Malam semakin dalam, tetapi rumah sakit tetap hidup dengan ritme yang khas: derap langkah perawat yang terburu-buru, bunyi alat monitor yang sesekali berbunyi, serta suara roda brankar berderit melewati lorong. Lampu neon putih di langit-langit ruangan Bu Ratna memancarkan cahaya dingin, kontras dengan kehangatan samar yang coba Edward ciptakan di antara mereka. Celine masih bersandar di kursi, bantal leher yang dibawa Edward menahan kepalanya dengan nyaman. Sesekali ia mengedipkan mata, berusaha mengusir kantuk yang masih tersisa. Ia melirik Edward yang kini duduk di samping ranjang ibunya, jemarinya dengan telaten merapikan selimut, seolah tugas itu sudah menjadi bagian dari dirinya sejak lama. Kenapa dia begini? batin Celine. Seumur pernikahan mereka—yang lebih banyak dipenuhi bentaka

