10

1326 Kata
u*****n kesal langsung meluncur dari bibirku ketika kurasakan getar di ponselku. Aku tak menghiraukannya. Getaran berisik itu hanya berhasil membuatku mengubah posisi tidurku. Beberapa saat, getaran itu berhenti, tapi lima menit kemudian, getaran itu datang lagi. Jadi, dengan kesal, akhirnya aku bangkit dari tidurku dan meraih ponselku yang tergeletak di atas nakas. Dan ketika aku melihat layar ponselku, sepasang mataku membulat besar seolah ingin melempar bola mataku keluar. “Sialan!” umpatku sambil bangun. Tanpa membuang waktu, aku segera mencuci muka seadanya. Dan detik selanjutnya, aku sudah check out dari hotel tersebut. Mobilku langsung membelah jalanan itu dengan kecepatan tinggi. Untungnya karena hari masih menunjukkan jam lima pagi, maka jalanan masih sedikit longgar. Namun, tak urung juga beberapa kali mobil yang kukendarai hampir menyerempet pengendara lainnya. u*****n-u*****n terus meluncur dari mulutku. Aku berpapasan dengan Kiandra di tangga ketika aku sudah sampai di rumahku. Ia melihatku bingung tapi aku tetap melangkah. Ketika aku hendak masuk ke kamar, kusempatkan untuk berteriak padanya. “Siapkan pakaian dan sarapanku, Kian!” Dan selanjutnya, tanpa mengucapkan apa-apa lagi, aku beranjak ke kamar mandi. Segera kunyalakan shower dan aku hanyut di bawah kucuran air dinginnya. Saat aku selesai mandi, telah kudapati pakaianku di atas kasur. Aku segera memakainya dan memeriksa penampilanku di cermin. “Jam enam lewat,” desisku melihat jam tanganku. Selanjutnya, dengan menuruni dua anak tangga sekali lompat, aku turun dan menuju ruang makan. Kiandra tampak terheran-heran melihatku. Dan mendadak aku merasa kesal dengannya. “Kau harus ingat tanggal sepuluh,” desisku sambil melahap sarapanku. “Apa pun yang terjadi, jangan sampai kau lupa tanggal itu.” Kiandra hanya mengangguk patuh mendengar perkataanku tanpa bertanya ada apa di tanggal sepuluh. Lantas, ketika aku sudah selesai dengan sarapanku, aku bergegas pergi. Sempat kudengar teriakan Kiandra yang mengingatkanku untuk berhati-hati di jalan. Dan tanpa menoleh aku hanya melambai sebelah tangan. Dengan tenang kukendarai mobilku. Musik pelan yang mengalun terdengar merdu mengiringi perjalananku pagi ini. Tanpa sadar satu senyum langsung terukir di bibirku. Aku tak menampik, aku bahagia hari ini. Akhirnya, setelah setahun tak bertemu, hari ini aku kembali bisa melihatnya. Terlebih lagi, karena ketika aku keluar dari rehabilitasi aku tak langsung bisa bertemu dengannya. Sudah lewat dari dua bulan, dan sekarang waktunya tiba. Nyaris dua jam waktu yang kuhabiskan untuk bisa sampai ke sebuah rumah yang terletak hampir di pinggir kota tersebut. Rumah tersebut masih tampak megah dan berdiri kokoh di sana. Seketika kurasakan sesuatu berkecamuk di dalam dadaku, terutama ketika mataku menangkap sosoknya. Refleks aku segera menghambur ke arahnya. Aku berlutut dan merengkuh tubuhnya yang duduk di kursi roda. Erangan pelan terdengar dari kerongkongannya. Hanya itu yang bisa kudengar, namun aku tahu bahwa itu satu isyarat kebahagiaan yang ia coba berikan padaku. Dan lantas, kurasakan mataku menghangat. Satu privasi kudapatkan dengan mendorong pelan kursi roda itu ke sisi rumah. Mengajaknya untuk melihat taman luas yang membentang dari pinggiran beranda rumah. Dan aku kembali mengambil posisiku di sampingnya. Setengah berjongkok dan kutengadahkan kepalaku. Kutatap wajahnya yang terlihat tak normal dengan penuh kasih. Dan lantas kuusap tangannya yang kaku. “Papa,” desisku pelan dengan suara serak hingga kupaksa untuk mendehem berulang kali untuk menetralkan kembali suaraku. “Bagaimana kabarmu?” Sosok pria di kursi roda itu yang tak lain adalah ayahku tampak bersemangat. Tapi, ia tak bisa menjawab pertanyaanku. Hanya saja aku mengerti, bahwa ia juga merindukanku. Kusambut nampan yang berisi sarapan dari seorang perawat pribadi di sana. Kutarik satu kursi untuk duduk di hadapannya dan kemudian kusuapi ia sarapannya. Kulihat ia yang tampak kesusahan dalam memakan makanannya hingga tak jarang kudapati bubur itu justru mengalir meleleh keluar kembali dari mulutnya. Mendapati itu maka dengan tersenyum kubersihkan mulutnya dengan sehelai sapu tangan. Lantas, kembali kusuapi ia. Ketika hari beranjak siang kuajak ia untuk berbincang-bincang. Kuceritakan bagaimana keadaanku padanya. Juga tentang apa saja yang sudah terjadi padaku. Satu helaan napas panjang kuhembuskan saat akhirnya kusentil cerita itu. “Kakek memaksaku untuk menikah.” Dan kutangkap keredupan di mata Papa. Kuremas tangannya seolah ingin meyakinkan bahwa aku baik-baik saja. “Namanya Kiandra,” lanjutku lirih, “Kiandra Pramesti.” Kuhirup sejenak napasku ketika ada sesuatu yang kurasakan tatkala kusebut namanya. “Aku tak bisa menolak keinginan itu ketika Kakek mulai membawa-bawa tentang Papa.” Aku tersenyum hambar. “Aku akan melakukan apa pun ketika itu berhubungan denganmu, Pa.” Erangan terdengar dari Papa dan aku tersenyum. “Aku tak tahu banyak tentang wanita itu. Yang pasti ia adalah anak dari seorang relasi Kakek. Persis seperti pernikahanmu, Pa. Dan kurasa rumah tanggaku pun nantinya juga akan berakhir sepertimu.” Aku berkata dengan nada pelan. Ya, memang akan jadi seperti itulah pernikahanku dengan Kiandra. Ia tak akan mampu bertahan lama hidup bersamaku. Ada banyak alasan yang akan ia temui seiring dengan berjalannya waktu. Dan lalu ia akan menyadari bahwa ia memang telah salah menikah denganku. Dua bulan ini ia akan bertahan, lalu bulan selanjutnya ia akan mulai merasa tak enak. Kemudian ia akan mulai mencari hiburan di luar hingga akhirnya ia berhasil menemukan pria lain yang menurutnya lebih mengerti dan mencintainya sepenuh hati. Kupaksa untuk tersenyum pada Papa. Namun, setidaknya di sini mungkin kasusku lebih sederhana. Aku dan Kiandra tidak mempunyai anak, jadi aku tak perlu bersusah payah meminta padanya untuk tak merusak rumah tangga kami. Ia tak perlu bersusah payah bertahan padaku seraya berusaha menutupi perselingkuhannya dari mata keluarga dan media. Kami dapat berpisah dengan mudah, sama mudahnya di saat kami menikah. Dan kemudian, kami akan saling melupakan bahwa kami pernah bersama. Bahkan ketika kami berpapasan di jalan kami tak perlu berbasa-basi tentang hal yang tak penting. Ya. Setidaknya di sini keadaanku jauh lebih baik. Aku memutuskan pulang dari rumah itu ketika matahari hampir tenggelam. Hari ini aku puas. Setidaknya aku bisa bertemu dengannya, menyuapinya, berbincang dengannya, memijat kakinya, serta menemaninya menghabiskan waktunya. Papaku, pria gagah yang dulunya setangguh kakek terpaksa harus tinggal seorang diri di rumah pengasingan itu. Bahkan aku sebagai anak semata wayangnya hanya bisa bertemu sekali dalam sebulan. Mereka berdalih agar emosi Papa terjamin sehingga kesehatannya tidak bertambah buruk. Dan hatiku meringis. Bagaimana bisa aku, yang jelas-jelas adalah satu-satunya orang yang peduli padanya, dicap sebagai pengacau kestabilan emosi itu? Kesehatan Papa memang sudah mulai terganggu ketika aku masih di tahun pertama SMA-ku. Apa lagi penyebab semua itu kalau bukan perselingkuhan yang Mamaku lakukan. Ia melakukan perbuatan gila itu dengan seorang duda yang ironisnya ternyata adalah teman lama Mama dan merupakan salah satu kenalan Papa. Kuremas kemudi ketika hatiku kembali bergejolak mengingat peristiwa di siang itu. Peristiwa di mana akhirnya Mama meminta perceraian itu pada Papa. Sedang aku tak bisa berbuat apa-apa ketika mendengar pertengkaran mereka. Masih terngiang di telingaku bagaimana kasarnya kata-kata yang Mamaku ucapkan. Bagaimana tega mulutnya mengatakan bahwa Papa adalah pria kaku yang tak memperhatikan keluarga. Atau ketika ia mengungkit tiap perhatian yang justru ia dapatkan dari pria itu. Bagaimana bisa ia mengatakan itu semua padaku? Dan sebagai penutup itu semua, akhirnya senjata terakhirnya ia keluarkan. “Aku hanya wanita biasa, Mas. Aku wanita lemah yang juga membutuhkan perhatian. Kasih sayang. Bukan hanya uang yang kau kirim ke rekeningku.” Sedang di mataku, itu hanyalah satu alasan yang kentara sekali dibuat-buat. Aku masih ingat betapa banyaknya tas, sepatu, dan gaun yang ia beli tiap kali ia pergi berlibur ke luar negeri. Dan ia berani bersikap munafik dengan mengatakan bahwa ia tak membutuhkan itu? Lagi pula, aku sudah cukup dewasa untuk tahu bagaimana sifat asli wanita yang mengandungku itu. Ia tak pernah benar-benar terluka dengan perceraian itu. Ia bahkan tak mengingat bahwa ia memiliki aku. Dan ketika Papa terpuruk dengan kesehatannya sedang aku terjerumus dengan duniaku, ia bahkan tak menunjukkan sedikit saja penyesalannya. Padahal, aku sempat menaruh harap bahwa ia akan kembali. Untuk beberapa perhatian yang pernah ia berikan ketika aku masih kecil, aku pernah berharap bahwa ia akan kembali. Tapi, tak pernah. Dan karena itulah aku semakin yakin. Bahwa perhatiannya dulu pun ia lakukan agar ia bisa mendapatkan harta Papa lebih banyak lagi. Sekarang, semua itu telah mengajarkanku banyak hal. Aku tak bisa mempercayai wanita. Ia hanya terlihat lemah dan tak berdaya untuk mampu memperdaya. Selanjutnya, ia akan menikam justru dengan sebuah senyum yang tersulam. Begitulah urutannya. Dan apakah Kiandra akan melakukan hal yang sama? &              bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN