Bab 1. Rico Memintaku Resign.
“Sampai kapan kamu akan diam seperti ini Rico? Ibu memberikanmu restu karena memang Ibu sudah pengen menimang cucu dari kamu, tapi sampai sekarang 3 tahun pernikahan kalian, kalian tidak juga memberikan Ibu cucu!!” protes Tari kepada anaknya
Rico hanya menundukkan wajahnya tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya. Ibunya kembali membandingkan dirinya dengan adiknya yang baru 2 tahun menikah tetapi sudah mempunyai Anak.
“Ibu tidak mau tahu Rico, mau atau tidak mau,Ibu akan tetap mengenalkanmu dengan wanita pilihan Ibu. Untuk apasih kamu mempertahankan wanita mandul seperti Arum itu!” Bentak Ibunya lagi.
“Terserah Ibu sajalah, Ibu atur saja waktunya, jika Rico tidak menyukainya jangan paksa Rico!” Ucap Rico lalu nyelonong pergi meninggalkan Ibunya seorang diri.
Arum mengusap air matanya, karena tanpa disengaja mendengar percakapan Mertua dan Suaminya. Hatinya sangat sakit karena suaminya hanya diam tanpa membelanya.
Pantas saja beberapa bulan ini perlakuan suaminya berubah drastis saat bersamanya, Rico sering sekali pulang larut malam dan selalu marah saat ditanya tentang kepergiannya.
Dan dia sekarang baru menyadari tentang perubahan suaminya, itu semua karena tekanan dari Orangtuanya yang terus meminta kehadiran seorang anak dari mereka.
Selama ini dia sudah mencoba berbagai cara dari minum jamu tradisional yang katanya bagus untuk kesuburan dan di percaya akan cepat hamil jika meminumnya. Tapi Allah memang belum mempercayai Arum untuk menjadi seorang Ibu.
Arum segera mengusap air matanya yang sedari tadi jatuh membasahi pipinya, dan berusaha mengatur nafas yang terasa menyesakkan d**a. Sedari tadi dia berdiri di belakang tembok sekat ruang tamu dan segera kembali ke kamar karena takut jika Mertua dan Suaminya menyadari bahwa Arum telah mendengar percakapan mereka.
“Dek?” Panggil Rico, Rico memanggil nama Istrinya dengan sebutan Dek.
“Hmmm,” gumam Arum.
“Ada yang mau Mas bicarakan sama kamu,” ucap Rico lalu duduk di dekat Istrinya.
“Bicaralah, Mas.” jawab Arum singkat, ia masih sibuk memainkan Ponselnya, berselancar di dunia maya.
“Hmm, apa gak sebaiknya kamu istirahat di rumah saja, Dek? Fokus pada promil yang sedang kamu jalani. Siapa tahu dengan kamu banyak istirahat di rumah, kita bisa segera punya keturunan.” Rico berkata dengan hati-hati.
Arum mendengar itu langsung menaruh ponselnya di meja kecil, sebelah tempat tidurnya.
“Kamu kan tahu sendiri, Mas. Bagaimana usaha aku supaya segera hamil. Dari terapi pijat, minum jamu, sampai berobat ke dokter. Semua sudah aku lakukan, Mas. Tapi kalau memang belum dikasih, ya aku harus gimana? Aku kerja juga buat tambah-tambah pemasukan untuk kita.” Arum menahan air matanya.
“Maka dari itu, mungkin kamu belum hamil-hamil itu karena kamu kecapean, kurang istirahat. Kurang istirahat itu yang malah justru menganggu proses promil kamu, Dek.” Rico menyeka air mata Arum yang hampir terjatuh.
“Aku pikiri-pikir dulu lah, Mas. Ya udah ya, aku ngantuk mau tidur.” Arum menghela napas panjang lalu merebahkan tubuhnya.
Rico yang merasa Istrinya keras kepala dan cuek yang tidak seperti biasanya itu menjadi kesal dan pergi meninggalkan kamar dengan membanting pintu dengan kasar.
Brakkkk!
‘Andai kamu tahu, Mas. Betapa hancur hatiku ketika melihat ibumu mengataiku mandul. Di tambah juga tentang kamu yang mau menerima perjodohan ibumu,’ batin Arum.
“Aku juga pengen punya anak, Mas. Tapi Allah belum memberikan kepercayaan kepadaku. Aku sedih ketika Ibu kamu membandingkan aku dengan saudara kamu yang sudah punya anak duluan.” Tangis Arum pecah, ia membenamkan wajahnya di balik selimut.
Sementara di ruang tamu, Ibunya Tari yang masih menonton tv dengan sang Suami (Trisno) pun ikut kaget karena mendengar Rico membanting pintu dengan cukup keras.
“Haissh!” desis Rico sembari mengacak-acak rambutnya.
Ada apa, Rico?” tanya Pak Trisno yang melihat anaknya sedang emosi.
“Aku kesal Pak, Bu, Arum seenaknya meninggalkanku tidur padahal aku belum selesai bicara dengannya!” jawab Rico dengan nada yang emosi.
“Kelakuannya kok kurang ajar. Menantu tidak tahu diri! Sudah numpang tapi berasa seperti tuan rumah. Berani-beraninya dia memperlakukan kamu seperti itu!” sungut Ibu Tari yang ikut terbawa suasana.
“Apa yang kalian bicarakan di dalam kamar memangnya?”
“Aku hanya minta dia untuk resign agar bisa fokus promil yang dia jalani, tapi dia malah langsung meninggalkanku tidur, membelakangiku tanpa merlihat kearahku sama sekali!” jawab Rico dengan emosi.
“Kurang ajar sekali Wanita itu, di suruh resign saja susahnya minta ampun, seharusnya kodrat Wanita itu memang dirumah bukan Wanita karir seperti ini, berapa sih gaji karyawan pabrik disana!!” umpat pak Trisno yang tak kalah emosi.
“Biar ibu labrak saja, Pak. Kurang aja sekali dia memperlakukan anak kita seperti itu.”
“Trisno menahan Istrinya, sambil memegangi tangan sang Istri. “Jangan gegabah Bu,”
“Kenapa Pak? Anak kita sudah tidak dihargai lagi olehnya, masih untung Rico mau mempertahankan Wanita mandul seperti dia!” jawab Bu Tari dengan nada yang penuh emosi.
“Sudahlah bu, jangan pikirkan dia lagi, sekarang fokus saja pada tujuanmu untuk menjodohkan anak kita dengan seseorang yang kamu ceritakan barusan,” pinta Pak Trisno kepada Istrinya.
“Kamu mau kan Rico? Biar Ibu atur jadwalnya dulu. Dia tak kalah cantik kok dengan Istrimu yang tidak tahu diri itu, Ibu yakin kamu pasti akan suka,” desak Bu Tari kepada anaknya.
“Tapi Rico masih berstatus suaminya Arum, Bu. Bagaimana mungkin dia mau sama orang yang sudah beristri?”
“Sudah tenang saja, kamu serahkan saja sama Bapak dan Ibu,” ucap Trisno sambil menepuk pundak anaknya.
“Terserah kalian saja, Rico pusing,” ucap Rico lalu menyambar kunci mobilnya lalu pergi dari rumah.
Jauh dari lubuk hati yang paling dalam sejujurnya Rico masih mencintai Arum,
tapi Arum begitu keras kepala tidak mau mendengarkan ucapan Rico dan malah bersikap cuek terhadap Rico.
Rico pergi meninggalkan rumah dan melajukan mobilnya menuju club terdekat, pikirannya saat ini sedang kacau, ia memutuskan untuk pergi ke Club malam untuk menenangkan diri.
Setelah sampai dia segera memesan beberapa minuman beralkohol lalu meminumnya, Rico masih teringat sikap Istrinya yang berubah cuek dan acuh terhadap Rico. Rico kembali menenggak beberapa botol minuman lagi yang tanpa disadari ternyata sudah habis.
Rico yang sudah mabuk berat kembali memesan minuman lagi namun tidak diberi oleh Pelayan karena Rico sudah terlalu banyak minum malam ini.
Rico yang marah lalu menggebrak meja, dia tidak terima dikata mabuk, akhirnya dengan susah payah dia jalan hendak pergi meninggalkan Club tersebut.
Dengan langkah sedikit sempoyongan, Rico susah payah berjalan menuju tempat dimana mobilnya terparkir. Rico memegangi kepalanya yang sedikit pusing, dirinya hampir saja jatuh namun tiba-tiba seseorang membantunya berdiri.
“Rico? kamu mabuk?” tanya Wanita yang sudah menolongnya itu.
Rico menoleh kearah Wanita itu. “Ayu?”