Bab 2

629 Kata
November 2021 Seorang lelaki tampan, berbadan atletis dengan tinggi badan 185cm, sedang menatap keluar jendela besar yang berada di ruangan kerjanya. Pemandangan kota Jakarta yang diguyur hujan memanjakan penglihatannya, nampak segar, dibawah sana hiruk pikuk lalu lalang kendaraan yang sibuk tanpa ada kemacetan seperti biasanya. Lelaki itu menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar, seakan ada banyak pikiran yang berkecamuk didalam otaknya. " Kau melamun son!" Sebuah suara yang terdengar berat mengagetkan Victor Hutama Green, pria keturunan Inggris dan jawa dari neneknya yang mewariskan nama Hutama itu terhenyak dan menoleh. " Daddy? Kapan masuk?" Lelaki itu berjalan menuju sofa yang ada diruangan kerjanya itu. Mr. Thomas Green sudah duduk terlebih dulu. " Aku sudah mengetuk pintu beberapa kali, tapi kamu nggak ada jawaban. Daddy kira kamu pingsan son!" Kekeh pria yang berusia sudah tidak muda lagi itu, namu masih terlihat gagah dan ketampanannya waktu masih muda tercetak sempurna diwajahnya. Keluarga Green memang terbiasa mengetuk pintu jika memasuki ruangan siapa saja, termasuk ruangan anaknya sekalipun. Bagi mereka, menghormati privacy itu penting. Alih- alih ingin memergoki kesalahan dengan secara pura- pura tidak sengaja, mereka lebih menekankan kejujuran dalam segala hal. " Maaf dad, sepertinya hujan diluar sana membiusku" ucapnya sambil melemparkan bokongnya ke sofa. " Apakah kau masih memikirkannya?" selidik Mr. Green " Ya dad, tidak bisa dipingkiri, aku merasa dia masih hidup dad. Entah dimana. " Tukasnya tegas Mr. Green tersenyum, senyum yang sulit diartikan oleh Victor. " Tapi kau harus membuka hati untuk yang lain son!" Ucap daddy nya " Di usiamu sekarang ini, 10tahun kemudian kau lahir menjadi anak bungsu kami. Dan peristiwa itu sudah lama sekali terjadi ,son! Kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. " Pungkas Mr. Green " Justru itu dad, aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. " " Jangan pernah kau mencoba menyelidiki peristiwa itu VICTOR HUTAMA GREEN!!!" Sahut Mr. Green dengan nada tinggi " " Kau adalah harapanku satu- satunya setelah Sam pergi!"Mr. Green mencondongkan badan,menatap mata putranya intens. Victor berdiri dari kursinya, berjalan menuju jendela dan memandang kota Jakarta yang masih diguyur hujan. " Ini tidak adil dad, kalian semua sepertinya menyembunyikan sesuatu. Dan Sam pergi karena daddy yang terlalu keras padanya" Jawab Victor datar, matanya masih mengawasi kondisi jalanan yang masih lengang. Jendela dikantornya itu seperti tempat favorit bagi Victor. Setiap kegelisahan melanda hatinya, entah karena dia belum menemukan ide untuk pengembangan perusahaan selanjutnya atau karena masalah pikirannya yang berkecamuk sebab masalah dihatinya, dia selalu berdiri di jendela itu dan memandang ramainya lalu lalang jalanan ibu kota dari lantai 35, kantornya yang berdiri megah diantara perusahaan- perusahaan lainnya. " Aaahhh..sudahlah aku kemari bukan untuk memperdebatkan hal yang sudah lama terjadi son." Mr. Victor menarik nafas panjang. " Sepertinya kita akan lebih sibuk mulai sekarang. Karena Mr. Vreux akan kembali ke Indonesia dua minggu lagi. Kita.perlu mempersiapkan surat- surat pemisahan perusahaan." Kata Mr. Green Victor memutar badannya, menyandarkan badannya membelakangi jendela. " Apa Mr. Vreux ingin memisahkan perusahaan yang sudah kita merger ini dad? " Tanya Victor, matanya berbinar ketika mengetahui kabar tersebut. " Daddy masih belum tahu, tapi yang jelas kita harus menyiapkan berkas- berkas yang diperlukan agar tidak terburu- nantinya. " Jelas Mr. Green. " Baiklah dad, biar Bella yang mengurusnya nanti. " Tukas Victor " Ok son daddy serahkan semua kepadamu. Apa kau akan makan siang dirumah? " Tanya Mr. Green sambil beranjak dari kursi, berjalan menuju pintu " Tidak dad! Sebentar lagi aku akan meeting dengan prof. Lukito, sepertinya dia mulai mengembangkan pakan ternak terbaru. " Tolak Victor " Baiklah kalau begitu daddy akan pulang sekarang. Dan jangan coba- coba kau selidiki peristiwa itu melalui Mr. Vreux, son! Dia tidak suka!" ucap Mr. Green memperingatkan anaknya sambil membuka pintu, lalu menutupnya. Victor mendengkus kesal. " Dasar cenayang! " Gerutu Victor setelah daddy nya keluar dari ruangannya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN