Satu kecupan yang mendarat di pipiku membuat aku tersadar dari tidurku. Aku perlahan membuka mata dan mendapati Kiandra yang tersenyum padaku. Tanpa sadar, aku pun membalas senyumnya itu.
“Kau tak marah lagi padaku?” tanyaku hati-hati.
Dan ia menggeleng.
“Kau memaafkanku?”
Ia menghela napas dan mengangguk.
Rasa-rasanya aku tak percaya ketika kudapati jawabannya yang seperti itu.
“Bagaimana bisa?”
“Aku mencintaimu. Dan ketika kau bilang agar aku percaya padamu, apa lagi yang bisa aku lakukan?” Kembali ia menghela napas. “Lagi pula setelah kupikir-pikir, tak mungkin kau melakukan itu.”
Aku semakin tak mengerti dengan pemikirannya.
“Hatiku memang sempat terluka karena melihat foto itu. Bagaimana bisa aku tidak terluka melihatnya? Pria yang aku cintai terlihat...” Kiandra menghentikan ucapannya. “Tapi, aku memilih percaya padamu. Dan aku memaafkanmu. Aku akan melupakannya.” Ia tersenyum. Dan ia meringguk dalam dekapanku. “Aku memilih berdamai dengan rasa sakitku. Dan aku sadar. Hal itu manusiawi.”
Kueratkan pelukanku.
“Sakitnya terasa dalam karena aku juga mencintaimu begitu dalam. Tapi, ketika aku berdamai dengannya, semua terasa lebih mudah.” Kurasakan ia menghela napas dalam. “Lagi pula itu kan tidak terjadi.”
Lantas, kembali kukecup kepalanya. Hatiku terasa lega sekarang. Sempat terpikir olehku, untuk apa aku begitu mempedulikan soal ini? Aku tak pernah memikirkan tanggapan orang-orang sebelumnya. Tapi, sekarang itu tak lagi berlaku untuk Kiandra. Aku tak ingin mengakuinya, namun aku sadar. Satu saat nanti aku pasti akan mengakuinya. Bahwa sesuatu memang tengah terjadi padaku.
Beberapa saat aku dan Kiandra masih berdiam diri sembari tetap berpelukan di tempat tidur. Kali ini aku sudah terbiasa merasakan hembusan napas hangatnya di dadaku. Atau aku sudah tak lagi geli ketika helaian rambut Kiandra mengusik hidungku. Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya, namun semua terasa begitu tepat.
Kurasa lamunanku sudah cukup jauh ketika mendadak kudengar rintihan Kiandra. Aku memandangnya dan melihat wajahnya yang terlihat kesakitan.
“Ada apa?” tanyaku panik.
Napas Kiandra terdengar cepat dan pendek-pendek. Keringat langsung membanjiri wajahnya. Dan seketika aku merasa duniaku terhenti. Mendadak kepanikan seolah sedang mengambil alih akal sehatku. Ia terlihat begitu kesakitan dan seolah sangat menderita.
“Perutku...,” lirihnya dengan susah payah. “...sakit.”
Hanya butuh dua kata itu dan aku segera bergegas memanggil ambulans. Beberapa orang asisten rumah tanggaku langsung melakukan semua yang kuperintahkan.
Tubuhku menegang ketika aku mendampingi Kiandra yang dibawa ke rumah sakit. Kulihat wajahnya yang menahan sakit. Air mata dan keringatnya tak dapat kubedakan lagi sekarang. Semua sudah menyatu.
Ia menggenggam tanganku dan aku berjanji padanya bahwa aku tak akan melepaskannya. Ia mengangguk walau rintihannya tetap keluar.
Aku berusaha menenangkannya. Aku tak tahu bagaimana sakitnya, namun pasti itu sangat menyakitkan. Kiandra bahkan tak mampu menahannya ketika ia memutuskan untuk berteriak. Saat itu kupikir entah mengapa waktu menjadi terlalu lama berjalan. Tapi, belum menjadi terlalu lama berjalan dibandingkan dengan saat di mana aku mendampinginya saat ia melahirkan. Tanganku benar-benar ia cengkeram dengan kuat. Hingga kulihat tanganku memutih karenanya.
Aku merasa tak berguna ketika tiap kata-kataku terasa tak mampu membuatnya lebih baik. Semua kesakitan yang ia rasakan seakan terekam otomatis di ingatanku. Dan ketika satu tangisan itu memecah, kulihat wajah Kiandra yang memancarkan kebahagiaan. Ia menatapku dan aku mengusap peluhnya. Ia tak berkata apa-apa, tapi aku yakin. Semua terlalu membuncah hingga ia tak bisa mengungkapkannya satu per satu.
Saat itu bahkan aku tak peduli dengan bayi itu. Aku tak peduli dengan jenis kelaminnya apa. Yang mana hal itu wajar mengingat beberapa kali aku menemani Kiandra ketika memeriksa kandungannya ia tak pernah ingin dokter memberitahu jenis kelamin anak kami. Ia mengatakan itu sebagai kejutan. Tapi, sekarang bahkan aku tak peduli lagi. Yang kutahu adalah kelegaan karena melihat Kiandra telah melewatinya semua.
Kukecup dalam-dalam dahinya. Ia memejamkan matanya, seolah meresapi ciumanku. Ketika kuangkat wajahku, ia tersenyum. Dan semuanya benar-benar melegakan. Ketika perawat menyerahkan bayi mungil itu, aku tercekat melihat ia di gendongan Kiandra.
Begitu cantik, lirihku.
Kiandra memberikan ciuman pertamanya pada bayi kami. Dan lantas, ia menatapku. Ia tersenyum lembut dan mengirimkan isyarat padaku untuk menggendongnya.
Kuteguk ludahku dan kuraih ia. Tanganku bergetar ketika sosok mungil itu berada di tanganku.
Matanya yang terpejam, bibirnya yang sesekali membuka, serta pipinya yang begitu berisi, semuanya membuat satu perasaan aneh di dadaku. Aku tak tahu apa itu. Hanya saja aku tak bisa menahan diri ketika kudaratkan satu ciuman lembutku di dahinya. Pergerakan pelannya membuat aku tersenyum.
“Ia begitu menakjubkan,” kataku seketika.
Kiandra mengangguk. “Kau sudah menyiapkan nama untuknya?”
Aku tertegun. Aku merasa tak pantas untuk memberinya nama. Maka kuminta pada Kiandra untuk memilih nama untuknya. Dan Kiandra tak membantah.
Setelah semua perjuangan itu, Kiandra beristirahat di kamarnya. Sedang aku, setelah kupastikan Kiandra tertidur, aku beranjak ke box bayi. Tempat di mana bayi mungil itu tengah tertidur. Tanpa menyentuhnya, aku menatapnya.
Kulihat ia yang tertidur pulas di sana. Itu benar-benar sesuatu yang tak mampu untuk aku ungkapkan. Sesuatu yang bahkan tak pernah aku rasakan sebelumnya.
Ketika berita kelahiran putri kami tersebar, keluargaku dan Kiandra segera memenuhi kamar Kiandra. Kiandra tampak bangga seolah sedang memamerkan bayi kami.
Aku tersenyum memandang wajah bahagianya. Dan bayi itu, yang kemudian Kiandra beri nama Nur Alena, tampak menerima kenyataan dimana ia diopor dari satu pelukan ke pelukan lainnya.
Selama Kiandra berada di rumah sakit maka selama itu juga aku berada di sana. Aku tak meninggalkannya barang sejenak pun. Kalau aku tak bersamanya berarti aku menemani Nura yang dimandikan oleh perawat. Kiandra berkata bahwa Nura adalah nama panggilan yang terbaik untuk bayi kami.
Aku sempat ingin menanyakan mengapa ia memberi nama itu padanya, tapi seringkali aku terlupa ketika aku sudah melihat Nura. Terutama ketika aku melihat bagaimana intimnya Kiandra dan Nura ketika Nura sedang menyusu. Kulihat, ehm, semacam ada sesuatu di antara mereka. Dan itu memang benar, bukan? Terkadang ada di suatu malam Kiandra terbangun dan menanyakan keadaan Nura. Dan aku tak tahu apa yang terjadi dengan istilah naluri ibu. Saat itu Nura terbangun dan sedang lapar. Kupikir tentu hal tersebut adalah hal terindah yang pernah kulihat seumur hidupku.
&
bersambung ....