15

1448 Kata
Aku tak tahu apa pastinya yang dikatakan Kiandra pada Kakek, tapi yang kutahu adalah beberapa hari setelah aku keluar dari rumah sakit Papa sudah berada di rumahku. Ia benar-benar tinggal bersamaku. Bahkan Kiandra sendiri yang mempersiapkan kamar untuk Papa. Ehm, tentu saja, kamar Papa yang semestinya. Aku hampir tak percaya apa yang dilihat oleh mataku, namun ketika kucubit lenganku maka aku tahu. Semua itu nyata. “Apa yang kau  katakan pada Kakek?” Kiandra tersenyum saat menyusun beberapa perlengkapan Papa di kamarnya. “Aku hanya mengatakan bahwa kau ingin merawat Papa. Dan ia memperbolehkannya.” “Hanya itu?” tanyaku tak percaya. Kuraih tangannya dan kuajak ia berdiri. Kutatap matanya dan aku bertanya lagi. “Benar-benar hanya itu?” Ia mengangguk. “Tentu saja. Ia sempat ragu, tapi akhirnya aku berhasil meyakinkannya,” jawabnya. “Apa kau senang?” “Tentu saja!” jawabku cepat. Dan kemudian, tanpa sempat berpikir, kutarik tubuhnya dalam pelukanku. “Terima kasih,” lirihku di telinganya. Beberapa detik aku seolah membeku di duniaku sendiri. Apa sekarang aku tengah berterima kasih padanya? Bagaimana bisa? Tapi, kuenyahkan seketika pikiran itu. Aku hanya terlalu bahagia karena Papa yang kembali pulang. Dan Kiandra tak membalas ucapan terima kasihku melainkan kurasakan kedua tangannya yang menempel di punggungku. Lantas, kurasakan usapannya di sana. Kuhirup aroma rambut Kiandra yang harum dan pelukan itu semakin mengerat, seolah aku ingin menarik tubuhnya masuk ke dalam tubuhku. Mungkin saat itu pelukanku sedikit menyakitinya, tapi ia tak protes. Untuk beberapa saat kubiarkan pelukan itu yang menjamah kami berdua hingga kemudian kuurai tubuhnya dan kutatap matanya. Mendadak untuk semua perlakuan kasarku padanya, aku merasa tak enak padanya. Kiandra tersenyum padaku. Dan seketika aku tak tahan melihatnya. Bibir itu diciptakan bukan hanya untuk tersenyum. Ya, sekarang aku tahu itu. Maka aku kembali menyerah padanya. Dan kurenggut senyumnya dalam satu kecupan dalamku. Semua terasa begitu tepat sekarang. Untuk beberapa detik yang tak berarti, bisa kurasakan keterkejutan Kiandra. Namun, tak lama. Detik selanjutnya dapat kurasakan penerimaan dari dirinya. Mulutnya dengan perlahan membuka. Seolah ungkapan selamat datang yang begitu intim bagiku. Maka, kujelajahi miliknya. Kuhisap semua rasa manis yang ia sajikan di sana. Dan kukecup setiap kelembutan yang ia tawarkan untukku. Lantas, kurengkuh tubuhnya demi tak ingin hal itu berlalu begitu cepat. Aku menciumnya dengan begitu dalam. Seakan aku takut tak lagi ada hari esok di mana aku bisa mencecap rasa bibirnya. & Semenjak Papa tinggal kembali bersamaku, aku yakin aku benar-benar bahagia. Setiap saat aku bisa melihatnya dan bahkan menyentuhnya. Aku pun turut bercengkerama dengannya seraya menikmati sejuk udara sore di pelataran rumah. Tak lupa Kiandra akan menemaniku dan Papa. Walau ia tak mengerti tiap isyarat yang Papa berikan, tapi ia tersenyum. Dan kurasa itu juga membuat Papa menjadi lebih bahagia sekarang. Aku dapat melihat itu dari sinar matanya. Semua terasa begitu sempurna hingga pagi itu kurasa semua tak semulus yang kukira. Pagi itu ketika Kiandra menyiapkan sarapanku sedang aku duduk di meja makan seraya menyesap teh mintku, kulihat wajahnya yang memucat. Beberapa kali retina mataku menangkap dirinya yang tak sengaja membentur sisi meja atau bahkan