Hujan telah reda. Udara malam masih menyisakan aroma tanah basah yang menusuk, bercampur dingin yang merayap hingga ke tulang. Lampu jalan di gang sempit tempat rumah Edward berdiri menyala temaram, bayangannya goyah diterpa angin. Rumah kecil itu berdiri tenang, namun di dalamnya, detak waktu berasa begitu keras, seperti genderang perang yang tak terlihat. Edward duduk di ruang tamu. Wajahnya pucat, matanya merah, dan tangannya gemetar meski sudah ia sembunyikan di atas paha. Pikirannya masih berputar-putar pada pertemuannya dengan Adrian. Setiap kata ayahnya tadi masih membakar telinga, menusuk dadanya seperti belati. "Kau, Celine, dan bayi itu—musuhku mulai hari ini." Kalimat itu tak berhenti terngiang. “Ed…” suara lembut memecah lamunannya. Celine datang membawa secangkir teh hanga

