Ya Allah apa lagi ini" teriak frustasi Angga. Kepalanya terasa mau pecah, masalah selalu berdatangan tiada hentinya. Buliran air mata frustasi mulai membanjiri pipi yang sudah mulai menampakkan keriputnya. Sang istri masih belum bangun dari pingsannya, anak semata wayangnya sedang berada dikantor polisi yang tidak tau bagaimana perkembangan kasusnya, dan menantu kesayangannya mengalami kecelakaan. Angga mencoba untuk menerima keadaan yang seakan menjepit dadanya. Kilaun rasa sakit ini lebih dari apapun, bahkan dia berpikir kenapa bukan dia saja yang mengalami itu semua. Kenapa harus orang-orang tersayangnya? Dengan tenaga yang masih tersisa Angga melangkah dengan lemah untuk mengurus kepindahan sang istri ke rumah sakit sang menantu sedang ditangani sekarang. Dia tidak tau

