Chapter 8

2135 Kata
“Apa yang ingin kamu bicarakan padaku, Chris?” Cindy bertanya setelah dia dan Christy sampai di ruang kerjanya. Saat ini mereka tengah duduk di sofa. “Sebelumnya aku minta maaf padamu mengenai perkataanku tadi terhadap saudara kembarmu,” pintanya sebelum Christy menjawab pertanyaannya. “Tidak apa-apa. Biar Albert tahu rasa dan selalu ingat akan kesalahannya, agar untuk ke depannya dia tidak pernah mengulanginya lagi. Seharusnya dia bersyukur mempunyai sahabat yang mau mengingatkan akan kesalahannya, karena itu menjadi pertanda bahwa orang tersebut peduli dengannya.” Christy tidak mempermasalahkan ucapan Cindy tadi. “Baguslah jika kamu mempunyai pemikiran dewasa seperti itu, Chris,” Cindy menanggapinya sambil mengangguk. “Setelah beberapa bulan bergaul dengan Cella, membuatku bisa berpikir lebih dewasa lagi. Sebenarnya malu juga aku padanya. Jika dilihat dari segi umur seharusnya aku yang memberinya contoh untuk berpikir dewasa, tapi sekarang malah diriku yang mencontohnya,” ucap Christy sambil terkekeh. “Benar, Chris, aku juga diam-diam sangat mengagumi sosoknya. Kadang aku bertanya-tanya terbuat dari apa hatinya yang sangat sabar itu. Meski mendapat perlakuan yang begitu kejam dari saudara kembarmu yang bodoh itu, tapi dia masih bertahan. Aku berani menjamin jika yang dilakukan Cella bukan sekadar cinta buta,” kata Cindy dengan kagum. “Pasti Cella mempunyai alasan khusus yang sangat kuat sehingga membuatnya bertahan di sisi saudaraku yang bodoh itu. Eh, kenapa kita malah membicarakan mereka?” Christy seolah tersadar akan tujuan utamanya menemui Cindy dan mereka pun menertawakan diri masing-masing. “Cindy, aku datang ke sini karena ingin mengundangmu makan malam di mansion mertuaku. Nanti malam tepatnya. Apakah kamu bisa?” tanya Christy. “Memangnya ada acara apa, Chris? Tidak biasanya kamu mengundangku?” selidik Cindy. Jujur saja sebenarnya Cindy terkejut mendengar pertanyaan sahabatnya ini yang tiba-tiba mengundangnya. “Tidak ada acara khusus. Lagi pula kamu sudah lama tidak berkunjung ke rumah mertuaku. Aku yakin jika mertuaku pasti senang kamu mengunjunginya, terutama Mama,” jelas Christy dengan santai. “Cindy, aku sudah mendengar kemarin dari Steve, katanya kamu setuju berkenalan dengan kakak iparku. Benarkah itu?” Christy meyakinkan ucapan suaminya kemarin. “Ralat, Christy, bukan semata-mata aku ingin berkenalan dengan kakak iparmu itu. Namun, ini semua aku lakukan karena Tere. Kemarin suamimu menceritakan jika Tere selama ini sangat merindukan kasih sayang seorang ibu. Semenjak pertemuanku dengan Tere di rumah sakit waktu itu, kata Steve membuat Tere menjadi lebih ceria dan bertingkah seperti anak seusianya, jadi karena itulah aku memutuskan mau menjadi teman Tere. Jujur saja aku merasa kasihan melihat anak sekecil itu sudah ditinggalkan oleh ibunya. Aku takut jika kelak perkembangan psikologisnya akan terganggu. Bukannya aku menganggap diriku hebat atau bagaimana. Jika yang aku lakukan ini bertujuan mulia, maka dengan senang hati aku akan melakukannya,” Cindy menjelaskan secara rinci agar Christy tidak salah paham. “Benar katamu, Cindy. Kadang aku melihat kerinduan yang sangat mendalam di mata sipit itu saat aku sedang bermain bersama Fanny. Meskipun Tere ikut bermain, tapi kelihatannya dia juga ingin berada di posisi Fanny,” ucap Christy dengan mata berkaca-kaca, Cindy pun yang mendengar bisa merasakan kerinduan tersebut. “Jangankan Tere yang sekecil itu sudah ditinggal ibunya, Chris. Aku saja yang masih mempunyai ibu juga sering memendam kerinduan