salah membawa piring. Kutanya padanya apa ia sedang sakit, namun ia hanya menggeleng. “Benar?” tanyaku lagi seraya menahan satu tangannya. Dan ia kembali mengangguk. Maka kulepas tangannya. Ia kembali ke dapur dan aku mulai menikmati sarapanku. Beberapa suapan nasi goreng itu terasa nikmat sampai dimana telingaku menangkap teriakan dari dapur. Segera saja aku bangkit dan beranjak ke sana. “Kiandra,” desisku melihat Kiandra yang terbaring di lantai. Segera kuhampiri tubuhnya. “Ada apa ini?” tanyaku pada dua orang asisten rumah tanggaku. “Nyonya tiba-tiba pingsan, Tuan.” Kuangkat tubuh mungil itu dalam gendonganku dan dapat kulihat betapa pucatnya wajahnya. Aku pun segera memerintahkan mereka untuk segera menghubungi dokter keluarga. Mendadak, perasaan cemas menghampiriku. Selama dokter memeriksa keadaan Kiandra di kamar, maka selama itu pula perasaan khawatir menyerangku. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku, hanya saja aku merasa bahwa aku tak bisa melihatnya seperti itu. Apa ia sakit karena terlalu sibuk mengurus aku dan Papa? Ia sakit karena aku? Tapi, kemudian kupikir bahwa sebenarnya vonis sakit dokter lebih baik dari pada vonisnya yang satu itu. Satu kabar yang tak pernah ingin kudengar dikatakan dokter. Kiandra tidak sakit. Ia hanya kelelahan dan semua itu normal. Normal untuk setiap wanita hamil. Ya. Kiandra hamil. Dan sekarang aku terpekur dengan posisi dudukku yang melemas di kursi seraya memandang wajahnya yang masih terlelap. Dokter mengatakan bahwa Kiandra akan segera siuman. Tapi, aku tak tahu apa yang harus kukatakan padanya. Dan memikirkan reaksinya tentang kehamilannya entah mengapa membuat perutku rasanya tak enak. Apa yang ia pikirkan tentang kehamilannya? Lain dari itu, bagaimana dengan aku sendiri? Kuusap wajahku berulang kali demi mengusir rasa frustrasi itu. Aku tak tahu apa tepatnya yang kurasakan. Bayi itu, ia tak seharusnya ada. Ia hanya akan----- “Enrick....” Satu lirihan yang memanggil namaku membuat lamunanku buyar seketika. Aku langsung bangkit dan menghampirinya. Kubantu ia agar bisa duduk dan bersandar di kepala tempat tidur. “Aku kenapa?” tanyanya seraya merapikan rambutnya yang tampak kusut. Aku menatapnya tanpa ekspresi. Sempat terbersit di benakku untuk tak mengatakan berita itu padanya, namun aku sadar. Pada akhirnya Kiandra tetap akan tahu. Janin itu hidup di rahimnya. Cepat atau lambat ia akan menyadarinya. “Kau pingsan. Kau...,” aku meneguk ludahku, semua terasa begitu berat sekarang, “...hamil.” Kedua tangan Kiandra spontan terangkat dan menutup mulutnya sendiri. Kedua matanya membulat sempurna dengan binar......bahagia. Detik selanjutnya, kurasakan ia yang menghambur memelukku. Aku hanya mematung mendapat reaksinya. “Kau gugurkan saja, Kian.” Dan perkataan itu meluncur begitu saja dari mulutku. Apa yang kau pikirkan, Enrick? Kiandra melepas pelukannya. Ia menatapku heran. “Kau bilang apa, Rick?” “Gugurkan saja.” Astaga! Entah mengapa saat ini aku tak berani untuk menatap matanya. “Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?” tanya Kiandra tak percaya. Ia tampak memeluk erat perutnya dengan kedua tangannya. Seolah ia sedang melindungi nyawa di sana dari ancamanku. Aku tersenyum muram. “Anak itu..” Oh, bagaimana bisa aku mengatakannya pada Kiandra? “Anak itu tak akan bahagia lahir di keluarga ini, Kian.” Kiandra menggeleng. Aku menyerah. “Kau lihat bagaimana keluarga ini?” tanyaku hambar. “Kau lihat bagaimana kehidupanku? Kakek dan semua orang di keluarga ini hanya akan membuat bayi itu menderita, Kian. Ia tak akan bahagia.” “Ia hanya tak akan bahagia kalau ia dibuang.” Aku menatap Kiandra dan merenggut kedua lengannya dalam genggaman eratku. “Kau lihat bagaimana kehidupanku? Dan ia juga akan mengalami itu!” Kiandra terdiam. “Kau lihat bagaimana Mamaku selingkuh dan memilih meninggalkan keluarga ini? Kau lihat bagaimana Papa yang akhirnya terpukul hingga jatuh sakit seperti ini? Kau lihat bagaimana buruknya kehidupanku?” tanyaku dengan menahan emosi. “Kau tahu berapa kali aku keluar panti rehabilitas? Kau tahu sesering apa kuhabiskan waktuku dengan benda terkutuk itu? Kau tahu kalau aku pernah menghilangkan nyawa orang ketika alkohol membuatku tak sadar? Kau tahu itu?!” Kutatap matanya dengan lekat. “Dan bagaimana mungkin bayi itu bisa hidup bahagia dengan semua ini, Kian?!” Aku menggeleng berulang kali. “Ia tak akan bahagia! Dan aku tak ingin melihatnya menderita! Jadi, kau harus menggugurkannya!” Mata Kiandra tampak berkaca-kaca. Aku tak tahu apa pastinya yang ia pikirkan hingga membuat air matanya bergulir di pipi mulusnya. Namun, yang kutahu adalah kemudian ia kembali memelukku. Kurasakan deru napas hangatnya di telingaku. Dan lalu ia berkata dengan lirih. “Ia akan bahagia, Rick. Aku tak mungkin meninggalkanmu. Aku akan selalu bersamamu. Dan kau pasti bisa menjadi ayah yang baik untuknya.” Aku menggeleng. “Aku tak bisa, Kian.” “Kau bisa, Rick.” Kiandra melepaskan pelukannya dan kedua tangannya langsung menangkup wajahku. “Kau bisa, Rick.” Dan aku tetap menggeleng. Aku hanya ingin janin itu menghilang. Aku benar-benar tak ingin melihatnya menderita. Namun, kemudian aku menyadari satu hal lainnya. Kiandra sama keras kepalanya denganku. Berkali-kali kukatakan padanya agar menggugurkan kandungannya, maka berkali-kali pula ia menolak permintaanku itu. Bahkan ia dengan sengaja langsung memberi tahu semua orang tentang berita kehamilannya. Tak ayal lagi, sekarang semua orang tahu bahwa ia tengah mengandung. Sekarang bagaimana bisa aku membuatnya menggugurkan kandungannya tanpa diketahui orang-orang? Selain itu, aku tak mungkin melupakan bagaimana raut kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya tatkala ia menceritakan berita kehamilannya pada semua orang. Ia tak akan segan-segan menceritakan betapa ia sangat bahagia karena berita itu. Dan melihat itu, entah mengapa aku terkadang merasa bersalah ketika kuingat aku pernah berniat menjauhkannya dari sumber kebahagiaannya. Sekarang, apakah aku menerima kehamilannya? Untuk pertanyaan itu, aku tetap tak tahu apa jawabannya. Aku benar-benar tak ingin melihat anak itu hidup dengan penderitaan yang sama dengan yang pernah aku rasakan. Tapi, wajah bahagia Kiandra selalu membayang. Tiap malam sebelum tidur kulihat ia yang selalu mengusap perutnya yang masih rata. Ia tersenyum. Dan terkadang aku menangkap momen di mana ia berbicara pada janin di perutnya. Seolah ia sedang berbincang-bincang dengan kehidupan baru di dalam sana. Matanya yang membulat penuh binar mendadak membuat aku tak tahu perasaan apa yang tengah kurasa di dalam d**a. Ia tampak begitu sempurna di mataku. Dan kusadari bahwa ia memang tak seharusnya menikah denganku. & bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN