Angin sore berhembus lembut di halaman rumah baru Edward dan Celine. Taman yang ditata Celine tampak segar dengan bunga-bunga bermekaran. Reno, bayi mungil mereka, terlelap di buaian, sesekali mengeluarkan suara rengekan kecil. Edward duduk di teras, menatap langit yang mulai berwarna jingga. Senyumnya penuh syukur—hidupnya kini terasa lengkap. Namun, ketenangan itu terpecah oleh suara deru mobil mewah yang berhenti di depan gerbang rumah. Edward bangkit, dahi berkerut. Ia tidak menunggu tamu sore ini. Pintu mobil terbuka, dan seorang pria berjas rapi dengan wajah tegas turun lebih dulu. Edward membeku. Itu adalah ayahnya—Adrian Sinclair, sosok yang sudah lama tidak ia lihat sejak ia memilih tinggal di Indonesia. Dari sisi lain, seorang wanita elegan dengan balutan mantel panjang turun d

