Senyum Fiyah kian mengembang, dia sangat sangat merindukan sosok Kahfi. Entah kenapa akhir-akhir ini dia sangat ingin dipeluk, dimanja dan di perhatikan sang suami. Namun, karena ada drama hindar menghindari Fiyah harus menelan ludah susah payah. Tiap malam dia akan mengambil baju sang suami untuk dipakai, harum baju tersebut mampu merendam rindu yang kian membuncak. Meskipun disurat Kahfi menyuruhnya untuk tidur, Fiyah tidak juga kunjung tidur walaupun jam sudah menunjukan pukul 12 malam. Disatu sisi dia bahagia di sisi lain perasaannya juga tidak enak. "Kan kangen, abang kok gak pulang-pulang" lirih Fiyah pelan. Matanya sudah berkaca-kaca menanti sosok laki-laki yang sudah dicintainya itu. Fiyah sudah menggunakan smartphone yang dibelinya Kahfi. Dia sangat ingin