pada beliau. Padahal aku masih bisa menghubungi dan mengunjunginya, tapi tidak dengan Tere,” balas Cindy dengan air mata yang sudah menetes tanpa disadarinya. “Jadi bagaimana, kamu mau datang memenuhi undanganku?” tanya Christy. “Iya, untuk Tere,” jawab Cindy tanpa ragu. “Terima kasih banyak, Cindy. Tere pasti sangat senang dengan kehadiranmu nanti, dari kemarin dia terus menanyakanmu,” beri tahu Christy sambil tersenyum. “Benarkah?” Cindy memastikan pemberitahuan Christy. “Iya, makanya aku ke sini tanpa sepengetahuan dia. Jika Tere tahu aku datang ke sini, sudah dapat dipastikan dia tidak mau jauh-jauh dariku. Bahkan, pasti selalu mengekoriku,” beri tahu Christy sambil mengangguk. Cindy senang mendengarnya, tapi tiba-tiba dia ingin menanyakan tentang saudara Steve pada sahabatnya ini semasih waktunya tepat. “Hm, Chris, setelah sekian lama kita bersahabat mengapa aku tidak mengetahui jika Steve mempunyai seorang kakak?” tanyanya hati-hati. “Aku juga baru mengetahuinya saat beberapa bulan menjelang acara pernikahanku,” jawab Christy apa adanya. “Kenapa bisa begitu?” selidik Cindy. “Steve tidak suka jika ada yang mencari tahu tentang keluarganya, begitu yang dia bilang saat aku menanyakan alasannya. Lagi pula kakak iparku itu tinggal di luar negeri, dia pulang jika ada sesuatu yang penting saja,” beri tahu Christy kembali. “Jika mengenai mendiang ibunya Tere?” tanya Cindy lagi karena dia penasaran atas ucapan laki-laki yang menghampirinya di basement kemarin. “Kata Mama mertuaku, Yumi meninggal karena melahirkan Tere. Tapi sebelum Yumi melahirkan, dia mengalami kecelakaan padahal usia kandungannya waktu itu sudah delapan setengah bulan. Karena keadaannya kritis, dokter mengambil tindakan operasi caesar agar bisa menyelamatkan salah satu di antara mereka,” Christy menjelaskan seperti yang pernah didengarnya. “Kecelakaan karena apa?” Cindy benar-benar sangat penasaran. “Menurut keterangan saksi juga penelusuran polisi setempat, mobil yang dikendarai Yumi ada yang menyabotase. Makanya dia sulit mengendalikan kecepatan mobilnya saat hampir menabrak seorang gadis yang hendak menyeberang jalan. Oleh karena itu, dia membanting kemudi mobilnya dan menabrak trotoar jalan. Begitu yang aku dengar dari suami dan mertuaku,” Christy menambahkan. Cindy mendengarkan dengan cermat setiap penjelasan yang keluar dari bibir sahabatnya. “Mengapa laki-laki itu mengatakan jika akulah yang menjadi penyebab kecelakaan istrinya? Padahal dari penjelasan adik iparnya, sudah jelas ada orang lain yang mencelakai istrinya itu. Laki-laki itu pasti sudah salah paham. Aku harus mencoba menjelaskannya kepada laki-laki tersebut supaya dia tidak menuduhku sebagai pembunuh,” pikirnya dalam hati. “Cindy, Cindy.” Christy melambai-lambaikan tangan di depan wajah Cindy yang masih sibuk dengan pikirannya. “Heh! Maaf, Chris. Ada apa?” Cindy bertanya setelah menyadari jika dirinya sedari tadi dipanggil oleh sahabatnya. “Melamunkan apa?” selidik Christy. “Ah! Tidak apa-apa, Chris. Jam berapa makan malamnya berlangsung?” Cindy mengalihkan pembicaraan. “Jam setengah delapan saja datang. Oh ya, maaf aku tidak bisa berlama-lama seperti kataku tadi, takut Fanny bangun dan rewel,” Christy berucap sambil bangun dari duduknya. “Hati-hati, Chris,” ucap Cindy lalu mengantar Christy keluar ruangannya. “Benarkah tindakan yang aku lakukan ini?”  tanyanya pada diri sendiri. Cindy menyandarkan kepalanya pada punggung kursi kebesarannya sambil memikirkan tindakan yang akan dia lakukan. “Huh, pulang kerja aku harus membeli buah tangan untuk