Saat Tasya masih dalam keragu raguan nya, Niko keluar dari mobil. pria itu berjalan Linglung ke arah Tasya dan tak lupa senyum smirk di bibirnya. dengan keadaan lunglai ia berjalan menatap wanita di depan nya.
"sayang..." panggil nya dengan merentangkan ke dua tangan nya ke arah Tasya yang masih tak percaya dengan ke adaan calon mantan suami nya itu. yang dalam hitungan bulan mereka akan sah menjadi mantan suami istri dan pada saat itu Tasya akan benar benar pergi dari hidupnya.
Pria itu tersenyum dan seklai kali tertawa melihat wajha Tasya yang sedang memelototkan mata nya, sebab bisa bisa nya pria itu memanggil nya sayang apa dan ia lupa jika tadi pagi ia mengantarkan surat penceraian mereka. mana yang ngantar pengacara nya bukan dia dasar pria tak gentle dan sekarang lihatlah dia malah mabuk mabuk an dan panggil "sayang" oh god.
Niko ingin memeluk nya namun Tasya sedikit menjauh namun gagal sebab Niko sudah ambruk di tubuh nya , dan untung saja pak sopir dengan sigap membantu nya jika tidak mereka beruda akan ambruk bersama ke lantai.
"Pak tolong"" lirih Tasya
Pak sopir menarik tubuh Niko dari tubuh Tasya lalu membantu memapah tubuh tuan nya masuk ke dalam rumah. dengan di arahkan oleh Tasya letak keberadaan kamar mereka.
setelah sampai di kamar pak sopir segera emeletakkan tubuh tuan nya di atas ranjang lalu pamit. dan Tasya mengantarkan nya sampai keluar rumah, setelah itu tak lupa ia mengunci kembali pintu rumah nya.
dan setelah itu kembali ke kamar nya dimana disana sudah ada Niko, sebab di rumah nya inihanya ada 2 kamar 1 milik nya dan satu lagi sudah di tempatkan oleh Bik Mirna.
Tasya duduk di samping Niko, ia sedikit mengenduskan penciuman nya di tubuh sang suami, dan seketika ia merasa penciuman nya menjadi buruk sebab tubuh Niko penuh dengan bauk alkohol yang menyengat hidung nya. .
'bau alkohol' lirih Tasya.
wanita itu membantu melepaskan sepatu,jaket dan tak lupa ia sedikit membasuh wajah Niko dan tubuh nya dengan air hangat agar pria itu bisa nyaman tidur.
setelah selesai semua nya ia ingin meletakkan baskom dan handuk bekas basuh wajah dan tubuh Niko ke kamar mandi namun tangan nya malah di tahan oleh Niko.
"Jangan pergi , tetaplah bersamaku" ucap Pria itu dengan mata terpejam
"kamu yang minta aku pergi, dan kita juga tak bisa bersama" jawab Tasya walaupun ia tau bahwa Niko tak mendengar nya.
Tasya melepaskan genggaman tangan Niko di pergelangan tangannya lalu segera kekamar mandi setelah itu kembali ke kamar lagi. malam ini Tasya akan tidur di kamar Bik Mirna , sebelum itu ia menyelimuti Niko dengan benar dan tak lupa mengecup dahi pria itu. lalu keluar.
.
.
.
Pagi Hari nya.
Niko terbangun dari tidurnya, kepala nya terasa berat iia tau betul jika efek nya akan seperti ini apalagi semalam ia mabuk nya keterlaluan.
sesaat ia sadar dari mabuk nya samar samar ia memperhatikan isi kamar di sekeliling nya. ia tau betul kamar siapa ini namun kenapa ia disini.
"sudah bangun?" Tanya Tasya, istri Niko
Niko melirik ke arah pintu dimana disana ada Tasya. dan pria itu mengangguk anggukan kepala nya.
"aku sudah masak sup pengar, ayo makan siang" ajak wanita itu dengan senyun yang tak pernah lepas dari wajah nya, yang sial nya Niko selalu kalah jika wanita itu sudah tersenyum.
"aku mau mandi dulu" jawab Niko yang masih memegang kepala nya
"baiklah" jawab Tasya lalu ia segera menutup kembali pintu nya.
.
.
.
Dirumah Alexi
Wanita itu sedang kepanasan bukan demam tapi hati nya yang seperti nya sedang kebakaran, sebab pria nya semalaman tak pulang. di tambah sang asisten pribadi kekasih nya juga tak tau kemana tuan nya pergi..
"lo benar nggak tau kemana Niko?" Tanya Alexi kepada pria berstelan Biru tua yang sedang sibuk dnegan Tablets.
"iya Nona" jawab pria itu sekena nya, sebab ia masih tak bisa terima wanita ini yang akan menjadi nyonya untuk tuan nya.
"Nona? aku nyonya disini" bentak Alexi
"maaf saya akan memanggil anda nyonya jika anda sudah resmi jadi istri tuan Bos, kalau sekarang yang saya panggil nyonya hanya nyonya Tasya" jelas Pria itu yang tak lain adalah Yoga. ia menekankan suaranya pada kalimat terakhir. seolah ia tak ingin memanggil orang lain nyonya selain Tasya.
"LO...." geram wanita itu
Yoga tak memperdulikan wanita itu, ia hanya fokus dengan tablets yang ada di tangan nya.
"Kemana Niko?" Tanya Alexi
"saya nggak tau"
"kan lo semalam dengan nya"
"saya nggak mungkin 24 jam dengan dirinya"
"lo kenapa nyeselin si.."
"maaf nona saya permisi" ucap yoga sebab ia juga sudah muak melihat Alexi, dan soal Niko ia sudah tau dimana tuan nya itu setelah mendapat kabar dari sopir yang semalam mengantar Niko.
dan kenapa ia tak memberitahu Alexi sebab masalah nya tetap sama ia tak menyukai wanita itu. menurutnya Alexi adalah wanita Matre dan buruk sangat tak cocok jika bersama tuan nya, namun tuan bosnya tak pernah mendegar perkataan nya.
.
.
.
Niko yang sudah selesai mandi ia segera keluar dari kamar milik Tasya yang menuju dapur. benar saja di sana sudah ada Tasya yang sedang sibuk dengan HP nya.
"sibuk?" Tanya NIko setelah ia sampai di dapur
"mas NIko" jawab tasya , lalu wnaita itu segera menyimpan HP nya kesaku celana nya.
"kenapa? disimpan?" Tanya Niko, dan sekarang ia sudah duduk disamping Tasya.
"nggak tadi aku habis lihat kondisi cafe dari CCTV di HP" Jelas Tasya
"mas mau makan ? atau mau aku buatkan minum?" Tambah Tasya
"air putih dan aku mau makan" Jawab NIko
"baik, tunggu aku akan mengambilkan nya untuk mu" Tasya segera mengambil gelas dan menungkan nya air yang ada di teko di atas meja, setelah itu piring dan ia menambahkan nasi beserta lauk pauk dan tak lupa sup pengar agar efek mabuk nya hilang. setelah it a=ia memberikan nya ke NIko. dan duduk kembali
"terimakasih" ujar Niko
"sam sama"
"kamu nggak makan?"
"aku masih kenyang mas, soal nya tadi aku sudah sarapan. kamu jangan salah paham sebab tadi pagi aku membangunkan mu tapi kamu nggak bangun bangun jadi nya aku sarapan berdua dengan bibik" Jelas Tasya
"ya sudah aku nggak papa kok"
"syukurlah"
"kamu kenapa masih melayani ku? bukan kah kita akan bercerai?"
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
To Be Continue