6

1821 Kata
Beberapa hari setelah hari pernikahan terjadi, aku harus menahan keinginan untuk keluar dan bersenang-senang. Setidaknya aku harus sedikit menunjukkan pada orang-orang bahwa aku sekarang adalah seorang pria beristri yang sedang dalam keadaan mabuk cinta. Dan kini kurasakan aku sudah hampir meledak menahan keinginan untuk pergi keluar. Hingga satu pesan yang masuk ke ponselku membuatku lega dan mampu menahan keinginanku semula. Semua baik-baik saja, Tuan. Tak ada yang perlu Anda cemaskan. Ternyata semua tidak seburuk yang kukira. Kakek menepati janjinya. Ia masih bersedia menjaga hartaku yang terakhir dengan baik di sana. Tak apa aku tak dapat melihat sesering yang aku mau, tapi yang terpenting ia tetap ada dan terjaga. Itu sudah cukup untukku. Hari ini kembali kuawali pagi dengan menyaksikan Kiandra yang bersemangat dengan perlengkapan masak di dapur. Ketika aku sampai di bawah, ini langsung menyeretku untuk duduk di meja makan. Dan ia bergegas menghidangkan hasil masakannya di hadapanku. Masakannya tak buruk. Bahkan bisa kukatakan ia mampu memasak dengan baik. Itu adalah hal pertama yang tak kuduga tentang dirinya. Semula aku menganggap ia sama dengan wanita kaya lainnya. Kau tahulah maksudku apa. Pesolek, maniak shopping, dan anti dapur. Tapi, aku salah menilainya untuk hal itu. Bahkan yang pertama aku tahu bahwa Kiandra berbeda adalah kenyataan di mana ia sangat ahli soal meracik masakan. “Apakah kau suka rasanya?” tanya Kiandra ketika aku menyuap nasi goreng ke mulutku. Aku mengunyah nasi goreng itu perlahan. Dahiku sedikit berkerut. Dan kulihat matanya mulai membulat. “Kau tak suka,” lirihnya pelan. Wajahnya mendadak mendung. Dan entah mengapa itu membuatku merasa aneh. “Bukan tak suka,” ucapku kemudian. “Nasi goreng ini enak. Hanya saja aku sedang mencoba menerka apa yang kau masukkan hingga rasanya seperti ini.” Matanya kembali membulat. “Benar?” Dengan enggan aku mengangguk. “Itu resep rahasia dari mendiang Ibuku.” Ia berkata dengan senyum yang lebar. Dan entah mengapa, itu justru membuat kunyahanku terhenti. Ini adalah hal yang kuhindari. Aku tak ingin ia semakin mendekat padaku. Kau tahu apa yang terjadi ketika kau mulai menceritakan kisahmu pada orang lain? Tentu saja. Satu perasaan yang bernama kenyamanan sedang tercipta. Dan aku tak ingin ia merasakan itu padaku. Jadi, demi menghindari hal buruk yang tak kuinginkan, aku mendadak bangkit dari kursiku. Harusnya dari awal aku tak selonggar ini. Tapi percayalah. Mulanya aku juga tak ingin menggubris Kiandra. Tapi ia selalu mengekoriku ke mana saja. Bahkan ia pernah menolak untuk makan ketika aku memutuskan tak ingin makan bersamanya. Bagaimana aku bisa membuat dia sakit? Lantas apa yang akan digosipkan media? Tapi, ternyata manusia di mana saja tetap sama. Ketika kau diberi satu kebaikan niscaya kau akan menuntut kebaikan yang kedua. Cepat atau lambat, kau akan tetap melakukannya. “Kau mau ke mana, Rick?” tanya Kiandra sambil menahan tanganku. “Sarapanmu tak kau habiskan.” Aku menyentak lepas tanganku dari tangan Kiandra. Mata itu kembali membulat merespon perlakuanku. “Aku ada urusan di luar.” Aku menjawab seadanya. “Kau tak perlu menungguku. Kurasa untuk beberapa hari