Semenjak malam itu Niko tak pernah lagi ada kabar, bahkan mengunjungi Tasya nya pun tidak. namun tiba tiba siang ini hal yang ditunggu tunggu namun juga sedih menghampiri Tasya.
"jadi nya ini beneran berakhir" ucap Tasya saat melihat surat perceraian yang sudah dikirim oleh Niko melalaui pengacara nya.
"maaf nyonya"
"ha.. ngak perlu minta maaf pak. ini bukan salah bapak kok"
"saya tidak enak mengantarkan ini"
"nggak papa pak, oh iya di bagian ini kan yang perlu saya tanda tangani" tunjuk Tasya pada sebuah kotak kosong yang ada namanya disana
Pak pengacara yang bernama pak Anto pun mengangguk ke arah Tasya.
dengan mengambil napas anjang Tasya menandatangi surat tersebut.
'mungkin ini emang jalan ku dengan nya' ucap Tasya bermonolog dalam hati.
"sudah pak" Tasya memberikan surat tersebut ke pak Anto
"baik nyonya, terimakasih. dan persidangan akan dilakukan 1 minggu dari hari ini, nanti saya hubungi kembali dan masalah harta kita bicarakan setelah ini ya nyonya"
"hmmm, apa saya boleh tak datang ke acara persidangan saya nanti?" Tanya tasya ragu ragu
"boleh kok nya"
"baiklah terimakasih pak" balas Tasya kemudian
"saya permisi" pamit pak Anto
Tasya mengantarkan nya sampai ke depan rumah, setelah pak Anto masuk ke dalam mobil nya barulah Tasya kembali masuk.
"nyonya" Bik Mirna mnegerti apa yang sedang terjadi dengan pernikahan nyonya dan tuan nya.
"bibik nggak perlu panggil aku nyonya lagi, kan sebentar lagi aku akan cerai sama mas Niko" ujar tasya sambil berjalan ke arah ruang TV
"nyonya serius akan cerai dengan tuan?" Bik Mirna mengkuti nya sampai ke sofa
"serius dong bik"
"ya sudah, bibik ikut apa yang nyonya pilih saja"
"kalau aku sama mas Niko pisah bibik pilih aku atau kembali kerumah mas Niko?"
"bibik lebih nyaman disini nya"
"benarkah? bibik serius ya.. tenang aja bik masalah gaji pasti Tasya cukupi kok nggak Tasya kurangi" Jelas Tasya antusias.
"nggak di gaji bibik juga ikhlas kok"
"nggak bisa dong bik"
.
.
.
Niko yang sedang di ruang kantor nya merasa gelisah sejak dari tadi pagi. bahkan Yoga sang asisten pun ikut pusing di buat nya.
"lagi mikir apa sih BOs?" Tanya Yoga yang ntah sudah ke berapa ratus kali namun Niko hanya diam.
setelah beberapa menit seseorang yang Niko tunggu mengetuk pintu nya, dan ia dengan sigap membuka nya.
"Gimana? dia setuju? gimana ekspresi nya, nangis? sedih ? atau malah bahagia?" Taya Niko beruntun setelah pengacara nya ia persilahkan masuk.
"ini tuan" pak Anto tak menjawab ia memberikan Map coklat, yang berisi surat yang tlah di tanda tangani oleh Tasya.
Niko membuka amplop coklat itu, saat ia keluarkan suratnya samar samar ia lihat sesuatu yang hampir membuat nya serangan jantung. ya tanda tangan Tasya. wanita itu sudah menandatangi surat penceraian mereka.
"dia setuju?" Tanya Niko dengan suara pelan namun dapat di dengar oleh pak Anto
"iya tuan, seperti yang tuan lihat" jawab pak Anto
Niko terduduk lemas , sebab tadi nya ia berharap jika Tasya menolak tawaran nya. namun salah Tasya malah menandatangi surat penceraian itu.
