5

1382 Kata
Hari Sabtu itu seluruh orang yang berada di rumahku sudah sibuk bahkan sebelum ayam bangun dari tidurnya. Dan aku pun dengan berat hati turut berpartisipasi menjadi salah seorang yang sibuk itu. Pernikahanku akan dilangsungkan di sebuah gedung megah. Kami bersiap dan aku melewati semua kegiatan hari itu tanpa menaruh minat sama sekali. Bahkan ketika penata rias menyentuh tubuh dan wajahku sesuka hati mereka, aku pun bergeming. Kalian bisa menganggap aku boneka sekarang, asalkan kalian senang, pikirku. Sebentar lagi aku akan melepas status lajangku dengan seorang wanita yang tak kukenal sebelumnya. Tapi lebih penting dari itu, aku justru memikirkan satu hal sedari tadi. Apakah ia akan datang hari ini? Apakah ia akan menyaksikan pernikahanku? Oh, Enrick! Apakah sekarang kau berharap? Kau mengharapkan kedatangannya? ejek hatiku. Dan aku menggeleng pada bayanganku sendiri yang terpantul di cermin lebar. Aku tak pernah lagi berharap. Berharap hanya akan membuat luka yang kau dapat menjadi lebih menyakitkan. Kuhela napas. Aku tak peduli akan kedatangannya. Dan aku memang harus seperti itu. Hingga acara pernikahan itu berlangsung dan aku tanpa ekspresi mengucapkan janji pernikahan, aku pun menyadari. Dia memang tak datang hari ini. Jadi untuk apa aku harus membaik dan berdamai pada hidupku? Saat acara pernikahan itu aku menyadari hal lainnya. Orang tua Kiandra hanya tinggal Ayahnya. Dan menurut penilaian singkatku, Ayahnya sedang dalam keadaan yang tak cukup sehat. Selama acara dapat kudengar batuk berulang Ayahnya dan wajahnya yang memucat. Aku pun tak heran ketika Ayahnya terpaksa meninggalkan pesta di tengah acara. Pada saat Ayahnya akan pergi, sempat kulihat Kiandra memeluk pria itu erat. Sekilas kutangkap peristiwa di mana air matanya menetes. Ayahnya tersenyum dan membelai kepala Kiandra dengan perasaan yang sulit untuk kujelaskan. Dan setelah itu, ia tampak mampu menguasai dirinya kembali. Ia sukses melepas kepergian Ayahnya dengan senyum. Dan aku? Akibat banyaknya pers yang berdatangan, dengan berat hati aku pun memeluk tubuh pria itu. “Tolong jaga anakku, Enrick.” Suaranya terdengar lemah. Dan seranya tersenyum, ia kembali berkata. “Kau pasti laki-laki yang hebat. Mampu membuat Kiandra-ku mencintaimu.” Aku meringis. Apa wanita yang kunikahi ini artis Hollywood? Bagaimana bisa ia memancarkan wajah seolah penuh kebahagiaan sepanjang hari? Hingga sukses membuat siapa pun yang memandang menganggap bahwa dirinya memang sedang berbahagia akan pernikahan ini. Ehm. Aku pikir tentu ia memang sangat berbahagia hari ini. Dia menikahi pewaris tunggal untuk semua kekayaan Kakek. Jadi, apa ada hal yang bisa membuatnya tidak bahagia? Kurasa tidak. Berbicara mengenai pesta pernikahanku, ada satu hal yang membuatku sedikit tak nyaman. Teman-temanku datang. Aku tak tahu mengapa mereka datang. Kupikir mereka tak akan mau datang ke pesta semacam ini. Terlebih lagi, jujur kukatakan, aku sebenarnya tak ingin mereka mengenal Kiandra. Dan aku juga berharap agar Kiandra tak mengenal mereka. Tapi, semua terlambat. Ketika rombongan Alex datang dan mengucapkan selamat padaku dan Kiandra, aku hanya berusaha bertingkah senormal mungkin. Ya, setidaknya aku berhasil tersenyum dan menyambut pelukan selamat mereka. “Kau benar-benar menikah, bro!” Alex tertawa. Dan aku tahu kalau itu adalah ejekannya. Oke, Alex. Aku memang sangat tepat untuk diejek sekarang. “Selamat.” Aku menyambut uluran tangan Sherryl dan ia segera beranjak mengucapkan selamat yang serupa pada Kiandra. Sadar atau tidak, saat itu aku mengekorinya dengan ujung mataku. Kiandra tampak tersenyum ketika mendengar Sherryl menyebut bahwa dia adalah temanku. Bahkan Kiandra tak segan-segan mengundangnya untuk berkunjung ke rumah kami di lain waktu. Kupikir dia terlalu bahagia menjadi istriku hingga tak sadar mengundang wanita itu. Ketika acara pernikahan itu berakhir, aku dan Kiandra diantar ke sebuah hotel penuh privasi untuk beristirahat. Aku sudah dapat mengerti apa makna beristirahat di sini. Tapi, tenang saja. Aku memang akan benar-benar beristirahat. Terutama karena sepanjang hari aku terpaksa harus tersenyum di depan puluhan kamera yang siap siaga mengabadikan tiap moment yang tercipta. Hidup berpura-pura di depan media yang siap meliput itu benar-benar menguras tenaga. Sesampainya di kamar hotel tersebut, aku langsung membanting tubuhku ke tengah-tengah king size bed yang dihiasi kelopak mawar merah. Bahkan tubuhku juga merusak rangkaian romantis bertulis I LOVE YOU di sana. Kupikir-pikir, mengapa kamar pengantin harus dihias seperti ini? “Kau terlihat capek, Rick.” Kurasakan satu tempat di dekatku sedikit melesak seiring dengan kudengarnya suara itu. “Ehm.” Aku hanya mendehem pelan. “Mungkin kau harus mandi dulu, biar tubuhmu sedikit nyaman.” Aku tak merespon perkataannya. Kututup mataku. Dan tanpa berkata apa-apa lagi, aku memutuskan untuk hanyut dalam tidur lelapku. Aku memang butuh istirahat saat ini. & Pagi itu, kurasakan sinar menyilaukan yang berusaha menerobos kelopak mataku. Aku tersentak sedikit namun tak membiarkan mataku untuk terbuka. Kemudian, aku sedikit beringsut membalikkan badan, berusaha kembali menyusup ke balik selimut. Ehm. Namun tiba-tiba hidungku menangkap bau sesuatu yang sontak membuat perutku langsung merespon aroma tersebut. Tanpa mampu kutahan lebih lama lagi, akhirnya aku bangkit duduk. Tanganku refleks mengucek-ucek kedua mataku agar kembali terbiasa dengan sinar benderang. Kemudian, tanganku beralih ke kepalaku. Mengacak-acak helaian hitam di sana. Satu wajah yang tersenyum langsung tertangkap retina mataku. Ia menghampiriku. Dan duduk di dekatku. “Selamat pagi.” Aku tak merespon. Aku memutar kepalaku ke berbagai arah hingga kurasa aku mulai terasa rileks kembali. Dahiku berkerut ketika melihat keadaanku. Seingatku kemarin waktu aku tertidur aku masih memakai lengkap pakaianku. Dan sekarang? Sepatu, jas, dan dasiku sudah terlepas. Hanya menyisakan celana dan kemeja putihku yang sudah terbuka kancingnya di beberapa tempat. “Maaf.” Kiandra tampak bersuara lagi. “Kulihat malam tadi kau tak nyaman dengan semua itu, jadi aku melepasnya untukmu.” “Lain kali kau tak perlu melakukan itu,” ujarku sambil bangkit. “Aku bisa mengurus diriku sendiri.” Aku beranjak ke meja yang terletak di seberang ruangan. Beberapa makanan dan minuman sudah tersaji di sana. Belum juga langkahku mengantarkanku persis di sana, kulihat Kiandra setengah berlari mendahuluiku. “Aku tadi meminta teh mint untukmu,” lirihnya sambil menuang air ke dalam cangkir yang kuyakini itu pasti teh mint yang ia maksud. Ia menyodorkan cangkir itu padaku. Aku meraihnya setelah aku nyaman duduk di kursi. Aku menyesapnya pelan. “Kurasa teh di sini tak terlalu enak.” Aku meletakkan cangkir itu kembali ke atas meja. Aku meraih sepotong roti dan memakannya. Kiandra hanya diam melihat responku dan tanpa kata-kata mengamatiku yang sedang makan. Kulirik ia sekilas. “Apa kau bisa kenyang dengan hanya melihatku makan?” “Eh?” Mata Kiandra membulat. “Aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk bicara padamu, Rick.” Alisku mencuat sebelah. “Apa itu?” tanyaku. Sedang dalam hati aku berharap agar ia tak membuang-buang waktunya dengan bertanya apa selanjutnya yang akan kami lakukan. Ia meneguk ludahnya sebelum ia kembali bersuara. “Bulan madu.., tentang bulan madu kita...” Astaga! Rasanya ingin sekali aku menepuk dahiku sekarang. Andai tak ada Kiandra pasti aku sudah melakukannya. Mengapa aku sampai melupakan hal yang satu itu? Tunggu! Ke mana tepatnya Kakek menyusun perjalanan bulan madu kami? Aku mendehem. “Ada apa dengan bulan madu?” “Bisakah kita menundanya?” Eh? Sontak saja pertanyaan itu membuatku kaget. Semula kupikir ia tentu dengan antusias menyambut rencana perjalanan itu. Semua pasangan pengantin baru pasti sangat antusias dengan yang namanya bulan madu. Aku berusaha menjaga air mukaku agar tak terlihat bahagia saat ini. Alih-alih, kutatap matanya dan bertanya. “Memangnya ada apa?” Ia menghela napas. “Kau lihat kemarin bagaimana buruknya kesehatan Ayah? Aku tak ingin ketika kita bulan madu, aku justru mendapat kabar bahwa kesehatan Ayah semakin memburuk.” Tampak kesedihan tersirat di raut wajahnya. “Aku tak ingin itu terjadi.” Aku terdiam untuk beberapa saat. Mengamati wajahnya yang terlihat begitu memohon padaku. Ehm, bisa kutebak kalau wanita ini sangat menyayangi ayahnya. “Kau begitu memikirkan Ayahmu.” Aku menyeringai. “Sampai-sampai kau ingin menunda bulan madu kita.” “Maafkan aku, Rick,” lirih Kiandra pelan. Terlihat di raut wajahnya bahwa ia merasa bersalah saat ini.  “Hanya aku yang bisa menjaganya sekarang. Kakakku sedang tak berada di Indonesia.” Kedua alisku spontan menaik. Menyadari fakta baru lainnya. Aku baru tahu kalau ia punya seorang kakak. Oke, seorang ayah dan kakak. Bagaimana dengan ibunya? Ehm. Tapi aku tak berniat untuk menanyakan hal itu padanya. “Yah!” desahku kemudian. Aku mengangguk-angguk berulang kali. “Kalau memang begitu keinginanmu, apa boleh buat,” lanjutku. “Kita bisa mengatur perjalanan itu lain waktu. Kupikir kau memang harus mengutamakan kesehatan ayahmu.” Dan mendengar perkataanku, matanya terlihat membulat. Namun, ada binar di sana. Terlihat unik sebagai bentuk ungkapan bahwa sekarang ia merasa senang. Tapi, yang tak kuantisipasi adalah ketika ia dengan tiba-tiba menghambur ke arahku dengan kedua tangan yang terkembang. Detik selanjutnya kudapati wajahku yang menempel di lekuk lehernya sedang hidungku menyuruk ke helaian-helaian rambutnya yang wangi. Kurasakan napas hangatnya membelai daun telingaku sedang kedua lengannya mengalung di leherku. Lalu, kudengar ia berkata. “Terima kasih, Enrick.” Aku menahan napasku. Menolak aroma lembutnya yang berusaha untuk menyapa saraf penciumanku. Tapi, semua terasa percuma. Tak ayal, aroma tubuhnya yang wangi menyeruak menyapa ke seluruh inderaku. “Kau memang suami yang pengertian.” Dan lantas, ketika aku belum terbiasa dengan semua tindakannya, kurasakan satu permukaan lembut yang hangat menempel sekilas di pipiku. & bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN