannya sebelum ia terbangun lagi.” Seru Pak RT. “Ayo!” Seru salah satu warga dengan semangat, ia bahkan membakar ujung tombaknya. Sepakat, para warga berjalan memasuki hutan dengan Pak RT, Mail, Mbok Yem dan Pak Kades yang berada di depan memimpin jalan. Sudah jauh mereka masuk hutan namun belum sampai juga. Hutan sudah mulai gelap, dan api dari tombak beberapa warga menerangi jalan mereka. “Masih jauh gak Il?” Teriak seorang warga dari belakang. “Lumayan Pak, kalau gak jauh ya gampang ketemu dong si Buto.” Sahut Mail yang mantap melangkahkan kakinya. Satu bulan berada di hutan, ia mulai mengenali keadaan hutan. Tempat mana saja yang terdapat hewan buas, mana yang ada mata airnya. Dan lain sebagainya. “Oh iya, bener juga!” Sahut warga tersebut. Sekian lama mereka melangkah, akhirnya mereka sampai di tempat Mail mengikat Buto Ijo di sebuah pohon besar. Para warga terkaget-kaget melihat sosok Raksasa Hijau yang menyeramkan ini. “Gusti Pangeran! Ternyata beneran ada Buto Ijo!” Beberapa warga yang belum pernah melihat Buto Ijo pun ternganga dicampur rasa takut. “Dia mati?” Tanya salah satu warga. “Engga, Pak'e dia cuma aku bikin pingsan, itu pun susah.” Ujar Mail. “Ayok kita bakar aja dia! Mumpung dia lagi tidur!” Ujar Pak Kades. “Jangan Pak!” Seru Mbok Yem, membuat beberapa orang heran. “Lha, kenapa Yem? Dia kan udah makan anak kamu. Kalau nanti yang lain ikut jadi korban gimana?” Ujar Pak RT. “Ini... ini kita di dalam hutan Pak, kalau hutannya ikut terbakar lalu habis bagaimana?” “Ya gak apa-apa!” Seru seorang warga. “Yang gak bisa gitu! Banyak hewan tinggal di hutan ini, kita sering cari makan di sini. Lagi, kalau apinya menyebar ke mana-mana dan malah membakar Dusun Serbahese bagaimana?” Tak salah memang Mbok Yem punya predikat pintar. Selain pintar, ia juga tahu mana-mana hal yang benar. Di samping itu, sebenarnya Mbok Yem tak tega jika Buto Ijo dibunuh dengan cara dibakar. Selama ini Buto Ijo baik padanya, walaupun obrolannya suka nyebelin. Dan... Buto Ijo meresahkan Dusun Serbahese pun karena Mbok Yem melanggar janjinya. Mbok Yem tahu kalau Buto Ijo tidak berbahaya. “Hemm, gimana dong?” Tepat saat itu juga, Buto Ijo bergerak, ia siuman dan hal itu membuat semua orang mundur serentak kecuali Mbok Yem. Ketika mata tajam Buto Ijo terbuka semua, ia tampak marah, ia bergerak untuk melepaskan tali yang mengekang tubuhnya namun ia tak jua lepas, Mail sangat kuat mengikatkan tali tersebut. “Heh manusia! Buka ini!” Seru Buto dengan suara seramnya, membuat bulu kuduk semuanya meremang. “Gak bakal bisa dibuka itu! Aku nih anak pramuka! Kalau mau buka, harus ngucapin dulu tuh Dasa Darma Pramuka!” Seru Mail dengan nada congkak. “Apaan? Dasa Dharma Pramuka? Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, Patriot yang sopan dan kesatria, yang gitu-gitu maksudnya?” “Lha? Kok tahu?” Mail tercengang. “Emang yang ikut Pramuka elu doang! Gini-gini gue memperingati hari Pramuka yaa tiap tanggal 14 Agustus!” Seru Buto. Mail makin dibuat kaget. Bisa-bisanya ada Raksasa tahu Pramuka. Tapi, tentu saja Mail yang licik bisa mencari celah. “Hemm, oke... tapi tadi tuh lo langsung lompat ke nomor dua sama tiga, But. Nomor satunya apa?” “KHAN GUE UDAH BILANG! JANGAN PANGGIL GUE BUT!” Seru Buto Ijo marah, membuat warga tersentak dan akibatnya beberapa darinya lari terbirit-b***t meninggalkan hutan. “Sudah-sudah! Semuanya! Kita sepakat! Buto Ijo harus kita musnahkan! Dia akan kita bakar saat ini juga!” Pak Kades menengahi keributan yang dibuat Mail dan Buto Ijo. Buto Ijo syok mendengar itu. Ia tak menyangka akan dibakar oleh orang-orang yang hidupnya yak pernah ia ganggu ini. Salah aku apa? Hiks! Jerit Buto Ijo dalam hati. Lalu, para warga yang masih tersisa pun gotong royong mengumpulkan kayu yang bisa dipakai untuk membuat api semakin besar agar Buto Ijo bisa terpanggang dengan sempurna. “Mbok! Demi Alek aku gak makan si Elizabeth Mbok!” Seru Buto, saat ini hanya ada Buto Ijo dan Mbok Yem, warga yang lain berpencar mengumpulkan kayu. “Terus anakku kemana?” Tanya Mbok Yem. “Ya aku yo ndak tahu, Mbok! Dia kukejar larinya cepet banget, kaya orang kebelet be'ol.” “Dia udah gak pulang sebulan, Buto.” Ucap Mbok Yem sedih. “Tapi suer, aku gak makan dia.” Mbok Yem mengangguk sedih. Lalu, ia mengeluarkan sebuah pisau dari lipatan bajunya. Mbok Yem mendekati Buto dan mengiris beberapa tali yang mengekang Buto. “Nanti, pas mereka dateng, kamu berontak aja ya? Udah kubebasin, jangan kabur sekarang, nanti mereka marah sama aku.” Ucap Mbok Yem. “Makasi Mbok! Aku ikutan sedih Elizabeth hilang, semoga, dia cepet pulang ya Mbok!” Sahut Buto Ijo. Saat para warga kembali, mereka mengumpulkan kayu mengelilingi pohon tempat Buto Ijo diikat. Sudah merencanakan skenario kabur dengan Mbok Yem, Buto memberontak ketika Pak Kades menyulutkan api ke kayu-kayu tersebut. Mereka semua kaget ketika Buto Ijo terlepas, ia langsung berdiri dan terlihat sekali ukuran Buto Ijo yang super tinggi dan besar. “Bajirut! Gimana caranya dia bisa lepas?!” Seru Mail, dan ia pun melempar tombak dengan api ke arah atas. Lemparan api Mail mengenai rambut Buto Ijo yang gondrong, dan itu membuat Buto Ijo melonjak-lonjak tak karuan. Kesal dengan Mail yang sudah menipunya dan membakarnya, Buto Ijo menunduk dan mencengkram Mail. Membuka mulutnya lebar-lebar, dengan sekali gerakan, Mail ditelan olehnya. Warga yang melihat itu langsung berlari, termasuk Mbok Yem yang menyesal telah melepaskan Buto Ijo. Duh gusti, apa yang sudah aku lakukan? Sekarang gara-gara aku, gak cuma Elizabeth yang bermakam di lambung si Buto, tapi juga Mail. Batin Mbok Yem sedih. *** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN