Victor POV
Hari ini, bulan November ke 20, setelah berita kematian Olla. Gadis cantik dan imut yang mengisi relung hatiku, mungkin orang lain pikir ini lucu, sebab perasaanku padanya tumbuh ketika masih usia 9tahun, terlalu dini bukan? Orang pikir pasti ini cinta monyet! Tapi bukan! Jika ini cinta monyet, seharusnya aku sudah menikah dan mempunyai anak yang lucu dan menggemaskan. Aku tersenyum membayangkan itu.
Bukan berarti aku tidak mencoba untuk membuka hatiku seperti saran teman- temanku dan kedua orang tuaku untuk membuka hati. Aku terus mencoba, dari kalangan selebriti, anak pejabat, sesama pengusaha aku jalani bahkan aku sampai meminta Bella, sekertaris sexy ku untuk mencarikanku jodoh, dan dia hanya tertawa terbahak- bahak.
" Lo gila Vic?!" Tanyanya sambil tersenyum sinis " Lo tinggal pilih sajalah, ngapain harus ngelibatin gue! Nggak ah! " Tolak Bella, ketika aku menyatakan keinginanku untuk dicarikan jodoh.
Dikantor, dia memang sekertarisku, namu diluar, kami adalah sahabat. Kami berteman sejak SMP, dialah yang bisa membuatku melupakan Olla. Anaknya ramah, berisik, namun cantik dan cerdas. Tidak seperti gadis- gadis lainnya, yang hanya mengharapkan aku jadi kekasihnya, dia cenderung cuek dan judes banget ketika pertama kali bertemu, jangan lupa ke bar- bar an nya. Wkwwkkwwkkwk
Yang jelas dia adalah gadis aneh waktu itu, dan itu membuatku ingin mendekatinya, bukan karena ingin memilikinya, namun lebih karena dia adalah gadis yang unik, yang membuatku tidak muak seperti ketika bertemu gadis- gadis lainnya.
Dia bukanlah gadis dari kalangan orang- orang kaya, orang tuanya bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Dan dia masuk kesekolah gue dengan beasiswa prestasi olahraga cabang karate dan taekwondo yang membuat tak seorangpun berani membully dia.
" Bellaaa..tolongin gue laahh..lo mau sahabat tercinta dan tertampan ini mati dalam kejombloan?" Pintaku memelas.
" Terserah lo Vic! Yang jelas gue gak sudi comblang- comblangin orang!" Tegasnya
" Atau.. lo yang jadi pacar gue langsung nikah juga boleh kok!" Godaku, sambil mengedipkan sebelah mata, tak lupa kupasang seringai menggoda
PLAK!
" Bangun wooooooiiiii!" Ternyata Bella menepuk pipiku pelan, namun cukup membuat pipiku sedikit terasa panas. Kuusap pipiku perlahan
" Jangan mimpi lu! Amit- amit dah nikah ma lu! " Katanya dengan ekspresi jijik.
" Lo jomblo kan? Lebih tepatnya J- O - N - E - S! " Ucapku penuh penekanan
" Apaan sih! Lo mau gue banting disini!" Matanya melotot menggemaskan membuatku terkekeh
Kata orang, persahabatan laki- laki dan perempuan itu omong losong, tapi tidak berlaku untuk kami. Dia memang tidak menyukaiku, dia tulus berteman denganku tanpa adanya perasaan yang mengganggu, sebab cita- citanya untuk menjadi seorang atlet taekwondo internasional sangatlah membara, dan dia fokus mengejar itu. Bagi dia pacaran akan membuat dia terganggu. Dan sebenarnya dia sedang menyimpan perasaan dengan seorang coach taekwondo nya yang sudah lama pulang ke Negeri Ginseng. Dia bertekad untuk menjadi atlet internasional agar bisa bertemu dengan coach nya tersebut. Sama seperti aku, rasa cintanya tumbuh ketika usianya masih belia, 9 tahun, dan waktu itu coach nya berusia 22tahun, sungguh dramatis bukan? hahahahaha
Kuliah kami tidak bersama lagi, karena daddy memintaku kuliah di luar negri dan dia meneruskan kuliah di universitas ternama di Jakarta dengan beasiswa tentunya.
" Lagian Vic, kalau gue ngebet ngenalin lo dengan seseorang dan elo masih belum bisa melupakan dia, sama seperti gue yang rela jadi jomblowati karena takut hanya melukai hati seseorang karena gue nggak tulus! " ucapnya
" Hmm..bener juga kata lo! Dan gue masih ada keyakinan kalau dia masih hidup!"
" Lo nggak pingin nyelidikin gitu Vic?" Tanyanya penasaran
" Udah gue bilang berapa kali Miss Isabella Anggodo bahwa Mr. Green yang terhormat itu nggak akan pernah ngijinin gue buat menyelidiki masalah itu." Jawabku datar, penuh penekanan
" Heheheh..ya maaf, gue suka lupa bagian ini" Jawabnya sambil nyengir.
*
Asyik melamun, sampai aku tak sadar bahwa daddyku, Mr. Green masuk keruanganku.
Aku tidak mendengar beliau mengetuk pintu, mungkin sudah mengetuk tapi aku tidak mendengar.
"Dad?" sapaku pada pria yang mewariskan netra coklat terangnya kepadaku. Beliau langsung duduk dikursi sofa yang terletak di tengah- tengah ruangan perusahaanku.
" Melamun son?" Tanyanya sambil tersenyum. Aku melangkahkan kako menuju sofa dan menghempaskan tubuhku disana.
Aku tersenyum simpul
' Yaahh..begitulah dad, bulan ini adalah bulan dimana Olla, kekasih yang kutunggu sampai sekarang diberitakan meninggal ' batinku
" Hmmmm.." Daddy menghela nafas berat
Obrolan kami berlanjut sedikit bertengkar karena daddy tidak pernah mengijinkan aku untuk menyelidiki peristiwa ynag membuat Olla meninggal. Dan aku rasa peristiwa itu sungguh mengganjal. Bagaimana tidak? Setelah pemberitaan itu, jasadnya tidak pernah ditemukan, bahkan jasad kru pesawat juga tidak ada dan mereka juga menghilang, tak satupun mereka bisa menjadi saksi kecelakaan itu selain bongkahan pesawat yang ditemukan bereserakan di lautan, pencarian jenazah dilakukan berbulan- bulan tidka menemukan titik terang satupun. Saat itu hanya Olla dan beberapa asistennya yang pergi menggunakan pesawat pribadi, naas, tiba- tiba pesawat itu meledak diatas laut , saat akan tiba di Prancis.
Dan yang paling aneh adalah, Mr. Vreux tidak mengadakan upacara kematian untuk putri semata wayangnya itu, dia dan istrinya langsung meninggalkan Indonesia, entah kemana dan meninggalkan perusahaannya yang saat itu berkembang pesat untuk dikelola daddy, sekarang aku yang mengelolanya.
Hal itu tentu saja membuatku terpukul dan perlahan merubahku menjadi sosok yang dingin.
" Mr. Vreux akan kembali ke Indonesia." Ucap daddy setelah agak bersitegang tadi. Bagaikan tersiram air hujan ditengah hamparan gurun ketidakpastian, kalimat yang meluncur dari bibir daddy membuatku berbinar. Seakan menemukan secercah sinar harapan untuk mengetahui kebenarannya.
" Baiklah kalau begitu daddy akan pulang sekarang. Dan jangan coba- coba kau selidiki peristiwa itu melalui Mr. Vreux, son! Dia tidak suka!" Ucap Daddy tegas, mengakhiri pembicaraan kami dan membuka pintu, keluar dari ruanganku. Seakan beliau tahu apa yang sedang aku pikirkan.
" Dasar cenayang!" Gerutuku kesal, tentunsaja setelah yakin daddy sudah menjauh dari pintu.
Kemudian aku menuju ke pintu, untuk menemui Bella sekertarisku. Cacing dalam perutku sudah berdemo meminta subsidi makanan.