Mendengar suara bentakan dari seseorang, kedua insan itu dengan kompak menoleh ke depan kamar. Aji langsung tersentak kaget, melihat Dilara yang sedang memergokinya tengah bercinta.
Aji langsung melepaskan diri, ia buru-buru memakai celananya dengan asal. Dia berdiri dan menghampiri putrinya.
"Di-dilara ... apa yang kamu lakukan di sini?" Aji tergagap, malu setengah mati karena Dilara mengetahui.
Dilara tertawa sumbang, dia menatap nyalang pada dua orang yang sudah melakukan hubungan terlarang. Kedua mata Dilara berkaca-kaca, geram dengan sikap ayahnya.
"Harusnya aku yang bertanya, apa yang Ayah lakukan dengan Tante Adelia?"
"Dilara ... nanti Ayah jelaskan, keluarlah."
"Cukup, Ayah! Jangan jelaskan apapun lagi padaku! Di saat Ibuku sedang bertaruh nyawa, Ayah malah asik-asikkan dengan wanita jal*ng seperti dia!" sentak Dilara sambil menunjuk perempuan yang tengah menutupi tubuh polosnya dengan selimut.
Ia menggelengkan kepala. Jika wanita yang menjadi selingkuhan ayahnya adalah Adelia --- majikan ayah di tempat kerja. Entah sejak kapan hubungan mereka terjalin, sampai-sampai dengan berani berzina di kamar yang di tempati oleh ibunya.
Dilara murka, dia ingin mencakar-cakar wajah Adelia yang dengan santainya menyimak obrolan.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini, Dila! Jangan mencari masalah dengan kami! Kamu urus saja ibumu yang penyakitan itu!" usir Aji pada putrinya.
Bahkan Aji malah mementingkan selingkuhannya daripada dia dan ibunya.
Benar-benar keterlaluan, Dilara tidak akan membiarkan.
"Pergi kamu dari sini! Jangan berani mengganggu ayahku!" Dilara berlari ke arah Adelia sambil menjambak pelakor itu dengan berani.
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan tanganmu, jangan bersikap kurang ajar padaku!" ketus Adelia.
"Orang sepertimu harus diberikan pelajaran! Bisanya hanya merusak rumah tangga orang!"
Adelia meringis, merasakan beberapa helai rambutnya tercabut paksa karena aksi nekat Dilara.
"Argggh! Sakit bod*h! Lepaskan aku!" ketus Adelia, berusaha melepaskan tangan Dilara yang menjambak surai panjangnya.
Meskipun usia Dilara masih muda, tenaga gadis itu jauh lebih besar sehingga Adelia kesulitan menyeimbangkan atau memberikan perlawanan.
"Rasakan akibatnya jika kamu sudah berani menyakiti Ibuku, Adelia! Pergi kamu dari rumahku, aku muak melihat wajahmu, dasar w************n!" Dilara begitu lancang melontarkan cacian makin pada selingkuhan ayahnya.
"Mas Aji! Sakit, Mas!" Adelia berteriak, sambil meminta bantuan pada Aji.
Kepalanya terasa pening dan sakit akibat tindakan Dilara. Tak ingin Dilara bersikap kurang ajar, Aji pun turun tangan melerai.
Plak!
Tubuh Dilara terjatuh ke lantai, saat sebuah tamparan mendarat begitu kencang mengenai pipinya. Dilara memegangi pipi yang terasa panas dan nyut-nyutan.
"Ay-ayah ...."
Sakitnya tamparan tak sebanding dengan sakit hati Dilara mendapatkan perlakuan kasar dari ayahnya sendiri. Dengan matanya yang basah, Dilara menatap kecewa pada Aji yang sedang melayangkan tatapan penuh ancaman.
"Dasar anak kurang ajar kamu, Dilara! Berani sekali kamu menyakitinya hah! Rahmi memang tidak becus mendidikmu, sampai kamu tidak punya sopan santun seperti itu!" Aji mengeluarkan kekesalannya di hadapan Dilara.
Adelia yang melihat Aji membela dirinya tersenyum smirk, ia puas melihat anak itu diberikan pelajaran yang setimpal.
"Mas Aji ... sakit, Mas," keluh Adelia merengek manja, sambil memegangi wajahnya yang terdapat bekas cakaran kuku panjang anak kekasihnya.
Aji menilik wajah Adelia, wajahnya yang bersih dan mulus jadi merah. Aji mendelik tajam pada Dilara, tanpa rasa iba Aji menarik rambut Dilara untuk mengusirnya keluar kamar.
"Awwhhh! Sakit, Ayah!" teriakan Dilara begitu kencang, ia memberontak saat tangan Aji menyeretnya sampai pintu depan.
"Adelia! Adelia! Keluar kamu, wanita s****l! Aku nggak akan segan membalas perbuatanmu, camkan itu baik-baik!" Tangan Dilara menggebrak-gebrak pintu.
Sosok Adelia pun terlihat, wanita itu berjalan hanya mengenakan handuk. Sungguh menjijikan, berani sekali dia berpenampilan seperti itu.
Bukannya bersalah atau malu, Adelia malah meremehkan Dilara. "Kamu pikir aku takut padamu? Anak kecil sepertimu bisa apa. Nggak salah kalau Mas Aji lebih memilihku dibandingkan Ibumu yang penyakitan itu, Rahmi hanya bisa menyusahkan. Sementara aku, aku bisa memberikan Mas Aji kenikmat*n. Benar 'kan, Sayang?" tanyanya sembari menggaetkan tangan begitu mesra ke lengan Aji.
"Ibu mau dioperasi, aku butuh uang buat biaya operasi Ibu," kata Dilara, menyampaikan maksud dan tujuannya datang.
"Dikira biaya operasi murah? Mahal, Dilara, mahal. Ayah nggak punya uang sebesar itu, itu urusanmu dan Ibumu. Jangan membebaniku. Paham kamu?"
***
Niat hati pergi untuk mencari biaya pengobatan ibunya. Dilara kembali dengan cuma-cuma, rasa sakit di pipinya masih terasa. Ia tak boleh putus akal, demi keselamatan sang ibu.
Saat dirinya datang ke ruangan, Dilara mengerutkan kening melihat Rahmi masih ada di ruangan inap. Dilara bertanya, apakah operasinya sudah selesai?
"Sus, kenapa Ibu saya ada di sini? Apa operasinya udah selesai?" tanya Dilara pada suster yang menjaga.
Suster menoleh. "Maaf, Mbak. Sesuai prosedur rumah sakit. Anda harus datang ke ruang administrasi untuk melakukan pembayaran lebih dulu," katanya.
Syaraf tubuh Dilara melemas. Dia pikir mereka sudah menangangi, ternyata tidak. Uang dari mana sebanyak itu? Dilara juga mencoba meminta pada Aji. Akan tetapi Aji enggan membantu.
"Udah saya bilang tangani dulu Ibu saya, Sus! Soal biaya akan saya usahakan. Yang penting keselamatan Ibu lebih utama!" Dilara naik pitam. Pihak medis rupanya tidak cekatan dalam menangani pasien parah seperti ini.
"Sudah prosedur rumah sakit, Mbak. Kami nggak bisa berbuat apa-apa," ujar suster itu.
Dengan perasaan berkecamuk, Dilara terduduk lemas di lantai sembari memikirkan bagaimana caranya mencari uang dalam waktu semalam. Sementara Rahmi butuh pertolongan cepat.
Dilara membuka ponsel, menghubungi temam-temannya untuk meminjam uang. Di antara mereka tidak ada yang bisa membantu, karena memang nominalnya terbilang besar.
"Kalau uang aku gak punya sebanyak itu, tapi kalau kamu mau, kamu bisa dapet uang besar dalam waktu semalam," sahut Tessa di seberang sana.
"Kamu serius, Sa? Kerja di mana?" tanya Dilara dengan cepat.
"Nanti aku jelasin ke kamu secara langsung deh, kalau kamu mau kerja sekarang bisa sih. Itu juga kalau kamu mau, ya, Dila."
"Iya, Sa, aku mau!"
"Oke kalau gitu. Datang ke tempat yang aku kirim, nanti ada Madam yang bakalan ngarahin kamu."
Dilara tengah dilanda kebuntuan pun bagai menemukan secercah harapan. Tanpa pikir panjang, Dilara menyetujui temannya.
Hati Dilara dipenuhi rasa syukur, akhirnya ada jalan keluar bagi dirinya supaya dapat uang.
"Sus, saya titip Ibu dulu. Semoga besok uangnya terkumpul," kata Dilara, menyempatkan waktu mengecup kening Rahmi begitu sayang.
"Iya, Mbak. Semoga ada jalan keluarnya."
Di tengah malam, gadis muda itu terus berjalan ke tempat yang cukup jauh dari rumah sakit. Sekitar tiga puluh menit lamanya berjalan kaki, titik lokasi yang dia tuju tidak jauh dari sini.
"Nah, kayaknya bentar lagi sampai. Tempatnya ada di depa---"