orang tua sahabatku itu. Tentunya hadiah untuk Tere juga,” pikirnya lagi. *** “Aunty dari mana?” tanya Tere saat melihat Christy akan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Christy menghentikan langkahnya dan berjongkok di hadapan Tere. “Aunty dari supermarket, Sayang, membeli diaper untuk Fanny,” bohongnya sambil memperlihatkan bungkusan yang dibawanya. “Kenapa lama? Tere kira Aunty ke rumah sakit dan tidak mau mengajak Tere,” ucap Tere sedih. Matanya pun sudah berkaca-kaca. Christy merasa bersalah karena telah berbohong dan membuat gadis kecil di hadapannya bersedih. “Tidak, Sayang, tadi Aunty bertemu teman lama di supermarket dan kita mengobrol, makanya Aunty sedikit lama,” jelasnya sambil menyusut cairan bening yang sudah menetes dari mata sipit itu. “Tere mau cake? Kemarin malam Uncle Steve membawa banyak cake, tapi tadi pagi Aunty lupa mengeluarkannya.” Christy mengalihkan topik, dia tidak mau Tere bersedih. “Mau, tapi Aunty yang suapi ya,” pinta Tere manja. “Boleh, kalau begitu cium Aunty dulu,” ucap Christy dan Tere pun langsung mencium pipi Christy. “Aunty ke kamar dulu, Sayang. Mau ganti baju.” Christy meminta izin setelah melepaskan pelukan Tere. Tere mengangguk. “Tere boleh ikut, Aunty? Mau lihat Fanny juga. Tadi Fanny sudah bangun dan sekarang sedang bersama Nenek di kamar Aunty.” Tere digandeng Christy bersama-sama menuju kamarnya. *** “Fanny rewel, Ma?” tanya Christy setelah sampai di dalam kamarnya. “Seperti biasa dia hanya bergumam tidak jelas,” jawab Rachel yang sedang memerhatikan Fanny menikmati ASI menantunya yang sudah diperah. “Dasar anak ini, tidak bisa lama tidurnya tanpa ditemani. Ma, nanti aku mengundang temanku untuk makan malam bersama. Bolehkah, Ma?” tanya Christy. Dia lupa tadi memberi tahu Rachel. Rachel mengalihkan tatapannya kepada menantunya. “Jika wanita tentu saja boleh, Sayang. Namun, jika laki-laki kamu harus minta izin dulu pada suamimu,” jawabnya. “Tenang, Ma, Steve sudah mengetahuinya,” balas Christy sambil tersenyum. “Baiklah kalau begitu, nanti Mama suruh Mrs. Hana memasak lebih banyak.” Rachel berdiri dari ranjang Christy. “Chris, Mama mau istirahat dulu. Ayo sayang tidur siang sama Nenek, Daddy-mu lagi keluar,” ajaknya pada Tere. “Tere mau di sini saja sama Aunty dan Fanny, Nek,” tolak Tere yang sudah menaiki ranjang Christy dan ikut berbaring di samping Fanny. “Biarkan saja, Ma. Nanti biar Tere tidur siang di sini saja,” ucap Christy pada Rachel. Rachel menyetujuinya lalu keluar dari kamar anak dan menantunya itu. “Sayang, tolong jaga Fanny sebentar. Aunty mau ganti pakaian dulu,” pinta Christy pada Tere dan setelah Tere menyanggupinya, dia pun langsung menuju kamar mandi. *** Cindy sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan, dia sedang memilih barang di outlet khusus yang menyediakan keperluan anak-anak. Saat Cindy sedang asyik memilah-milah barang untuk Tere, matanya langsung tertuju pada sebuah boneka kanguru beserta anak di dalam kantungnya yang berukuran lumayan besar. Dia memutuskan membelikannya untuk Tere karena boneka tersebut sangat lucu terutama anak kanguru yang sangat imut di dalam kantung induknya. Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, Cindy melanjutkan perjalanan menuju apartemennya guna bersiap-siap agar bisa tepat waktu sampai di mansion keluarga Smith, mengingat waktunya tinggal satu jam empat puluh lima menit lagi. Dia tadi pulang tidak tepat waktu karena harus menolong pasien di ruang emergency yang segera melahirkan. Jadi, sekarang dia harus berlomba dengan sang waktu. Setelah merasa puas dengan penampilannya, Cindy mengambil boneka yang sudah dibungkus rapi dan cake dari kafe Cella. Selanjutnya dia keluar dari apartemennya menuju mobilnya di basement. Dia masih mempunyai waktu setengah jam agar bisa sampai tepat waktu di kediaman Smith. Perasaannya sekarang menjadi tidak menentu mengingat dia akan bertemu kembali dengan laki-laki yang beberapa waktu lalu menemuinya. *** “Joe, segeralah mandi. Sebentar lagi rumah ini kedatangan tamu yang akan makan malam bersama kita,” pinta Rachel saat melihat anak sulungnya sedang bermalas-malasan di sofa ruang keluarga. “Tamu siapa, Ma?” tanya Jonathan menghampiri Rachel yang sedang memeriksa makanan sebelum disajikan nanti. “Teman Steve dan Christy. Mandilah. Anakmu saja sudah cantik, masa Daddy-nya masih berantakan seperti ini,” Rachel berkata sambil melihat Tere yang rambutnya sedang dikepang oleh Christy. “Baiklah.” Jonathan berjalan menuju kamarnya setelah tersenyum melihat anaknya yang sangat dekat dengan keluarga kecil adiknya. *** “Maaf, Nyonya, teman Nyonya Christy sudah datang,” Mrs. Hana mengabarkan jika tamu yang ditunggunya sudah datang. “Beri tahu Christy,” pinta Rachel kepada asisten rumah tangga setengah baya tersebut. Rachel keluar dari dapur untuk melihat tamu anak sekaligus menantunya. Dia memerhatikan seseorang sedang duduk di sofa ruang tamunya sambil memangku bingkisan yang lumayan besar. Saat jaraknya semakin dekat, alangkah senangnya dia melihat yang dimaksud tamu oleh anak dan menantunya tersebut. “Cindy,” sapa Rachel dan langsung membuat orang yang merasa dipanggil namanya mendongak kemudian tersenyum. “Bagaimana kabarnya, Aunty?” Cindy menaruh bingkisan yang sedang dipangkunya di samping tempat duduknya, kemudian berdiri dan memeluk Rachel. “Baik, Nak. Bagaimana juga kabarmu?” tanya Rachel setelah membalas pelukan sahabat anaknya itu. “Baik, Aunty. Steve dan Christy di mana, Aunty?” tanya Cindy karena tidak melihat orang yang mengundangnya. “Mereka lagi di ruang keluarga. Ayo kita bergabung ke sana sambil menunggu Uncle dan Joe yang sedang mandi,” ajak Rachel kepada Cindy. Mendengar nama Joe, entah kenapa membuat perasaan Cindy semakin tak menentu. “Aunty Angel!” teriak Tere senang saat melihat Rachel dan Cindy memasuki ruang keluarga, sampai-sampai membuat Christy yang akan mengikat rambutnya terkejut. “Aduh! Sayang. Diam dulu. Aunty Angel tidak akan ke mana-mana,” tegur Christy. Namun, percuma karena Tere sudah melesat dan sekarang sedang memeluk Cindy yang telah menyejajarkan tubuhnya. “Jadi, yang dibilang Aunty Angel itu ternyata Cindy.” Rachel sekarang mengerti maksud sekaligus tujuan anak dan menantunya mengundang Cindy makan malam bersama mereka. “Sayang, ayo dikepang dulu rambutnya.” Cindy melepaskan pelukan Tere lalu membawanya duduk di sofa. “Aunty yang akan mengepangnya?” tanya Tere manja dan Cindy pun dengan cekatan mengepang rambut Tere. Setelah rambutnya selesai dikepang, Tere duduk di pangkuan Cindy dengan manja. Rachel dan Joshua yang telah ikut bergabung heran melihat kedekatan mereka. Tawa dan canda sesekali menghiasi obrolan mereka. Hal itu ternyata menarik perhatian seseorang yang terlihat sangat segar sedang menuruni anak tangga. Sekilas dia bisa melihat anaknya sedang duduk menyamping di pangkuan seorang wanita yang duduk membelakangi dirinya. “Di pangkuan siapa Tere duduk dengan sangat manja seperti itu?” gumamnya sambil berjalan mendekati mereka yang sedang larut dalam obrolan tanpa menyadari kehadirannya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN