Chapter 3

1660 Kata
“Sudah pulang, Sayang? Sepertinya anak Daddy bahagia sekali?” Jonathan menyapa anaknya yang baru datang bersama adik dan iparnya. Wajah Tere pun terlihat sangat bahagia, sangat berbeda dengan tadi. “Sayang, kalau ada yang bertanya harus dijawab,” Christy menegur selembut dan sehalus mungkin karena takut membuat Tere tersinggung dan bad mood kembali. Tere mengangguk patuh. “Iya, Dad, Tere baru pulang,” jawabnya dengan senyum terpaksanya. Jonathan menghampiri ketiganya, lalu berjongkok di depan putri semata wayangnya. “Joe, Mama di mana?” Steve menanyakan keberadaan ibunya. “Di kamarnya, beliau sedang menemani Fanny bermain,” jawab Jonathan tanpa memandang adiknya. Mendengar jawaban sang kakak, Steve dan Christy segera melangkah menuju kamar yang dimaksud. Mereka ingin melepas kangen kepada putri cantiknya sekaligus memberikan waktu berdua untuk Jonathan dan Tere menyelesaikan persoalan tadi. “Sayang, maafkan kesalahan Daddy tadi yang sudah membentakmu.” Jonathan sangat merasa bersalah atas perbuatannya. Tere memerhatikan raut bersalah ayahnya, kemudian dia mempunyai ide agar keinginannya terpenuhi. “Tapi ada syaratnya, Dad,” jawabnya pura-pura ketus. “Apa, Sayang? Katakanlah! Dad akan mengabulkannya, asal kamu mau memaafkan Dad.” Jonathan akan melakukan apa pun asal dia tidak dibenci oleh anak semata wayangnya. Hanya Tere satu-satunya harta berharga dalam hidupnya kini. “Izinkan Tere tinggal lebih lama di sini,” pinta Tere singkat. Tanpa berpikir panjang, Jonathan langsung menyetujui syarat yang diajukan putrinya. “Baiklah, Sayang. Daddy akan menemanimu di sini sampai kamu puas,” putusnya. “Terima kasih, Dad. I love you, Daddy.” Tere sangat senang dan langsung memeluk erat ayahnya yang berjongkok di depannya. “Kebahagiaanku sebagai seorang ayah adalah melihat anakku selalu sehat dan bahagia,” batin Jonathan berkata. “Ayo sekarang mandi dan berganti baju. Kita makan malam bersama. Daddy sudah memesankan makanan kesukaanmu,” ajak Jonathan sambil menarik tangan anaknya menuju kamar. “Sushi?” tanya Tere antusias. “Hua! Senangnya, Dad,” imbuhnya girang setelah melihat ayahnya mengangguk. “Kalau boleh tahu apa yang membuat anak kesayangan Daddy terlihat sangat bahagia hari ini?” Jonathan bertanya sambil mengambilkan baju ganti untuk anaknya. “Tere punya Aunty baru, Dad. Orangnya cantik dan baik. Oh ya, Dad, nama tengah kita ternyata mirip,” Tere menjawab sambil tersenyum bahagia mengingat senyum di wajah cantik Aunty barunya. “Wah! Nanti Daddy harus berterima kasih kepada Aunty barumu itu, Sayang. Benarkah? Siapa namanya?” Jonathan membalas senyum manis putrinya. “Angelica, Dad. Kata Aunty, Tere boleh memanggilnya Aunty Angel,” beri tahu Tere senang. “Nama yang bagus. Pasti dia Aunty yang baik hati seperti seorang malaikat, Sayang.” Jonathan meletakkan pakaian ganti untuk Tere di atas ranjang. “Pasti, Dad. Nanti kita sama-sama menemuinya. Dad, Tere mau mandi dulu ya.” Setelah melihat anggukan Jonathan, Tere bergegas masuk ke kamar mandinya. “Siapa pun wanita itu aku harus berterima kasih padanya karena sudah mengembalikan senyuman putriku,” gumam Jonathan setelah melihat punggung Tere menghilang di balik pintu kamar mandi. *** “Bagaimana, Fell, sudah dapat dipastikan jika wanita itu orang yang kita cari selama ini?” Jonathan menghubungi Felly saat menunggu Tere mandi. Dia menanyakan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Felly terhadap Cindy. “Sudah, Joe. Semuanya sudah aku kirimkan ke email-mu. Oh ya, bagaimana keadaan kalian?” jawab Felly di seberang sana. “Kerja yang bagus. Aku buka nanti email darimu, Fell. Baik, tapi Tere masih mau di sini,” Jonathan kembali memuji kinerja sekretarisnya yang berhasil memastikan orang yang menjadi targetnya. “Mungkin dia masih kangen Kakek, Nenek, dan keluarga kecil Uncle-nya, Joe. Nanti kabari saja kalau sudah mau kembali, biar aku yang menjemput kalian,” ucap Felly. “Iya, nanti aku pasti mengabarimu saat kami kembali ke sana. Oh iya, terima kasih sudah membantuku menangani perusahaan selama aku tidak ada,” ujar Jonathan tulus. “Sudah menjadi kewajibanku, Joe. Jangan lupa jaga kesehatanmu. Aku merindukanmu. Bilang juga pada Tere bahwa aku sangat merindukannya.” Jonathan tersenyum mendengar ucapan Felly. “Jaga kesehatanmu juga, Fell. Nanti aku sampaikan kepada Tere. Kami juga merindukanmu.” Jonathan menutup pembicaraan setelah dirasa cukup, tepat saat itu Tere pun sudah selesai mandi. “Sayang, Aunty Felly menitipkan salam padamu. Katanya dia kangen sekali denganmu.” Jonathan memakaikan pakaian pada tubuh putrinya, setelahnya membantu menyisir rambut sang anak. “Hm,” jawab Tere malas lalu merebut sisir dari tangan ayahnya dan cepat-cepat menyisir rambutnya. “Selesai, Dad. Ayo kita keluar, Tere sudah sangat lapar,” ucapnya tanpa memedulikan raut wajah Jonathan. Jonathan menyadari jika putrinya mulai tidak suka membicarakan tentang Felly, mungkin hal ini disebabkan karena pertengkarannya tadi sore. Namun, dia bertekad akan mulai membujuk serta mendekatkan kembali putrinya dengan Felly secara perlahan. *** Seorang laki-laki dengan setelan jasnya berwarna navy lengkap dengan kacamata hitam untuk menyempurnakan penampilannya, sedang menunggu kehadiran seseorang di dalam mobil. Lebih tepatnya di basement sebuah rumah sakit. Dia terus memerhatikan arah keluar masuknya kendaraan. Dia sedang mencari-cari dan menanti kedatangan mobil sedan BMW hitam. Senyum sinis tercipta di bibir laki-laki tersebut setelah melihat yang ditunggunya memasuki area basement dan sedang mencari parkir yang baik. Laki-laki itu masih bertahan di dalam mobilnya sambil terus memerhatikan pengemudi BMW tersebut keluar dan mengenakan jubah kebesarannya. Setelah dirasa tepat, laki-laki itu keluar lalu menghampiri wanita tersebut, kemudian menarik tangannya tanpa permisi. Alhasil, orang yang ditariknya pun terkejut lalu menoleh. Laki-laki itu membawanya ke sudut basement yang sepi agar tidak terlihat oleh orang lain. “Hei! Apa maumu?! Dan siapa kau?” Cindy tidak terima saat tangannya ditarik kasar oleh laki-laki yang dirasa berwajah mirip dengan salah satu sahabatnya. Namun, laki-laki ini memiliki garis rahang yang lebih tegas, meski kacamata hitam menghalangi pandangannya untuk melihat secara keseluruhan. “Ternyata benar dunia memang sempit, Nona. Akhirnya aku bisa menemukanmu di sini. Yang lebih mengejutkan lagi ternyata kau bersahabat dengan adikku.” Jonathan mengempaskan tangan yang tadi ditariknya dengan kasar. Cindy mengerutkan kening memerhatikan laki-laki di depannya. “Adik? Maaf, tapi saya tidak mengenal Anda, Tuan. Memang kita pernah bertemu saat Anda menemani keluarga Christopher, tapi sekali lagi saya tidak mengenal Anda.” Cindy mencoba bersikap sopan pada laki-laki di depannya meski tangannya terasa perih, apalagi tadi dia mendengar bahwa laki-laki ini mengatakan bersaudara dengan sahabatnya. Jonathan tertawa sumbang. “Steve Smith adalah adikku! Wajar kau tidak mengenalku karena memang kita tidak pernah bertemu secara langsung. Namun, aku tidak pernah lupa dan tidak akan pernah bisa melupakan wajahmu, Nona!” Jonathan berkata dengan penuh penekanan pada setiap suku katanya dan menatap tajam wanita yang mengernyit di depannya. “Jadi benar dugaanku, laki-laki ini adalah saudaranya Steve. Apakah laki-laki ini ayahnya Tere?” tanya Cindy dalam hati. Dia kebingungan dengan kata-kata yang tidak dimengertinya dari ucapan laki-laki yang mengaku sebagai kakak sahabatnya. “Baiklah, jika kau tidak mengerti dan mungkin lupa pada suatu kejadian, dengan senang hati aku akan membantumu mengingatnya. Empat tahun lalu di Jepang, ada seorang gadis ceroboh yang tidak berhati-hati saat menyeberang jalan. Tepat saat itu ada sebuah mobil yang sedang melintas dan terkejut karena melihat gadis itu hendak menyeberang. Saat ingin menghindari gadis ceroboh itu, mobil tersebut menabrak trotoar jalan karena sang pengemudi tidak bisa mengendalikan mobilnya. Alhasil, pengemudi di dalamnya yang sedang hamil tua terluka parah dan ….” Jonathan menghentikan ucapannya dan melihat reaksi lawan bicaranya yang serius menyimak perkataannya. Cindy berusaha menggali ingatannya terhadap kejadian lawas yang menurutnya sangat tidak penting. Sekarang tiba-tiba muncul laki-laki yang tak dikenalnya seolah menuduhnya menjadi penyebab dari peristiwa tersebut. “Sudah ingat, Nona … Cindy?” Jonathan bertanya sambil membaca name tag yang terpasang pada jubah putih yang dipakai Cindy. “Bagaimana pembunuh sepertimu bisa menjadi seorang dokter? Terlebih sebagai dokter kandungan.” Jonathan berdecih dan meremehkan. Cindy kembali terkejut dan bingung mendengar setiap ucapan sinis yang keluar dari mulut tajam laki-laki di depannya. Terutama sebutan pembunuh yang disematkan padanya. Dia tidak pernah melakukan hal yang menyebabkan nyawa orang hilang, apalagi seseorang tersebut sedang hamil. “Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu, Nona! Dua kali lipat lebih tepatnya. Mengingat saat itu kau kabur seolah tidak terjadi apa-apa!” Jonathan meninggalkan Cindy yang masih terkejut dan sekarang bertambah binggung setelah mendengar kata kabur. “Hei, apa yang kau katakan? Aku benar-benar tidak mengerti,” tanya Cindy sopan dan tetap tenang meski orang yang ditanyainya memancarkan raut siap menerkamnya. “Dan apa itu? Pembunuh? Kabur? Kau jangan mengada-ada! Bisa kau jelaskan dengan lebih rinci?” Cindy berlari dan mengejar langkah lebar Jonathan. “Kau yang telah menyebabkan istriku meninggal, sehingga sekarang anakku tidak mempunyai ibu. Itu semua karena ulahmu!” sergah Jonathan menusuk. “Hah? Apakah kau sedang tidak salah orang?” Cindy semakin tidak mengerti dengan laki-laki di depannya. “Jangan-jangan kau terlalu depresi karena ditinggal istrimu, sehingga berhalusinasi dan menuduhku sebagai pembunuh? Oh my, God! Mengapa Steve tidak membawamu ke psikiater saja!” ucapnya dengan menampilkan mimik prihatin. Kini giliran Jonathan yang bingung dengan reaksi Cindy. Dia tidak menyangka reaksi orang yang sudah lama dicarinya akan seperti ini. Awalnya dia memprediksikan jika wanita ini akan memohon dan berlutut sambil menangis tersedu-sedu di kakinya agar dimaafkan. Namun sekarang, kenapa malah dirinya yang dituduh sedang depresi. Bahkan, secara tidak langsung Cindy menyuruhnya mendatangi psikiater. Jonathan benar-benar dibuat geram oleh Cindy. “Kau!!!” Jonathan menunjuk Cindy dan mata abu-abunya juga telah memancarkan api amarah. Tidak ingin lepas kendali, dia berlalu memasuki mobilnya. Dia memacu mobilnya dengan cepat dan meninggalkan Cindy yang masih mematung tidak mengerti di tempat. “Dasar laki-laki aneh. Tapi, tunggu? Dia mengatakan gadis penyeberang yang ceroboh? Jepang? Aku memang pernah hampir tertabrak saat menyeberang dulu, tapi itu karena sang pengemudi yang memacu mobilnya sangat kencang. Untung saja saat itu aku diselamatkan oleh Bryan dan langsung dibawa pergi olehnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya pada pengemudi tersebut,” ucap Cindy seorang diri sambil mengingat kejadian empat tahun silam. “Steve. Aku harus bertanya padanya, apalagi ini menyangkut saudaranya,” idenya. Cindy melihat jam yang menghiasi pergelangan tangannya, dia bergegas meninggalkan basement karena agenda visit-nya sebentar lagi akan di mulai.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN