"Gadis seumuran kamu seharusnya sudah tidak mempermasalahkan bentuk tubuh seorang pria. Ada apa denganmu?"
Aaron menatap Hana horor. Hana melakukan hal yang sama sambil beringsut dari pintu kamar Aaron yang terbuka. Gadis itu baru saja datang dan ingin menemui Aaron untuk memberitahukan bahwa ada tamu di ruang depan. Tapi Hana terkejut dengan Aaron yang bertelanjang d**a setelah mandi. Aaron memang sudah memakai celana panjangnya, tapi...
"Ada apa?"
Hana mendongak. Aaron melongoknya dari pintu dan memicing menatapnya. Tatapan Hana menabrak manik mata Aaron yang berwarna hitam legam. Kata tidak jelas sambil menunjuk ruang depan, keluar dari mulut Hana membuat Aaron menoleh ke arah yang ditunjuk Hana.
"Ada tamu? Sepagi ini? Siapa?"
"Seseorang dari agensi. Sudah pernah kemari jadi aku mempersilahkan dia masuk."
"Oke. Kau sudah makan?"
Aaron masuk kembali ke kamarnya dan keluar lagi sambil memakai sebuah t-shirt lengan pendek.
"Kau sudah makan?" Aaron mengulangi lagi pertanyaannya sementara Hana baru saja ingin melangkah ke arah ruang baju Aaron. Tidak ada jadwal apapun hari itu untuk Aaron tapi dia membuat Hana datang ke rumahnya untuk membantu Aaron membuat custom sepatunya sendiri.
"Oke."
Aaron melanjutkan langkahnya ke ruang depan. Meninggalkan Hana yang termenung sambil memegang buku dan sebuah tablet di tangannya. Hana lalu berbalik dan melangkah ke ruang kerja Aaron. Urung pergi ke ruang baju.
Hana membuka pintu ruang kerja Aaron. Sebuah ruangan di lantai bawah yang berada di sayap kanan rumah besar itu. Mata Hana menjelajah. Bukan sekali ini saja Hana masuk ke ruangan itu, tapi Hana selalu saja merasa jatuh cinta pada tempat itu. Tempat yang sama sekali tidak mencerminkan Aaron sebagai seorang selebriti. Tempat itu lebih terlihat sebagai sebuah tempat bagi pekerja yang mengerjakan pekerjaan sedikit kasar.
Hana melangkah mendekati jendela. Menyibak tirai hingga ke pelapisnya dan mengikatnya di kedua sisi jendela. Matahari pukul delapan menyeruak masuk.
Musim panas kedua. Dan Hana menyukai pekerjaannya walau pada kenyataannya, Aaron sering meminta waktu di luar waktu bekerjanya. Hana melangkah ke meja kerja Aaron dan membenahinya.
Hana menoleh saat dia mendengar suara langkah masuk ke ruang kerja itu. Aaron datang dan melemparkan sebuah map berwarna hitam ke meja yang baru saja Hana bereskan. Hana melirik dengan ujung matanya lalu membenahi letak map itu agar menjadi satu dengan map yang lain. Kontrak kerjasama dari sebuah perusahaan. Sebuah iklan. Aaron akan membutuhkan setidaknya dua hari untuk memberikan jawaban untuk pekerjaan seperti itu. Itu yang selalu Aaron lakukan. Memikirkan dengan benar apa yang harus dia kerjakan.
Aaron mengeluarkan dua dus sepatu dari rak penyimpanan. Hana berdiri di sampingnya sambil membenahi spidol dan menempatkannya sesuai dengan warnanya.
"Apakah ini untuk couple?" Hana bertanya spontan saat Aaron mengeluarkan sepatu Converse dengan ukuran yang berbeda. Dan Aaron hanya mengangguk-angguk. Lalu dengan cekatan dia duduk. Mulai menekuni pekerjaan. Hana ikut duduk dan sudah menghafal apa yang harus dia lakukan. Hana melakukan apa saja yang Aaron minta. Mengambilkan apa yang Aaron butuhkan. Memberikan pendapat ketika Aaron meminta.
"Kau tidak berniat memotong rambutmu?" Aaron bergumam tanpa menoleh pada Hana. Dia sedang fokus mengoleskan cat pada sisi sebelah dalam sepatu di depannya.
"Kalau kau merasa tidak nyaman melihatnya, aku akan memotong rambutku setelah dari sini." Hana menjawab sambil membuka tutup sebuah cat. Aaron tidak menjawab. Rambut Hana memang sudah cukup panjang. Tapi Hana menyukainya. Menyukai membuat bun untuk rambutnya. Atau mengikatnya ekor kuda.
Tapi kalau Aaron tidak nyaman dengan rambutnya, maka Hana akan memotongnya nanti.
Matahari naik hingga menyentuh waktu makan siang saat Hana dan Aaron selesai mencuci tangan mereka dan menunggu makan siang mereka. Mereka duduk bersisian di sebuah sofa. Hana sibuk dengan tablet di tangannya. Dia mengamati gambar sepatu yang dia ambil tadi. Sepatu itu nampak cantik. Sapuan kuas Aaron sangat halus. Aaron akhir akhir ini sedang menyukai anime. Beberapa kali Hana menatap dua pasang sepatu di tas meja kerja Aaron. Lalu menatap tabletnya.
Dan Aaron? Menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Kakinya berada di atas meja dan matanya terpejam.
Hana menghela napas. Berapa ribu gadis di luar sana yang iri dengan pekerjaannya? Pekerjaan yang bisa membuatnya bertemu setiap saat dengan Aaron. Aaron yang digilai banyak wanita. Para wanita itu tidak akan pernah tahu Aaron pandai dalam segalanya. Aaron bahkan bisa mengoperasikan mesin jahit sebaik yang Hana bisa. Aaron bisa memotong dua sepatu dengan brand sama namun berbeda warna dan menyatukannya dengan rapi. Sepatu yang menjadi gayanya sendiri.
Aaron pandai memasak ketika dia mau. Dan lain sebagainya...Hana tidak akan cukup memiliki waktu untuk menjelaskan apa saja yang harus Aaron bisa.
Hana beranjak ketika bel berbunyi di seantero rumah. Hana melangkah ke ruang depan dan membuka pintu. Menemukan seseorang dari sebuah restoran Jepang berdiri di depan sambil tersenyum. Pria itu mengulurkan pesanan Aaron. Hana baru saja merogoh kantongnya ketika tangan Aaron terulur membayar jumlah pesanannya dengan tambahan tip. Hana mendongak. Aaron berdiri menjulang sangat dekat dengannya. Bahu Hana bahkan menyentuh d**a Aaron. Lalu Hana melihat Aaron yang tertawa pelan. Hana menoleh ke arah pria di depannya. Pria itu terlihat canggung dan berbalik dengan cepat setelah Aaron memergokinya mengambil fotonya diam-diam.
"Seharusnya tidak seperti itu..." Hana ikut tertawa. Lalu dia berjalan terseok ketika tangan Aaron mendorong bahunya. Mereka kembali ke ruang kerja dan memakan makan siang mereka sambil berbicara.
"Apa kau akan mengambil liburmu besok?"
Hana mendongak. Sumpit di tangannya tertahan di mulutnya.
"Kenapa? Apakah kau membutuhkan aku?"
Mereka terdiam. Menelaah jawaban Hana.
"...maksudku, apa kau membutuhkan bantuan ku?" Hana mengoreksi jawabannya.
"Aaa..." Aaron menunjuk Hana dengan sumpit di tangannya. Menyetujui apa yang diucapkan Hana. "Aku perlu menghafal skrip."
Hana mengangguk-angguk. Aaron memang baru saja menandatangani kontrak dengan sebuah rumah produksi untuk sebuah film.
"Oke." Hana menjawab sambil mengangguk.
"Apa kau tidak pergi berkencan?"
"Siapa yang mau denganku?" Hana menjawab acuh sambil menyumpit makanannya.
"Baiklah. Pagi kau bisa? Atau... menginap lah."
"Oke." Hana tetap pada makannya. Mengabaikan Aaron yang menatapnya heran. Hana makan sangat baik tapi tubuhnya tetap seperti dua tahun lalu ketika mereka bertemu untuk sesi wawancara. Aaron menghela napas dan meneruskan makannya.
Yang ada dalam pikirannya, mengapa Hana sangat penurut?
Hana mendongak menatap Aaron yang menggeliat. Mulut Hana mengerucut karena Aaron bahkan tidak terlihat menjaga penampilan di depannya. Pria itu menggeliat serampangan dan terlihat puas dengan apa yang baru saja dia makan. Aaron yang seperti itu sangat berbeda dengan Aaron ketika berada di lokasi dimana dia bekerja.
"Tidurlah dengan baik...." Aaron beranjak dan mengacak keras rambut Hana yang termangu menatapnya.
"Huumm...oke." Hana ikut beranjak dan membenahi bekas makan mereka. Aaron berjalan keluar dari ruang kerja sambil memasukkan kedua tangan ke saku celananya. Hana menyusul dan berbelok ke arah samping. Menyusuri selasar samping rumah sebelum keluar ke halaman depan untuk membuang sampah. Hana berbalik cepat saat melihat sebuah mobil berwarna hitam terparkir di sisi jalan tepat di seberang jalan di depan rumah Aaron. Dua orang pria terlihat di bagian depan mobil. Hana berpikir tentang para wartawan yang sepertinya enggan memberi ruang pada Aaron. Apalagi setelah sebuah pers conference dirilis dua hari lalu. Tentang film terbaru Aaron yang akan dibintanginya bersama dengan aktris muda berbakat Sandra Fanning. Berita itu menjadi topik hangat seketika itu juga.
Hana berjalan cepat ke arah samping rumah. Kembali menyusuri selasar dan masuk kembali ke ruang kerja. Sebelumnya dia melirik ruang tidur Aaron yang pintunya sudah tertutup. Pria itu pasti sudah terlelap. Hana meraih tabletnya untuk memeriksa kembali baju-baju yang harus dipersiapkan untuk Aaron untuk sebulan ke depan.
Pikiran Hana melayang. Hana membiarkan tabletnya menyala. Hana menatap kosong keluar jendela. Berpikir untuk berapa lama lagi dia akan bekerja pada Aaron? Pembicaraan dengan ayahnya membuat Hana berpikir. Dia menjalani begitu saja hidupnya. Apakah dia juga harus menjalani begitu saja perjodohan yang sudah diatur oleh keluarganya? Apakah harus seperti itu? Apakah dia bisa?
Hana berpikir seharusnya dia bisa. Pria yang dipilihkan ayahnya bukanlah pria buruk rupa. Pria itu juga memiliki hidup yang baik. Keluarga memandang pria itu mampu menjaga Hana. Hana belum menjawab. Tapi jawaban itu ditunggu oleh keluarganya.
Hana yang sudah 25 tahun. Sudah dewasa bahkan sebelum dia menginjak usia itu. Cepat atau lambat dia harus memberi orang tuanya jawaban.
Hana menoleh. Mendapati Aaron yang berjalan ke arahnya sambil membawa sebuah benda.
"Apa ini bagus?" Aaron meraih tangan Hana dan meletakkan dua buah cincin emas di tangannya. Hana mengamatinya dengan teliti. Permukaan cincin itu di bagian luar dan dalam masih terlihat kasar.
"Apakah kau mengerjakannya sendiri?" Hana mendongak sekilas sebelum menatap lagi cincin di tangannya. Aaron menjelaskan secara rinci bahwa desain itu masih sangat mentah. Aaron membutuhkan waktu yang sangat banyak untuk menghaluskan permukaannya dan membubuhkan inisial di atas permukaan cincin bagian dalam. Hana mengangguk-angguk mengerti.
"Aku akan meletakkan permata berwarna hijau di bagian...ini." Aaron menunjuk dengan hati-hati cincin di tangan Hana.
Sekali lagi Hana mengangguk. Dia dan Aaron memiliki persamaan itu. Menyukai warna hijau. Mereka sering sekali menemukan titik temu pada warna itu. Untuk setiap baju dan aksesoris.
Hana mengembalikan cincin itu ke tangan Aaron dan Aaron melangkah ke arah meja kerjanya. Menarik sebuah laci dan mengeluarkan kotak kecil dari dalamnya. Dengan hati-hati Aaron meletakkan cincin itu. Dia menoleh ke arah Hana dan tersenyum.
"Istirahatlah."
Hana mengangguk dan berbalik. Melangkah menuju ruang tidur tamu. Menghilang di baliknya dan merebahkan tubuhnya. Pikirannya kembali resah.
Perjodohan itu.
***