“Cerai atau gugurkan.”
Dua pilihan itu kukatakan padanya ketika ia bersiap merebahkan tubuhnya di kasur malam itu.
“Kita bercerai atau kau gugurkan janin itu.” Aku mengulang perkataanku. Mataku lurus menatap ke depan, sengaja tak melihatnya. Karena aku takut aku akan mundur kembali.
Seketika Kiandra memutari tempat tidur dan mengambil tempat di dekatku. Tangannya meraih wajahku dan membuatku menatapnya. “Kau bilang apa, Rick?”
“Kau sudah mendengarnya, Kian. Dan itu tak akan berubah.”
Ia tersenyum perih. “Bagaimana bisa aku memilih satu di antara kalian?”
Aku menatapnya kosong. “Kau harus bisa.”
“Aku tak bisa.” Ia menggeleng. “Aku mencintaimu dan anak kita. Dan bagaimana bisa aku memilih antara kalian?”
Aku terdiam.
Matanya mulai berkaca-kaca. “Katakan apa salahku, Rick? Mengapa kau seperti ini padaku? Apa salahku sehingga aku harus memilih satu di antara kalian?”
“Kau tak salah,” lirihku berat. “Aku yang salah di sini. Kesalahan pertamaku adalah menikahimu. Kesalahan selanjutnya adalah aku membuatmu mengandung.”
Sejenak Kiandra hanya terdiam. “Tak ada yang salah dengan itu.”
“Itu hal yang salah, Kian.” Aku mendesah berat. “Seperti yang sudah pernah kukatakan padamu. Hidupmu tak akan bahagia denganku. Termasuk kehidupannya kelak.”
“Jadi karena itu kau memutuskan hal ini?”
Aku mengangguk.
“Kau kejam, Rick,” desis Kiandra.
Aku kembali mengangguk. Aku memang kejam. Semua orang tahu itu. Dan lantas kurasakan pukulan-pukulan di dadaku. Aku bergeming, bahkan ketika tangis mulai mengiringi pukulan itu.
“Kau tak bisa melakukan ini padaku.” Kiandra terisak seraya terus menghujani dadaku dengan pukulannya. “Aku tak bisa memilih satu. Aku tak ingin berpisah denganmu. Dan aku tak ingin kehilangan anakku.”
Sejenak kupejamkan mataku. Menolak kenyataan di depan mataku yang menampilkan wajah Kiandra yang basah dengan air mata. Atau seandainya bisa, tentu saja telah kututup kedua telingaku. Agar isaknya tak menjamah indera pendengaranku. Tapi, semua tak berguna.
“Aku mencintaimu, Rick.”
Dan isakannya makin mengeras hingga kupikir ada sesuatu di dalam sana yang tak menyukai suara tangis itu. Jadi, kurengkuh tubuhnya. Tangisnya teredam di dadaku. Kurasakan hangat air matanya dan tubuhnya yang sesegukan di dalam pelukanku.
“Jangan kau suruh aku untuk memilih dua hal itu, Rick.”
Gelengan kepalanya terasa nyata.
“Aku tak bisa,” lirihnya lagi. “Itu membuat perasaanku sakit.”
Mataku semakin erat terpejam mendengarnya. Aku merasa sangat tak menyukai kata sakit yang ia ucapkan. Lantas, kutenangkan dirinya. Kuusap kepalanya dan kuberi kecupan di sana. Dan lalu, sama seperti kejadian sebelumnya, kata itu meluncur begitu saja.
“Maafkan aku.”
&
Aku merasakan tepukan halus di pipiku. Dan lantas dengan berat hati kubuka kedua mataku. Langsung saja, wajah Kiandra adalah hal pertama yang kulihat. Ia tampak tersenyum walaupun kedua matanya tampak sembab membengkak. Dan kemudian, kuteguk berat ludahku. Aku tertidur dengan membawanya di dalam pelukanku. Bahkan saat ini kedua tanganku seolah saling terkunci di balik punggungnya, membuatnya tak bisa bergerak sama sekali. Wajahku memanas. Jangan bilang wajahku sekarang memerah.
Oh, aku tak mungkin melupakannya. Semalam karena pertengkaran kami, akhirnya aku menenangkannya dalam pelukanku. Kuusap kepalanya dan kubawa ia berbaring. Dan setelah itu kesadaranku menghilang. Ya, kesadaranku menghilang di saat ia berbaring intim denganku.
Dengan menahan perasaan malu, kuurai pelukanku darinya. Ia masih tersenyum saat memutuskan untuk bangkit dari tidurnya. Aku merasa terlalu kaku untuk membalas senyumnya. Atau bahkan terlalu kaku untuk merespon ciumannya yang mendadak jatuh di dahiku. Lantas, ia berlalu.
Hari demi hari berlalu dengan begitu teratur sekarang. Aku tidur di malam hari tepat ketika jam menunjukkan pukul sepuluh dan aku akan terbangun sebelum fajar menyingsing. Aku memang tak melakukan apa-apa. Hanya saja aku jadi tertarik melihat setiap kegiatan Kiandra. Ia bangun pagi. Kulihat ia menunaikan kewajibannya dan ia katakan bahwa ia berdoa agar bayinya dan aku selalu sehat dan bahagia. Aku hanya tersenyum muram mendengarnya.
Kemudian, ia akan turun ke bawah dan menuju ke dapur. Dapat kulihat betapa luwes tubuhnya ketika bersinggungan dengan alat-alat dapur itu. Ia akan bertanya sarapan apa yang ingin kumakan dan ia memasaknya. Ia menyajikannya di hadapanku dan menungguku hingga aku selesai menyantapnya.
Dan setelah itu, ia akan bergegas mengajakku menghampiri Papa. Kami membersihkan dan merapikan Papa. Selanjutnya, kutuntun Papa untuk beranjak di beranda samping. Di sana, Kiandra sudah menyiapkan sarapan Papa dan aku menyuapnya. Kami membicarakan beberapa hal. Dan Papa menanggapinya.
Dari semua itu, ada yang membuat aku begitu tak habis pikir. Ketika Kiandra bercerita soal kehamilannya, saat ia mengusap perutnya yang masih rata, maka dapat kulihat tatapan haru Papa. Tatapan bahagia yang terlalu tak bisa kukatakan. Kurasa saat itu Papa tentu sangat ingin bisa menyentuh Kiandra. Dan Kiandra lantas membawa tangan Papa untuk mengusap pipinya.
Semua terasa begitu mengalir dan kurasa aku sedikit mulai menerima kehamilan Kiandra. Hingga di satu siang, Kiandra mengatakan sesuatu padaku.
“Apa?” tanyaku.
Ia tertunduk malu. “Buatkan aku ayunan di pohon itu.” Ia menunjuk satu pohon. Dan aku segera ingat, di bawah pohon itulah pertama kali kulihat ia.
“Nanti kusuruh Pak Budi untuk membuatnya.”
Ia menggeleng. “Aku mau kau yang membuatnya, Rick.”
Aku menganga. Bagaimana bisa ia menyuruhku untuk membuat ayunan?
“Kupikir ini kemauan anak kita.” Dan senyum malunya terukir seiring dengan membulatnya kedua matanya.
Setelah membujukku berkali-kali, akhirnya aku pun luluh. Dengan berat hati kusuruh Pak Budi untuk mengumpulkan beberapa perlengkapan untuk membuat ayunan sederhana di bawah pohon sana.
Aku tak pandai dengan pekerjaan seperti itu. Tapi, ketika kulihat binar dan tawa Kiandra maka aku mendadak tersenyum. Jadi, dengan bersusah payah kubuat juga ayunan itu. Bentuknya sedikit memalukan menurutku. Tapi, Kiandra mengatakan bahwa itu adalah ayunan tercantik yang pernah ia lihat. Ia segera duduk di sana ketika semua selesai.
Ia menyandarkan punggungnya di sandaran ayunan. Yang mana tentu saja aku telah bersusah payah dengan penuh perjuangan saat membuat ayunan itu agar menyerupai bentuk kursi. Kupikir tentu akan melelahkan kalau Kiandra harus menjaga punggungnya untuk tetap berdiri selama ia duduk di sana.
Ia tertawa dan memintaku untuk mendorongnya pelan. Dan sekarang itulah yang aku lakukan untuknya. Tawanya semakin pecah dan mau tak mau itu membuat senyumku makin melebar.
Semenjak hari itu Kiandra memiliki kebiasaan baru. Bila aku tak melihatnya maka aku akan segera tahu ia berada di mana. Ia selalu menghabiskan waktunya di ayunan itu. Ada benang dan jarum yang menemaninya di sana. Ia mengatakan akan merajut untuk membuat kaos kaki atau topi untuk anak kami. Dan aku hanya tersenyum mendengar perkataannya. Pernah satu hari, kupikir karena cuaca yang sangat panas sedang di bawah pohon itu sangat sejuk, Kiandra jatuh tertidur di sana. Aku hanya bisa mengulum senyum mendapati keadaannya yang seperti itu. Ia tertidur dengan sangat pulas. Tentu saja, angin pasti dengan setia membelai mimpi siangnya. Dan karena aku takut ia sakit bila tertidur di luar, maka kubawa ia dalam gendonganku dengan susah payah. Kandungan Kiandra yang mulai membesar membuatku harus berhati-hati dalam menggendongnya. Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada mereka. Lantas, kubawa ia berbaring di kasur dan kubiarkan ia melanjutkan mimpinya.
Kutatap wajah damainya yang tertidur. Bahkan bisa kulihat wajahnya tampak semakin cerah seiring dengan makin menuanya usia kandungannya. Apa semua wanita terlihat semakin cantik ketika ia sedang hamil?
Aku terkekeh pelan menyadari pertanyaan bodohku itu. Terlepas dari itu, aku cukup tahu diri untuk mengucapkan terima kasih padanya. Ia membawa Papa kembali padaku. Ia membuat Nenekku berbahagia dengan kehamilannya. Dan itu semua sudah terasa cukup bagiku. Aku tak menginginkan hal lainnya. Namun, aku tak munafik ketika ada satu masa di mana aku bertanya pada diriku sendiri. Setelah bayi itu lahir, apakah ia akan tetap berada di sini?
Dan aku kembali terkekeh. Bagaimana bisa aku melupakan kenyataan Kiandra yang tetap berusaha mempertahankan aku dan bayinya?
Seketika, sesuatu membuat aku tergugu.
Ya. Aku meyakini kenyataan bahwa ia tak akan pergi dariku.
&
bersambung ....