"cerai?" ucap Yoga dengan wajah tak percaya
"lo serius bos?" tanya Yoga sekali lagi
Niko tak menjawab ia malah menjadi kesal, di sambar nya kunci dia tas meja kantornya lalu segera melucur keluar ruangan nya dan menuju Lift. Yoga yang kenal betul glogat bos nya jika sedang marah.sebab itu ia mengikutinya.
Niko yang tau jika Yoga megikutinya dengan cepat pria itu masuk kedalam mobilnya serta mengunci dari dalam jadi Yoga tak bisa mengikutiya.
ketika Yoga lengah Niko menekan pedal Gas mobilnya dengan kecepat penuh Niko mengendarai mobilnya, ia seperti orang yang kehilangan arah. ia ngebut ngebutan di siang bolong ini. bahkan sekarang tujuan nya adalah sebuah BAR.
sesampai nya di BAR ia langsung disambut dan diantarkan ke ruang VVIP.
Niko yang baru sampai di ruangannya langsung menegak 1 botol whisky yang sudah tertata di atas meja lalu di teguk nya dalam sekali.
"hehh lo gila yaa.." ucap teman nya yang bernama . pria itu langsung menarik botol berisi whisky itu menjauh dari NIko.
"kembalikan!" ucap Niko dengan wajah dingin nya.
"lo kenapa si? seperti habis diputusin pacar aja" ujar pria yang bernama Andrio.
"lebih buruk"
"lebih buruk ?" tanya Andrio dengan wajah tak percaya
"Hm"
"oke gue temani lo minum"
Setelah berucap seperti itu Andrio dan Niko minum bersama. namun mereka tak hanya berdua melainkan ada beberapa wanita sexy yang bergelanjot di samping kiri kanan mereka berdua. .
Niko yang mulai risih melempar wanita yang berada di sebelah kanan dan kiri nya ke arah lantai.
"gue pulang" ucap Niko lalu ia segera bangkit dan pergi dari BAR laknat itu.
Niko pulang dalam keadaan mabuk, namun untungnya ia tak menyetir sebab dalam keadaan sadar ia menelpon sopir nya.
Diperjalanan
"mau kemana kita bos?" Tanya Sopir Niko sambil melirik ke arah Niko yang sudah mabuk level max.
"Pulang ... Tasya" ucap Niko dengan mulur nya yang terus meracau , karena sopir nya ini tau siapa Tasya, ia segera mengendarai nya menuju kesana.
Tak lama kemudian mereka sampai di halaman rumah Tasya, Pak sopr turun dari mobilnya lalu segera mengetuk pintu rumah Tasya.
'semoga saja nyonya masih bangun' ucap pak sopir itu dalam hati
Lama pak sopir mengetuk dan akhrinya pintu tersebut terbuka dan mendapatkkan Tasya yang sedang berdiri dibalik pintu itu.
"ada apa ya pak?" Tanya Tasya takut takut
"saya sopir tuan nya.." jelas pak sopir
"TUAN?" Tanya Tasya yang bingung
"Tuan Niko nyonya.." Jelas Pak sopir
"aaa , kenapa pak?"
"itu nya, tuan" pak sopir menunjuk ke arah mobilnya dimana disana ada Niko yang sedang tertidur"
"kenapa di bawa kesini pak?"
"Tuan yang minta nya"
"tapi..." Tasya ragu ragu menerima Niko, ya walaupun mereka masih dalam status suami istri dan di tambah emang ini rumah milik nya, namun ia merasa aneh saja menerima Niko apalagi pria itu sebentar lagi akan jadi Ex nya.
"Tolong jangan usir saya ya nya, saya takut besok kena amuk Tuan" ucap Pak sopir dengan wajah memelas
"tapi pak..." Tasya masih ragu
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
To be Continue semoga pada suka ya jangan bosan bisan baca cerita aku ya.
klik tombol Like dan komentar nya jangan lupa Bestieee
See you di new Chapter