aku tak pulang.” “Tapi, En---” “Berhenti bertingkah seolah kita memang suami istri, Kian,” tukasku cepat memotong ucapannya. “Kau tahu kita tidak seperti itu.” Ucapanku sukses membuatnya terdiam melongo. “Kau urus saja rumah ini sebaik mungkin. Nanti kalau urusanku sudah selesai, aku pasti pulang.” Setelah mengatakan hal itu, aku segera berlalu. Tak menghiraukan Kiandra yang menatap penuh tanya padaku, aku melangkah keluar sembari mengeluarkan kunci mobil dari saku celanaku. Kuputuskan untuk beberapa hari ke depan aku tak akan pulang. Ada banyak tempat yang bisa kusinggahi, asalkan aku tak harus bertemu Kiandra untuk beberapa hari ke depan. Kiandra. Wanita itu mulai terasa menyebalkan tiap harinya. Dimulai di hari pertama kami pulang ke rumah setelah dua malam menghabiskan waktu di hotel, dia mulai bertingkah seolah ia adalah istriku yang sebenarnya. Dan entah dari kapan, tapi baru di hari itu aku menyadari bahwa semua perlengkapannya sudah berpindah ke kamarku. Sangat tidak mungkin bagiku untuk mengusirnya kembali ke kamarnya. Terlebih lagi dengan risiko dinding yang bertelinga. Itu adalah risiko yang harus kau hadapi ketika rumahmu memiliki selusin asisten rumah tangga. Mereka tentu dengan senang hati menyaksikan sedikit saja keanehan di antara kami sebagai bahan pembicaraan. Sejujurnya aku tak peduli dengan gosip. Dari dulu aku memang sudah terlalu sering dibicarakan. Tapi, entah mengapa kurasa Kiandra mungkin tidak sama denganku. Aku ingat satu kejadian di pesta pernikahan kami. Kala itu tanpa sengaja ia mendengar gosip yang mengatakan bahwa ia hamil di luar nikah dan alasan itulah yang membuat kami menikah dadakan. Aku hanya tertawa hambar ketika ia mengatakan itu padaku. Tapi, saat itu kulihat matanya yang membulat tampak berkaca-kaca. Aku ingat waktu ia berkata. “Bagaimana bisa mereka mengatakan hal sekeji itu? Ayahku pasti merasa sedih kalau mendengar hal itu.” Sejak itu kupikir tentu Kiandra memiliki kehidupan yang lebih baik dariku, bukan? Kentara sekali ia begitu memperhatikan Ayahnya. Bahkan ketika ia mendengar gosip itu, yang menjadi pikiran pertamanya adalah Sang Ayah. Sejenak aku merasa iri dalam berbagai hal pada Kiandra. Oh, aku tak mungkin melupakan bagaimana pesan dan tatapan penuh harapan Ayahnya ketika menitipkan Kiandra padaku. Bahkan seorang Enrick yang tak pernah mendapat tatapan sesayang itu dari orang tuanya dapat mengerti, mereka berdua saling menyayangi. Dan itu membuat aku iri. Hari selanjutnya, kuperhatikan ia semakin bertindak yang menurutku di luar batas. Aku memang akhirnya mengalah dan membiarkannya untuk tidur bersama di kamarku. Tapi aku tak menyangka untuk setiap tindakannya yang selalu ia lakukan padaku tiap hari. Dimulai dari fajar menyingsing, ia akan berusaha membangunkanku pagi hari. Aku bahkan tak pernah menggubrisnya. Terkadang aku malah sempat membentak dirinya. Kupikir ia akan berhenti, tapi esoknya ia kembali lagi dengan tingkah yang sama. Ada waktu itu, ketika aku sangat mengantuk karena tidur dini hari dan Kiandra berusaha membangunkanku, aku membentaknya dengan penuh murka. Ia sangat terkejut mendengar bentakanku. Sepintas aku merasa tak enak karena bertindak seperti itu, tapi seketika rasa tak enak itu pun menguap. Bahkan selanjutnya aku malah memarahinya dan meminta agar ia tak lagi mengacaukan waktu tidurku. Siangnya, ketika aku sudah bangun dari tidurku Kiandra bersikap padaku seperti biasa. Kupikir tentu wanita ini sudah tak memiliki saraf tersinggung lagi. Bagaimana bisa ia tetap menyajikan makan siang di hadapanku setelah kejadian Subuh tadi? Bahkan ia bertanya dengan senyumnya. “Apa yang kau inginkan untuk cemilan sore? Kue atau puding?” Wah! Tentu saja dia memang tipe wanita yang tak mudah tersinggung. Lantas, tanpa merasa berdosa aku pun iseng bertanya padanya. “Mengapa kau menyibukkan diri untuk hal yang tak berguna seperti itu?” Kiandra selama beberapa detik tampak tak mengerti. Namun akhirnya ia mengerti arah pembicaraanku yang menyinggung kebiasaannya yang kulihat selalu berdoa. “Aku heran melihat di zaman sekarang masih ada yang percaya hal-hal mistis seperti itu.” Aku menyeringai. Dan matanya membulat. “Itu bukan hal mistis, Rick.” Kali ini mata Kiandra membulat dengan sinar heran. “Bagaimana mungkin kau mengatakan itu hal mistis?” Senyum sinis kuukir di wajahku. Dan kupikir pada akhirnya Kiandra mengerti maksudku. “Kau tahu,” lirihnya pelan, “selalu ada kesempatan kedua.” Kali ini hatiku seolah diremas. Kesempatan kedua tak pernah ada untukku. “Memang mudah untukmu mengatakan itu. Kau tak pernah benar-benar tahu apa yang orang lain alami. Kau tak bisa menganggap semua orang memiliki kehidupan yang sempurna seperti milikmu.” Sekilas kulihat raut sedih di matanya yang membulat. Namun, kemudian matanya terlihat biasa kembali. “Kau tahu sesuatu, Rick?” tanyanya sembari menatap dalam padaku. “Apa?” “Namaku,” lirihnya seraya menghela napas panjang. “Namaku..., Kiandra.., ehm, artinya keajaiban.” Dahiku berkerut. Mengapa ia tiba-tiba membanting topik sedrastis itu? “Waktu ibu mengandungku, kata dokter aku tak mungkin bisa lahir dengan selamat.” Kiandra tampak menatapku, tapi matanya kosong. Ia berusaha tersenyum. “Ibu sedang sakit ketika mengandungku. Bahkan dokter pun menganjurkan agar ibu menyerah untukku. Tapi, ia tetap bertahan. Akhirnya aku lahir. Prematur, memang. Dan butuh perawatan beberapa bulan hingga akhirnya aku dinyatakan sehat.” Kemudian ia tersenyum. “Untuk itu Ibu memberiku nama Kiandra. Ia mengatakan bahwa aku adalah keajaibannya.” Aku tak tahu harus berkata apa ketika ia menceritakan itu. “Dan selama yang kuingat, Ibu tetap berusaha berjuang melawan sakitnya. Selama itu pula, aku selalu bersamanya. Aku menemaninya ketika ia di dapur, di taman, atau pun ketika ia hanya bisa terbaring di kasur.” Dan untuk beberapa alasan yang tak masuk di akalku, kali ini aku merasa begitu buruk telah membuatnya mengingat hal itu. Kurasa tak ada manusia mana pun yang senang bila teringat kisah menyedihkan yang ia alami, kupikir termasuk dengan Kiandra. Bahkan walaupun kejadian itu sudah terjadi beberapa hari yang lalu, aku entah mengapa merasa bahwa aku tak semestinya membuat ia teringat kenangan menyedihkan itu.  Untuk alasan itulah sehingga terkadang aku memutuskan untuk sedikit longgar padanya. Kubiarkan ia memilih baju mana yang akan kupakai. Atau akan kujawab cemilan sore apa yang kuinginkan. Dan mendapati responku yang seperti itu, ia tampak senang dengan matanya yang lagi-lagi membulat. Pernah satu ketika aku ingin menanyakan tentang kebiasaan anehnya itu, tapi urung. Kupikir-pikir tak ada salahnya melihat ia sering membulatkan matanya. Dan kembali lagi ke inti di mana aku mengatakan kebiasaannya sebagai ritual mistis, ia berkata padaku dengan lembut. “Kau hanya perlu percaya. Yakin. Dan berharap. Maka kau akan menyadari bahwa keajaiban selalu ada,” lirihnya. “Karena ada kalanya kita akan berharap dan meminta, tapi tak akan ada yang mampu memenuhi itu semua. Setidaknya, kita punya sesuatu yang membuat kita tetap percaya bahwa terkadang keajaiban selalu ada untuk memenuhi semua harap dan pinta.” Ia tersenyum. “Saat itu, kita akan yakin bahwa Tuhan memang ada.” Anggap aku buruk, tapi kalau Tuhan memang ada dengan segala kuasa-Nya, Ia tentu tak akan membiarkan makhluknya menderita, bukan? Ah, semakin memikirkan hal itu kurasa diriku main tak karuan. Aku segera menyalakan mobil dan seketika aku melaju meninggalkan rumahku. Sempat kulihat sekilas, Kiandra yang mematung melihatku di balik tirai tebal di ruang tamu. “Kau tak seharusnya menikah denganku, Kian.” Aku kembali merutuki hal yang sama. Aku menyesal telah mengambil keputusan untuk menikah dengannya. Ia benar-benar akan menderita hidup denganku. Dan aku tak suka itu. Aku tak pernah ingin menjadi alasan bagi orang lain untuk menderita. Aku tak ingin membuat orang baik-baik menderita gara-garaku. Memang, awalnya kukira Kiandra menikah denganku karena harta yang keluargaku miliki. Tapi, kurasa tidak. Hal itu bukan tanpa sebab aku katakan. Karena jujur saja, selama ini aku pun diam-diam memperhatikan perilakunya. Dan akhirnya aku pun menyadari beberapa hal. Setelah hampir dua minggu kebersamaan kami, ia tak meminta apa pun padaku. Entah itu sesuatu seperti perhiasan atau apa pun yang biasa dilakukan seorang wanita. Atau jangankan untuk meminta perhiasan, kuperhatikan ia pun tak pernah keluar dari rumah. Walaupun aku sempat berpikir mungkin ia lebih tertarik belanja via online, namun kuperhatikan tak pernah ada kurir yang datang ke rumah demi mengantarkan paket untuknya. Dan yang pasti, ia juga tak pernah kulihat memantau perkembangan fashion terbaru. Akhirnya, dengan berat hati aku kembali harus mengakui. Aku lagi-lagi salah menilainya untuk yang ke sekian kali. Ketika kukatakan bahwa aku bertekad akan menghadirkan kehidupan rumah tangga yang penuh dengan penderitaan padanya, itu semata karena kupikir ia adalah wanita gila harta yang rela menjual dirinya sendiri pada pria b***t sepertiku. Andai saja ia seperti itu, maka aku tak akan segan-segan lagi untuk melakukan semua hal yang sudah aku janjikan padanya. Tapi, sayangnya ia bukan seperti itu. Harus kuakui, hingga saat ini di mataku dia memang wanita baik-baik. Dan ketika aku memikirkan bahwa aku sempat ingin berbuat jahat padanya, aku sontak teringat betapa ia dengan penuh cinta bercerita tentang mendiang ibunya, tentang kesehatan ayahnya, atau tentang keajaibannya. Aku tak seharusnya merusak kebahagiaan orang lain. Setidaknya, karena aku tahu bagaimana rasanya ketika kebahagiaan kita dirusak.  & bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN