Hujan turun tanpa henti malam itu, menimpa atap rumah sakit dengan irama monoton — seperti detak jantung yang menua oleh rahasia. Air mengalir di kaca jendela, menelusuri pantulan cahaya dari kamar Celine yang masih menyala lembut di lantai tiga. Di dalamnya, perempuan itu belum tidur. Ia duduk bersandar di tepi ranjang, selimut tersampir setengah d**a, matanya memandangi langit yang kelabu di balik tirai tipis. Dari tempatnya, lampu kota terlihat seperti bintang-bintang yang tersesat — berkilau tapi redup, jauh tapi terasa begitu dekat. Celine menutup matanya pelan, mengingat kembali wajah Edward saat tadi sore duduk di sampingnya. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang tidak ia ucapkan tapi begitu jelas: ketakutan yang disembunyikan di balik cinta. Ia tahu, Edward sedang berperang den

