17

1611 Kata
Aku tak tahu sudah berapa lama tepatnya tanpa sadar aku menjadi pria rumahan. Sore itu, ketika satu pesan masuk ke ponselku seketika aku sadar bahwa aku sudah terlalu lama menjadi pria rumahan. Sudah terlalu lama aku tak keluar dari rumah dan lebih memilih menghabiskan waktuku dengan Papa dan Kiandra. Dan semua terjadi di luar kesadaranku. Sudah terlalu lama hingga aku sadar bahkan kandungan Kiandra sudah memasuki bulan terakhir. Satu pesan dari Alex sukses membuat aku terpikir kembali untuk mengunjunginya. Kupikir tak ada salahnya untuk bertemu dengannya setelah sekian lama aku menghilang tanpa sempat memberi kabar padanya. Maka malam itu selesai makan malam kukatakan pada Kiandra bahwa aku akan pergi sebentar. Tampak ia ingin melarangku, namun aku meyakinkannya bahwa aku tak akan lama. Akhirnya, ia mengangguk. Walau kulihat senyum muram di bibirnya. Mataku bisa dibilang membutuhkan beberapa detik untuk menyesuaikan keremangan ruangan tempat yang kudatangi. Lampu kelap-kelip tak membantu banyak. Tentu saja, aku sudah lama tak ke sini. Seolah sekarang terasa asing bagiku, padahal hanya sekitar sembilan bulan berlalu. Aku langsung menemui Alex dan ia tertawa melihat kedatanganku. “Apa yang terjadi dengan Enrick?” Ia tertawa. “Kau kemana saja?” Aku tersenyum mendengar sapaannya dan langsung menyambut minum yang ia sodorkan. Ketika bibir gelas itu hendak menyentuh bibirku, mendadak –dengan anehnya- aku terbayang Kiandra yang tengah mengandung besar, lantas kuletakkan gelas itu di meja. “Ada apa?” tanya Alex. Aku menggeleng muram. Ia tak akan mengerti. Tentu saja. Toh, aku juga tak mengerti apa yang tengah terjadi padaku. “Aku...,” lirihku berat seraya berusaha mencari alasan yang tepat untuk kukatakan pada Alex. Dan akhirnya aku tak menemukan alasan apa pun yang tepat untuk menjawab pertanyaan Alex. Aku tak mungkin menjawab pertanyaan dengan mengatakan ‘Oh, maaf, Lex. Istriku sedang hamil dan aku sekarang menjaganya seharian di rumah’, kan? Atau aku harus sedikit menceritakan keadaan keluarga dengan berkata ‘Papaku akhirnya bisa tinggal bersama denganku lagi’? Aku mengenyahkan pikiran itu. Lain dari pada itu, aku lebih memilih untuk malah bertanya padanya. “Bagaimana keadaanmu?” Ia nyengir lebar. “Masih bugar seperti biasanya.” “Aku bisa lihat itu.” Aku melirik jam tanganku sekilas. Namun, Alex tetap menyadarinya. “Kau tentu tak bermaksud untuk buru-buru pulang, kan?” Ia tertawa. Dan aku tak merespon pertanyaannya. Entahlah, sekarang aku merasa ada yang salah dengan keberadaanku di sini. Rasanya tak tepat. Kuhela napas panjang dan kusandarkan punggungku. “Aku hanya ada masalah yang harus kuurus.” “Karena itu kau sudah lama tak bergabung dengan kami?” Aku mengangguk muram. Dan Alex menepuk bahuku, sekilas mengusap ukiran kembar di tanganku. Seolah sedang mengingatkanku tentang betapa banyaknya hal yang sudah aku dan ia lakukan bersama. Aku mengakuinya, sudah terlalu banyak. Sudah terlalu banyak hal buruk yang aku lakukan bersama dengan Alex. Alex adalah teman terlama yang pernah kumiliki. Aku mengenalnya ketika naik kelas dua SMA. Dan kehidupannya tak jauh berbeda denganku. Walaupun sebenarnya aku dengan keahlianku selalu berhasil membuat ia tak tahu banyak tentang kehidupan keluargaku. Aku merasa buruk untuk mengakui aib yang satu itu. Apa pun itu, akan kuceritakan, semuanya, tentangku, tapi tidak tentang keluargaku. Dan karena kami berpikir kami banyak memiliki kesamaan, maka aku dan dia memutuskan untuk membuat tatto. Bisa dibilang sebagai simbol persahabatan kami? Aku meringis. Atau simbol kebanggaan kami? Terserah apa pun istilahnya, yang pasti kami berdua senang memilikinya. Akhirnya pikiranku benar-benar tak tenang. Aku bangkit. “Aku akan datang lagi lain kali, tapi malam ini pikiranku benar-benar sedang tak berada di sini.” Mendadak perasaanku menjadi tak mengenak. Dan aku tak tahu apa penyebabnya. Hanya saja kurasa aku harus secepatnya pulang. Alex menaikkan sebelah alisnya dengan seringainya. “Kutunggu kau lain waktu.” Aku segera beranjak. Kutelusuri ruang temaram tersebut dan menuju ke parkiran. Dari kejauhan kutekan smart key dan mobilku pun berbunyi. Setengah berlari aku menuju mobilku dan aku terkesiap kaget ketika aku masuk ke dalam ternyata seseorang turut masuk. “Sherryl,” desisku. Ia tersenyum padaku, namun aku tak membalas senyuman itu. Jangankan ingin membalasnya, malah saat ini kurasa aku tengah memandangnya dengan tatapan tak suka. “Mau apa kau?” “Ouh.” Sherryl mendekatkan tubuhnya padaku. “Kau menghilang ke mana saja, Rick? Kau sudah lama tak terlihat bergabung dengan kami.” Aku mendengus. “Bukan urusanmu.” “Kau bahkan tak berterima kasih untuk pertolonganku malam itu,” ujarnya mengingatkanku akan peristiwa malam itu. “Aku tak meminta,” tukasku seadanya. Kutatap ia. “Bisa kau turun? Aku sedang buru-buru.” Ia tersenyum. “Kiandra menunggumu pulang?” Dan aku mendadak meradang mendengar bibirnya menyebut nama Kiandra. Aku tak suka. Nama Kiandra tak seharusnya ia ucapkan dengan bibirnya. “Kurasa ia memang tengah menunggumu pulang sekarang,” lanjutnya. “Tentu saja dengan kemarahan yang siap meledak.” Kemarahan? Dahiku berkerut. Apa maksudnya? Dan Sherryl tertawa. Ia mengeluarkan ponselnya. Seketika aku membeku ketika ia menampakkan satu foto yang membuat darahku rasanya ingin berhenti mengalir. Aku menggeleng. Itu tak mungkin terjadi, kan? “Kau mencoba memfitnahku di mata Kiandra,” desisku penuh amarah. “Sebenarnya apa yang kau harapkan dari semua yang kau lakukan?” “Mencoba memfitnah? Apa kau yakin kita memang tak melakukan apa pun malam itu?” Kali ini rasanya aku benar-benar ingin membungkam mulutnya itu. Andai dia bukan wanita. Kuhela napas panjang. Kucoba untuk menahan emosiku. Otakku langsung mengingat kejadian itu. Dan sesuatu terbersit di benakku. Aku sudah bertanya pada resepsionis hotel, bukan? “Kau langsung pulang dan aku terlalu mabuk. Aku tak sadarkan diri. Bahkan aku harus digotong oleh petugas hotel untuk bisa sampai di kamar.” Aku menyeringai. “Kurasa kalau mau diusut pun, rekaman CCTV akan menunjukkannya. Tak ada yang terjadi di antara kita.” Aku menghela napas lega. Seketika wajah Sherry berubah, namun tak lama. Senyumnya kembali terukir. “Sebagus apa pun kau berkata, itu percuma. Tak ada wanita yang akan percaya dengan bukti senyata ini.” Dan langsung saja aku tahu kemana pembicaraan ini berujung. Kiandra pasti telah melihat foto ini. “b******n kau!” Aku berteriak dan langsung ke luar dari mobilku. Kubuka pintu dan kutarik paksa Sherryl untuk keluar dari sana. “Aku tak akan pernah memaafkanmu kalau terjadi sesuatu pada Kiandra!” ancamku. “Aku tak tahu apa yang membuatmu sampai melakukan ini, tapi aku tak main-main dengan ancamanku!” Sherryl berkacak pinggang. Seringai setan yang kulihat terukir di bibirnya. “Kau menolakku. Dan itu sudah cukup menjadi alasan bagiku. Tak pernah ada pria yang menolakku. Seharusnya juga kau tak pernah menolakku.” Aku mendengus. “Kau gila! Dan aku bersyukur menolakmu!” Tanpa membuang waktuku, aku langsung masuk kembali ke mobilku. Secepat mungkin kupacu mobilku pulang ke rumah. Seketika keringat dingin memercik di dahi dan tekukku. Tak mungkin Kiandra melihat foto itu, bukan? Aku memukul kemudi berulang kali. Sumpah serapah berhasil keluar dari mulutku berulang kali. Belum lagi janji-janji pembalasanku untuk Sherryl karena perbuatannya itu. Semua itu mewarnai perjalanan pulangku. Aku hanya berharap apa yang kutakuti tak terjadi. Tapi, begitulah nasib sering bermain. Dan apa yang kutakuti terjadi. Kakiku seakan terpaku di lantai ketika kulihat Kiandra yang menangis di kamar kami. Beberapa helai foto berserakan. Foto yang menampilkan aku dan Sherryl dalam keadaan yang tak pantas. “Kian...” Aku berkata lirih seraya perlahan berusaha menghampirinya. Kiandra mengangkat wajahnya dan kulihat penderitaan di sana. Matanya yang membulat menyirat kesedihan. Kuteguk pelan ludahku. Siapa pun dia, pasti akan terluka melihat foto semacam ini. Aku tahu itu. Aku bahkan masih ingat betapa murkanya aku melihat foto Kiandra dengan Tommy ketika aku belum tahu bahwa ia adalah kakaknya. Maka bagaimana bisa aku berharap Kiandra akan baik-baik saja karena ini? Ia tidak dalam keadaan baik-baik, Rick. “Kau membohongiku, Rick.” Dan kalimat yang diselingi isak itu terdengar di telingaku. Aku menggeleng. Berusaha meraihnya, namun ia semakin menarik diri. “Semua ini tak benar, Kian.” Aku tahu semua yang kulakukan salah. Tapi, aku tak pernah melakukan kesalahan yang satu itu. “Aku tak pernah bersamanya.” “Dia.., wanita yang datang ke pesta kita, kan?” tanya Kiandra. Dan aku tak menjawab. “Kau bersama dengannya setiap malam di mana aku selalu menunggumu pulang.” Dan seketika aku tak pernah merasa lebih buruk selain di saat aku menerima tuduhan Kiandra. Setengah berlari kuhampiri ia yang duduk di sisi tempat tidur. Kutahan kakinya hingga ia tak bisa beranjak. Apakah saat ini aku berlutut di hadapannya? Aku tak peduli. Yang kupikirkan saat ini adalah aku tak ingin ia menganggap semua hal ini benar. Kiandra membuang wajahnya yang berurai air mata. Dan aku merasa begitu perih ketika aku tahu ia tak ingin melihatku. “Kumohon lihat aku, Kian,” pintaku padanya. Kubawa satu tanganku untuk membawa wajahnya ke hadapanku. Tapi, matanya terpejam. “Aku bersumpah aku tak pernah bersamanya.” “Bagaimana bisa aku percaya ketika semua foto itu tampak begitu nyata, Rick?” tanyanya seraya perlahan membuka matanya. Seketika aku menyesal memintanya untuk melihatku. Bagaimana bisa aku melihat tatapan kesedihan di matanya? Dan itu semua karena aku! Rahangku mengeras. “Aku memang b******n, Kian. Tapi, kali ini aku jujur padamu. Tak pernah sekali pun aku berbuat seperti itu dengan Sherryl.” Aku meneguk ludahku. “Bahkan tak pernah dengan wanita lainnya.” Kupikir sekarang aku hanya perlu menjelaskan semuanya pada Kiandra. “Aku memang mabuk malam itu. Dan ia memanfaatkan ketidaksadaranku itu. Ia berusaha memisahkan kita, Kian.” Kiandra menatapku kosong. “Untuk apa ia melakukan itu?” Kukepalkan kedua tanganku demi menguatkan diriku sendiri. “Aku menolaknya. Dan ia tak terima.” Kucoba untuk tetap menahan emosiku di hadapan Kiandra. “Aku benar-benar tak melakukannya.” Air mata Kiandra semakin menderas. Dan aku segera beranjak ke sisinya. Kupeluk ia dan ia menumpahkan tangisnya di dadaku. Lagi-lagi, rutukku. Untuk ke sekian kalinya, kubuat ia menangis di dadaku. Kukecup kepalanya dan kueratkan pelukanku. Sekarang apa yang kau harapkan, Rick? Apa kau yakin Kiandra akan tetap bersamamu? Kutahan sejenak napas di dadaku. Bahkan aku tak bisa menyalahkan Kiandra kalau ia memilih untuk meninggalkanku sekarang. Aku pantas untuk ditinggalkan, bukan? Namun, ada satu perasaan yang mengganjal. Aku tak tahu apa itu, hingga satu kalimat itu keluar dari mulutku. “Percaya padaku, Kian.” Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa lagi sekarang selain mengatakan hal itu. “Aku tak melakukannya. Percaya padaku.” Lantas, kurasakan Kiandra membalas erat pelukanku. Di saat itulah aku justru merasa. Apakah kesempatan kedua benar-benar ada? &
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN