Langit sore menggantung kelabu di atas gedung pengadilan ketika sidang ditunda untuk hari berikutnya. Wartawan masih berkerumun di luar, mikrofon dan kamera menyorot ke arah tangga tempat Edward dan Helena keluar bersama Celine. “Pak Edward! Benarkah saksi Harris diancam pihak Sinclair?” “Apakah Anda yakin bisa memenangkan banding?” “Bagaimana kondisi istri Anda setelah mendengar kesaksian tadi?” Suara-suara itu menembus seperti badai, tapi Edward hanya menunduk, menggandeng tangan Celine lebih erat. Helena berdiri di sisi lain, wajahnya dingin tapi tegas—seperti perisai yang menjaga mereka dari serbuan dunia luar. “Jangan bicara dulu,” bisiknya pada Edward. “Setiap kata bisa dipelintir. Kita harus tetap tenang.” Edward mengangguk. Tapi di dalam dadanya, badai jauh lebih besar dari s

