Sepanjang hari selepas kepergian Kiandra dan Tommy, aku hanya termenung menghabiskan waktu di depan televisi. Otakku semakin kalut memikirkan wanita itu.
Aku pria baik? Haruskah aku berterima kasih untuk kebohongannya yang satu itu?
Tapi, dibandingkan dengan itu, aku punya masalah besar lainnya. Karena ketololanku yang tak bertanya dulu pada Kiandra, aku sudah melakukan hal yang tak seharusnya aku lakukan pada wanita mana pun. Ya, aku menyetubuhi Kiandra.
Aku mengusap wajahku frustrasi.
Bagaimana kalau ia hamil? Apa yang harus aku lakukan?
Kami tak seharusnya memiliki anak.
Anak itu hanya akan merasakan kesengsaraan karena terlahir di keluarga ini. Aku sudah melihatnya sendiri. Dan aku tak bisa membiarkan anakku sendiri turut merasakan apa yang telah kurasakan.
Kalian tak akan pernah mengerti bagaimana rasanya terlahir dari orang tua yang menikah hanya karena keuntungan secara materi. Tapi, aku tahu dengan sebaik mungkin. Aku bahkan tak habis pikir bagaimana aku bisa lahir ketika aku mendapati kenyataan bahwa orang tuaku tak pernah kulihat tinggal di rumah yang sama. Entah itu Mama atau Papa, salah seorang dari mereka pasti tak ada di rumah ini.
Ya, dari semula inilah alasanku mengapa aku tak pernah sedikit pun berniat menyentuh wanita. Aku ingin melihat wajah pria tua itu yang sengsara karena tidak memiliki keturunan yang bisa mewarisi kerajaannya. Tak ada lagi yang akan menjalankan sejarah hierarkinya. Dan selain itu juga, aku tetap selalu ingat. Wanita itu tak selemah yang terlihat. Ia licik dan munafik. Dan aku membenci mereka.
Kuhela napas dalam-dalam, perlahan mencoba menenangkan diriku sendiri.
Kiandra tak mungkin hamil, desahku. Tak banyak kehamilan yang bisa terjadi di kala pertama. Aku berusaha berpikir positif kali ini. Ya, tentu saja.
Detik kemudian, aku kembali mencoba fokus pada layar datar di hadapanku. Remot di tanganku berulang kali kutekan, namun tak ada satu pun acara yang menarik minatku. Aku melirik jam dan mendapati hampir jam delapan malam, tapi Kiandra belum pulang juga.
Apa aku sekarang mengkhawatirkannya? Yang benar saja. Aku tahu bukan itu alasannya. Tapi, yang kutau hanya satu. Sekarang kurasa rumah ini menjadi lebih sepi dari biasanya ketika wanita itu tak ada.
Namun, selang beberapa menit kemudian, kudengar deru mobil di luar. Aku tak beranjak, tapi aku yakin itu pasti suara mobil Tommy yang mengantar pulang Kiandra. Dan benar saja. Tak menunggu lama, kurasakan kehadiran Kiandra di balik tubuhku.
“Kau ada di rumah, Rick?” tanya Kiandra ketika ia mendapatiku duduk di depan televisi seorang diri.
Aku menelengkan sedikit kepalaku dan melihatnya. “Kau pikir aku keluar?”
Kiandra tampak salah tingkah. Ia mengangguk. “Kukira kau pergi keluar.” Ia mengambil tempat di sampingku dan mengamatiku sejenak. “Apa kau sudah makan?” tanyanya.
Aku menggeleng. “Sedari tadi perutku rasanya agak aneh,” keluhku. Aku kembali menatapnya. “Bisa kau buatkan aku teh mint?”
“Tentu saja.” Kiandra bangkit. Tapi, sebelum beranjak, ia kembali berkata. “Apa kita makan juga? Biar kumasakan kau sesuatu.”
“Bukannya kau sudah makan?”
“Benar.” Ia mengikat rambut panjangnya menjadi gulungan aneh di atas kepalanya. “Tapi, kurasa aku lapar lagi.” Ia tersenyum dan meraih tanganku. “Menurutmu apa yang harus kumasak?”
Aku tak menjawab pertanyaan Kiandra. Lebih dari itu, aku pasrah saja ketika ia menarik tanganku. Kupikir ini bagus, setidaknya kulihat ia sudah tak marah lagi padaku. Tentu berjalan di luar seharian dengan Tommy sudah memperbaiki mood wanita ini.
Di dapur aku memilih duduk di meja kecil yang terletak di seberang ruangan memasak itu. Kiandra segera mengenakan celemeknya dan mulai menyeduh teh mint yang kumau. Menit selanjutnya, aroma teh dan mint yang menyegarkan menerpa syaraf penciumanku.
Aku menyesap sedikit teh yang masih panas tersebut. Sedang Kiandra tampak mulai menyiapkan sayuran yang akan dimasaknya.
“Tadi aku dan Kakak menjenguk Ayah di rumah sakit.” Suara Kiandra terdengar ketika ia mulai memotong sayuran di talenan.
Aku tak membalas perkataan Kiandra, karena kurasa aku tak berhak tahu.
“Dan Ayah menanyakan bagaimana keadaanmu.” Kiandra tampak mencuci sayuran tersebut dan menyisihkannya. Ia membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan lagi dari sana. “Kukatakan padanya bahwa kau baik-baik saja.”
Aku mendehem pelan. Dan demi sedikit berbasa-basi, akhirnya aku bertanya padanya. “Kapan Ayahmu bisa keluar dari rumah sakit?”
“Mungkin sebentar lagi,” jawabnya. “Setelah itu Ayah sepenuhnya akan dijaga Kakak.”
Lantas, kami kembali berdiam diri. Aku hanyut dalam duniaku dan seraya sesekali kembali menyesap tehku, sedang Kiandra tampak serius dengan wajan di depannya. Tak lama kemudian kucium aroma harum yang sontak membuat perutku bergemuruh. Aromanya benar-benar mampu membangkitkan nafsu makanku yang sempat menghilang seharian ini karena pusing dan mual yang tak kunjung berhenti.
Selagi menunggu masakannya, Kiandra dengan cekatan menyusun piring untuk kami berdua. Entah mengapa, pemandangan yang menampilkan tubuh Kiandra yang tampak luwes bersinggungan dengan peralatan dapur membuat sesuatu terasa menyenangkan. Kupikir, seharusnya seperti inilah seorang istri. Tidak seperti seseorang yang bahkan aku saja tak ingat, kapan ia pernah menyiapkan makan untukku.
Kiandra menyajikan sepiring capcay ayam di hadapanku. Masih kulihat asap putih yang mengepul tanda bahwa masakan itu masih panas. Tapi, aku tak mempedulikannya. Melainkan aku langsung menyendoknya dan menyuapnya masuk ke dalam mulutku.
“Apakah rasanya enak?” tanya Kiandra sambil menarik kursi dan duduk. Ia menyiapkan nasi di piringku dan meletakkannya di hadapanku.
Aku menyambut piring itu dan mengangguk. “Sepertinya ini bagus untuk mengusir rasa tak enak perutku.”
Kiandra tersenyum. Dan kemudian kulihat ia juga tampak menikmati makan malamnya.
Ketika kami berdua makan, mendadak aku tersadar akan sesuatu. Kapan aku pernah menikmati makan malam seperti ini?
&
bersambung ....