Bab 04. Pertemuan Pertama

1029 Kata
Pikiran Mahendra kalang kabut, di posisi lelah seperti ini selalu saja ada masalah dalam kehidupan rumah tangganya. Entah kenapa, Mahendra merasa ada yang aneh dari sikap istrinya. Adelia jadi sering pulang larut akhir-akhir ini. Ia menuntut Adelia untuk di rumah bukan karena dirinya, tetapi karena memikirkan anaknya. Apalagi mereka punya anak kecil, dua putrinya butuh kasih sayang seorang ibu. "Ck, harus gimana lagi aku menghadapi wanita itu? Adelia membuatku gila!" gumam Mahendra sembari memukul stir saking kesalnya. Mahendra juga tidak tahu akan pergi ke mana setelah ini, rasanya ingin ke tempat yang membuat pikirannya tenang. Sampai dia berpikir, untuk mendatangi salah satu club malam. Tempat Mahendra untuk menghilangkan penat jika ada masalah di rumah maupun di kantor. Sekian lama mengurus pekerjaan di luar kota, Mahendra pun baru sempat datang ke sini. Club malam yang menjadi tempat pelarian, meskipun hanya sekedar minum, ia tidak minat tidur bersama wanita malam. Pria berusia matang itu masuk ke dalam. Semua pegawai tahu siapa Mahendra ini, dia merupakan seorang pengusaha sukses. Banyak wanita yang mengincar dirinya walau usianya tidak lagi muda, tetapi ketampanan masih terlihat di wajahnya. "Selamat datang Tuan Mahendra, apakah Anda berniat tidur denganku malam ini?" tanya salah satu pelayan club, sambil bergelayut manja di lengan Mahendra. Baru saja sampai, sudah di hadapkan dengan wanita-wanita seperti ini. "Jangan menyentuhku! Aku tidak sudi disentuh wanita sepertimu!" ketus Mahendra, mengusir mereka agar pergi dari hadapannya. Dengan perasaan kecewa, mereka pergi begitu saja. Karena Madam Lauren sudah mengingatkan, untuk membuat nyaman pengunjung yang datang. "Pesan satu botol vodka! Segera!" ujar Mahendra sambil mengacungkan tangannya pada seorang wanita muda yang baru ia lihat kehadirannya. Dia berbeda, wajahnya yang paripuna dan sikap pendiamnya mampu menghipnotis Mahendra. "Selamat malam, Tuan Mahendra. Saya senang Anda datang," sapa Madam Lauren, menghampiri pengunjung setianya. "Siapa dia? Aku baru melihatnya?" tanya Mahendra, sambil melirik pada wanita muda, yang ia tafsir seumuran dengan Regina. Madam Lauren ikut menoleh, pada Dilara yang sedang membawa nampan. "Oh ... dia Dilara, pelayan baru di sini," balas Madam Lauren. "Sepertinya dia masih muda." "Benar, dia masih delapan belas tahun. Anda berminat?" Tanpa menjawab lagi, Mahendra hanya berdehem saja. Sampai akhirnya Dilara datang sambil menyuguhkan minuman pada tamunya. Sikap pendiamnya membuat Madam Lauren geram. Sepanjang bekerja, Dilara malah banyak melamun dan tidak memperlihatkan senyum sedikitpun. "Dilara! Kamu itu niat bekerja tidak sih? Kenapa dari kamu cemberut saja?" sentak Madam Lauren. Dilara terperangah, dia menunduk. "Ma-maaf, Madam. Aku hanya gugup," ujarnya berbata. "Sambut para tamu supaya dirimu cepat laku! Usaha dong kalau sedang butuh uang!" Lagi dan lagi Madam Lauren berseru marah. Jangan tanya bagaimana perasaan Dilara sekarang, malu sekaligus sedih menjadi satu harus ditegur di hadapan banyaknya orang. "Hentikan! Jangan mengganggu waktuku di sini, pergi saja kalian!" usir Mahendra pada dua wanita yang membuat kegaduhan. Dilara melihat pada dompet pria di depannya yang terjatuh ke lantai. Ia memicing, melihat ada fotonya bersama dengan seorang wanita. 'Ta-tante Adelia?' pekik Dilara dalam hatinya. 'Jadi ... pria ini ... suaminya si pelakor itu?' lanjutnya terus memperhatikan foto pernikahan. "Heh, Dilara! Apa yang kamu lihat?" Lamunan Dilara buyar. "It-itu, Madam. Dompetnya Tuan jatuh ke lantai." Atensi Mahendra beralih ke bawah, tepat pada dompetnya yang jatuh di lantai. "Kau bisa pergi!" ujar Mahendra, memungut dompetnya dan menatap gerak-gerik Dilara yang menjauh. 'Cantik ... namun kurang menarik,' batin Mahendra. *** Tessa mendatangi Dilara, dia berjalan dengan sempoyongan sembari menghampiri Dilara. Mencium aroma yang menyengat, Dilara menutup hidungnya. Gadis itu segera menahan Tessa, agar temannya tidak jatuh. Sepertinya Tessa mabuk, ia juga baru melihatnya lagi karena tadi sempat menghilang beberapa saat. "Astaga, Tessa. Kamu kenapa? Kamu mabuk?" pekik Dilara, memapah Tessa untuk duduk di kursi. Akan tetapi, Tessa menolak dia menepis tangan Dilara dengan mata setengah terbuka. Dilara melangkah mundur, saat ada seorang pria tua bangka memeluk tubuh Tessa. "Menyingkir, dia sudah kubayar untuk malam ini," katanya, sambil melarang Dilara untuk menolong. Di pelukannya, Tessa terus memberontak, memukul-mukul agar dia dilepaskan. "Lepaskan aku! Aku nggak mau tidur denganmu, mulutmu bau!" racaunya dalam keadaan setengah sadar. "Diam! Jika kamu menolak, siap-siap saja kulaporkan ke Madammu itu!" Pria itu mengancam, memaksa Tessa untuk ikut dengannya. "Tolong aku, Dilara! Pria tua ini akan menggempurku sampai pagi!" Di tempat Dilara berdiri, dia meringis, entah apa yang akan mereka lakukan. Dilara ingin pulang, tapi belum dapat uang. 'Bu ... bagaimana keadaanmu?' batin Dilara, takut terjadi sesuatu karena operasi ditunda sampai uangnya ada. "Hei, lihatlah, ada gadis cantik dan muda rupanya. Kamu anak baru di sini? Sepertinya kamu masih perawan. Benar, bukan?" Dilara berjingkat, tiba-tiba ada dua orang pria menghampirinya sambil menggodanya. Dilara gemetar, ia ingin menangis sekarang ini. "Jangan sentuh aku! Pergi kalian!" sentak Dilara, memeluk dirinya yang ketakutan. Dua pria muda di hadapannya tidak menggubris, mereka terus melancarkan aksinya pada Dilara yang sulit menghindar. "Jangan sok jual mahal, kedatanganmu ke sini tentu untuk menjual diri. Memangnya ada, seorang pelac*r berharga?" Tangan mereka terus menggerayangi Dilara. Sekuat tenaga Dilara menghindar, dia mendorong salah satu di antaranya. Berharap agar bisa kabur. Prang! "Jal*ng sialan! Tangkap dia dan bawa ke kamar!" Pria berbaju hitam terdorong ke atas meja, pergelangan tangan Dilara dipegang oleh rekannya. "Berani sekali kau menyakiti sahabatku!" makinya, sambil mencengkram kuat dagu Dilara. "Tu-tuan ... ak-aku mohon lepaskan aku ... aku ingin pulang," pinta Dilara, dua matanya sudah berkaca-kaca. "Kau pikir kau bisa lari? Tidak bisa seperti itu. Kami sudah menyewamu kepada Madammu, malam ini kau milik kami." Tubuh Dilara diseret paksa menuju kamar. Gadis itu berteriak meminta tolong. Atas keributan yang terjadi, banyak pasang mata yang memperharikannya. Namun, tidak ada satu pun di antara banyaknya orang merasa iba atau mau menolong. Mahendra yang melihat itu hanya diam. "Berapa harga wanita itu?" tanyanya kepada Madam Lauren. "Seharga biaya operasi, biarkan saja, dia harus menuruti peraturan di sini," balas Madam Lauren. "Aku akan membelinya, seratus juta, jika kurang kau bisa menghubungiku," kata Mahendra menegaskan, membuat Madam Lauren tercengang. Dia terkejut, untuk pertama kalinya bagi Mahendra menyewa wanita di tempat hiburannya dengan harga fantastis. "Anda serius, Tuan?" Mahendra mengangguk mengiyakan. "Cepat hentikan mereka dan berikan gadis itu kepadaku!" Madam Lauren dengan cepat berdiri, dia menghadang pria yang menyeret Dilara. "Hentikan! Dilara tidak jadi kujual pada kalian. Karena dia masih perawan, aku akan menjualnya pada pria yang memberi harga mahal!" tegas Madam Lauren.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN