Saat tiba di ruangan pribadinya, Cindy langsung mengambil ponselnya di dalam clutch yang dibawanya, mumpung masih ada waktu beberapa menit sebelum memulai rutinitasnya.
“Steve, hari ini kamu ada waktu senggang?” Cindy bertanya kepada Steve setelah panggilannya diterima.
“Ada, tapi saat pulang kantor. Kenapa?”
“Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu. Penting,” beri tahu Cindy tanpa basa-basi.
“Baiklah, kita bertemu saja di kafe milik Cella. Sekalian aku mau mengambil cake pesanan Christy. Kamu masih ingat tempatnya?”
“Tentu saja masih. Kamu meragukan ingatanku?” Cindy pura-pura ketus menanggapi pertanyaan sahabatnya tersebut.
“Maaf, maaf, aku hanya bercanda, Nona. Jangan ketus begitu.”
“Baiklah. Aku akan menunggumu di Glory Cafe.” Cindy menutup teleponnya setelah menyepakati tempatnya bertemu nanti dengan Steve.
Cindy sering datang ke kafe milik Cella untuk sekadar menikmati cake juga kopi. Dia kadang datang sendiri, kadang juga bersama Christy. Di kafe tersebut dia bisa mengobrol bersama Icha maupun Keira. Saat dia ingin belajar membuat cake, Keira dengan senang hati mau mengajarinya. Berbincang-bincang bersama Keira bisa mengobati kerinduan Cindy pada ibunya, mengingat karakter wanita paruh baya tersebut mirip dengan sang ibu.
***
Jonathan yang masih tidak menyangka dengan reaksi Cindy, melampiaskan kekesalannya dengan memukul kemudi mobilnya. Bahkan, beberapa kali dia mengumpat karena saking kesalnya. “Bagaimana bisa wanita tersebut bereaksi setenang itu meski di awal dia terlihat sedikit terkejut. Namun, … argh!” geramnya.
Setelah meninggalkan Cindy di basement rumah sakit, Jonathan memacu kencang mobilnya agar emosinya tidak hilang kendali saat melihat raut tenang wajah wanita itu. Wanita yang sudah dia nanti selama empat tahun ini. Wanita yang menjadi penyebab anaknya tidak pernah bisa melihat wajah ibunya. Jonathan segera ingin pulang ke rumah untuk meredakan emosinya. Hanya dengan melihat wajah sang anak emosinya yang sudah berada di ubun-ubun bisa mereda, karena paras lembut mendiang istrinya menurun pada anaknya.
“Sayang, sebentar lagi aku akan mendapatkan keadilan untukmu, agar kamu bisa tenang beristirahat di alam keabadian,” ucap Jonathan dengan mata berkaca-kaca. Sangat jelas terlihat amarah terpendam di bola mata abu-abu miliknya.
***
“Daddy, stop! Geli,” Tere protes dengan tindakan ayahnya yang menggelitik pinggangnya.
“Nenek! Tolong Tere,” Tere berteriak berharap neneknya yang sedang menyiapkan makan siang mau menolongnya.
“Joe, hentikan! Kasihan anakmu jika kamu terus menggelitik pinggangnya, apalagi wajahnya sampai merah begitu,” tegur Rachel kepada anak sulungnya.
Mendengar teguran sang ibu bukannya berhenti, Jonathan malah semakin menjadi-jadi menggelitik pinggang Tere.
“Daddy, sudah! Dad, nanti Tere kencing di celana kalau Daddy terus menggelitik pinggang Tere,” ucap Tere sambil berusaha melepaskan tangan Jonathan dari pinggangnya.
“Joe! Nanti Fanny bangun mendengar teriakan kencang Tere,” tegur Rachel kembali yang sekarang mulai mendekati anak dan cucunya di sofa.
Rachel memukul tangan Jonathan yang masih menggelitik Tere. “Jonathan!” hardiknya karena gemas sekaligus kesal dengan anaknya yang tidak mendengarkan tegurannya.
“Baru datang bukannya mengganti pakaian, malah menjahili anaknya. Fanny baru saja tidur, kalau dia bangun bagaimana?” Rachel menggerutu.
Tere kini sudah berlari karena dia hampir saja kencing di celana gara-gara ulah Jonathan yang menggelitik pinggangnya. Jonathan sendiri malah memejamkan mata setelah menyandarkan kepala pada sofa di belakangnya saat Tere menjauh dari jangkauannya.
Rachel merasa aneh melihat anak sulungnya yang sedang memejamkan mata. “Joe, apakah ada masalah?” tanyanya dengan suara khas keibuannya sambil menepuk bahu Jonathan.
“Tidak, Ma,” Jonathan menjawab tanpa membuka mata.
“Lalu mengapa kamu tadi sebegitunya menjahili anakmu?” selidik Rachel.
Rachel mengetahui kebiasaan putra sulungnya itu yang sedang mengalihkan pikiran tentang sesuatu. Jonathan berbeda dengan Steve. Jika Steve dengan senang hati mau membagi kegalauannya, tapi berbeda dengan Jonathan yang akan menyembunyikan masalahnya rapat-rapat.
“Hanya kangen saja, Ma. Sudah lama aku tidak bercanda seperti itu dengan anakku,” jawab Jonathan lirih yang mengandung makna ambigu.
Rachel tersenyum miris mendengar jawaban lirih anaknya. “Sayang, biarkan Yumi tenang di tempat terindah milik Tuhan. Mama yakin jika sekarang dia sedang bersedih melihatmu seperti ini. Mama mengerti perasaanmu yang ditinggalkan oleh belahan jiwamu. Namun, saat ini kamu masih memiliki belahan jiwa lain yang sangat membutuhkanmu.” Rachel mengelus-elus kepala anaknya dengan sayang.
“Kamu harus melanjutkan hidupmu, Sayang. Kamu jangan seperti ini. Sebab itu sama saja artinya kamu tidak membiarkan jiwa Yumi beristirahat dengan tenang di sana,” Rachel mengingatkan.
Jonathan tidak mengomentari ucapan ibunya. Saat ini dia hanya ingin mengingat wajah mendiang istrinya tersebut. Dia takut jika suatu saat nanti wajah itu akan dirinya lupakan seiring dengan berjalannya sang waktu.
“Tere, jangan lari-lari, Sayang.”
Ucapan Christy membuat Jonathan membuka mata dan Rachel mencari sumber suara menantunya.
Christy menuruni tangga sambil menggendong Fanny yang sedang memainkan rambutnya. Yang ditakutkan Rachel akhirnya menjadi kenyataan. Fanny yang baru ditidurkan terbangun karena mendengar teriakan Tere dan membuatnya tidak mau memejamkan mata lagi. Christy berjalan dengan Tere yang sudah berada di sampingnya. Saat sudah sampai pada anak tangga terakhir, dia menghampiri kakak ipar dan ibu mertuanya yang duduk di sofa.
“Cucu Nenek kenapa cepat sekali bangun?” Rachel mengambil Fanny yang bergumam tidak jelas dari gendongan menantunya.
“Apakah karena mendengar teriakan Tere, Sayang?” Jonathan ikut menimpali pertanyaan Rachel kepada Fanny.
“Iya, Uncle,” Christy menjawab mewakili Fanny dengan menirukan suara anak kecil.
“Suara Aunty lucu,” ucap Tere yang sudah cekikikan mendengar suara Christy.
“Maafkan Uncle dan Tere, Sayang, karena sudah mengganggu acara tidurmu,” ucap Jonathan sambil mencubit pipi gembil keponakannya.
“Dimaafkan, Uncle,” balas Christy yang masih menirukan suara anak kecil.
“Oh iya, Sayang, suamimu mau makan siang di rumah atau di mana?” Rachel bertanya kepada Christy yang sedang memangku Tere.
“Sepertinya di luar, Ma, tadi Steve mengabari jika dia akan makan siang dengan kliennya. Dia juga nanti akan makan malam di luar. Katanya dia sudah ada janji dengan temannya,” jawab Christy santai karena Steve sudah memberinya kabar jika nanti suaminya tersebut diajak bertemu oleh sahabatnya, Cindy. Dia sengaja tidak menyebutkan nama sahabatnya karena saat ini Tere sedang ada bersamanya. Takutnya dia minta diantarkan agar bisa bertemu Aunty barunya itu.
“Wanita atau laki-laki?” selidik Jonathan sambil mengajak bercanda Fanny yang sedang dipangku neneknya.
“Wanita,” Christy kembali menjawabnya dengan santai.
Jonathan mengerutkan kening mendengar jawaban santai adik iparnya itu. “Kamu tidak cemburu suamimu bertemu dengan temannya yang seorang wanita?” tanyanya sedikit heran.
“Jika dengan wanita ini aku tidak masalah, Joe. Namun, jika dengan wanita lain, jangan ditanyakan lagi karena aku sudah pasti sangat melarangnya. Berbeda terhadap wanita yang satu ini, sebab dia sudah tahu pasti konsekuensinya jika berani bermain-main dengan suamiku. Dia akan berhadapan langsung denganku,” Christy menjawabnya dengan nada tegas.
Rachel tersenyum geli mendengar jawaban posesif menantunya. Dia tahu betul jika anak bungsunya benar-benar takut dengan ancaman-ancaman yang diucapkan oleh Christy, karena menantunya tersebut sangat konsisten terhadap ucapannya.
“Wah! Adik iparku ini ternyata bisa garang juga,” balas Jonathan sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.
Christy hanya tersenyum menanggapi pujian yang Jonathan lontarkan.
“Oh ya, Joe, sebaiknya kamu ganti pakaianmu dulu sebelum kita makan siang bersama. Kasihan Tere pasti sudah lapar karena tadi pagi dia tidak menghabiskan sarapannya,” pinta Rachel pada Jonathan.
“Jadi kamu belum ganti pakaian? Pantas saja sedari tadi hidungku mengendus bau kecut. Benar tidak, Sayang?” Christy memprovokasi Tere yang sudah dia turunkan dari pangkuannya untuk ikut menggoda Jonathan.
“Yang dikatakan oleh Aunty sangat benar, Dad. Daddy sangat bau kecut,” Tere menimpali sambil langsung menutup hidungnya, pura-pura mencium bau tak sedap dan mulai menjauhi sang ayah karena takut dikejar.
Bukannya marah, Jonathan malah tertawa mendengar anaknya yang sudah terprovokasi oleh adik iparnya. Dia berdiri dan menuruti suruhan ibunya. “Iya, iya, sekarang Daddy mandi dan segera berganti baju,” ucapnya setelah mencium gemas kedua pipi gembil Fanny.
Rachel dan Christy ikut tertawa mendengar ucapan pasrah Jonathan.
“Ayo, Sayang, temani Mama makan siang dulu. Nanti giliran Mama yang menemanimu tidur lagi,” ucap Christy saat mengambil anaknya dari pangkuan Rachel.