bab 22

1194 Kata

Malam itu udara begitu tenang. Angin hanya berhembus pelan, membawa aroma tanah basah sisa hujan sore. Dari teras rumah kecil mereka, lampu bohlam kekuningan memantulkan cahaya hangat yang menenangkan. Celine duduk bersandar di kursi rotan tua, memegang secangkir teh hangat. Edward, yang baru selesai mandi, keluar dengan rambut masih agak basah, mengenakan kaus abu-abu sederhana yang membuatnya terlihat jauh dari sosok pebisnis yang biasa Celine lihat di kantor pusat. “Capek banget kelihatannya,” ujar Celine, menatap suaminya dengan lembut. Edward menghela napas panjang lalu duduk di kursi sebelahnya. “Capek, iya. Tapi rasanya beda kalau pulang dan ketemu kamu.” Celine tersenyum, tapi ia juga tahu di balik senyum Edward tersimpan beban besar. Tekanan dari dewan direksi tidak berhenti. B

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN