Setelah memastikan mobilnya terparkir dengan baik, Cindy berjalan menuju unit apartemennya sambil pikirannya berkecamuk karena mengingat pembicaraannya tadi bersama Steve. Bagaimana bisa dia melupakan tujuan awalnya mengajak Steve bertemu hanya karena sahabatnya tersebut menyebutkan nama gadis mungil nan manis itu. Mengingat nama gadis tersebut membuat dirinya merindukan sosok itu. Cindy cepat menggelengkan kepalanya saat bayangan ayah dari gadis itu muncul di benaknya. Dia mempercepat langkahnya menuju tempat yang dijadikannya berteduh selama beberapa bulan ini.
“Mungkin dengan berendam air hangat bisa membuat pikiranku jernih kembali dan sosok itu tidak muncul lagi secara tiba-tiba,” ucap Cindy pada dirinya sendiri.
***
“Steve, tadi saat kami makan malam ada hal menarik yang kamu lewatkan,” Christy memberi tahu Steve saat suaminya tersebut menaiki ranjang.
“Apa, Sayang?” Steve mengambil putri kecilnya dan akan dia pindahkan ke tempat tidur yang menyerupai ranjang seorang putri raja.
“Tadi Tere bilang akan meminta Aunty Angel agar mau menjadi Mommy-nya,” ucap Christy sambil memerhatikan gerakan suaminya yang sangat berhati-hati menaruh buah hatinya.
“Tere yang bilang begitu?” Steve bertanya setelah memastikan anaknya kembali terlelap.
Christy mengangguk. “Aku pun tidak menyangka jika Tere akan berkata demikian, secara dia dan Cindy baru sekali bertemu,” ucapnya sambil tersenyum mengingat kejadian saat makan malam tadi.
Steve ikut menyandarkan punggung pada kepala ranjang di sebelah Christy dan merangkul bahu istrinya. “Bagaimana reaksi Mama dan Joe?” tanyanya ingin tahu.
“Mama senang dan antusias sekali, meskipun beliau tidak mengetahui bahwa yang dimaksud Aunty Angel oleh Tere tersebut adalah Cindy. Sedangkan Joe tadi aku lihat sekilas dia terkejut dan menegang. Namun, secepatnya dia mengubah ekspresinya tersebut,” Christy menjelaskan sambil meraba-raba d**a hangat suaminya. “Ngomong-ngomong, apakah Cindy sudah pernah bertemu dengan Joe, Sayang?” tanyanya saat pergerakan tangannya sudah ditahan oleh Steve.
“Aku rasa sudah pernah, kalau tidak salah saat Cella akan dioperasi. Saat itu Joe yang sedang bersama keluarga Cella, tapi kalau berkenalan langsung aku rasa belum.” Steve mengeratkan rangkulannya pada pundak Christy. “Sayang, sebenarnya tadi aku juga sudah meminta kepada Cindy agar dia dan Joe mau berkenalan,” beri tahunya.
Christy terkejut mendengar pemberitahuan suaminya. “Pasti Tere yang kamu jadikan alasan?” tebaknya sambil menyipitkan mata.
Steve menyengir sambil mengedipkan sebelah matanya, sebelum mengecup bibir Christy.
“Dasar.” Christy memencet hidung mancung milik suaminya. “Tapi boleh juga tindakanmu itu. Siapa tahu saja mereka berjodoh dan bisa menjadi pasangan suami istri,” imbuhnya. Dia menyepakati tindakan laki-laki yang sangat dicintainya tersebut. “Namun, aku tetap kasihan juga pada Cindy,” sambungnya kembali.
Steve mengernyitkan kening. Dia tidak mengerti maksud ucapan istrinya tersebut. “Kasihan kenapa?” tanyanya penasaran.
“Karena Cindy harus menikah dengan duda beranak satu,” jawab Christy mencicit.
Mata Steve terbelalak mendengar jawaban istrinya. Namun, pada akhirnya dia memahami juga pemikiran istrinya tersebut. “Benar juga katamu, tapi Joe seperti ini memang karena takdir yang memisahkan dia dengan mendiang istrinya,” jawabnya sedih.
“Maafkan aku, Steve. Aku tidak bermaksud …,” sesal Christy. Dia tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Steve telah menaruh telunjuk di depan bibirnya.
“Kamu tidak salah, jadi untuk apa minta maaf? Memang itu kenyataannya.” Steve mencium kening Christy yang sedang mendongakan wajahnya.
“Bagaimana jika besok kita undang Cindy makan malam bersama di sini?” Christy mengusulkan ide yang tiba-tiba terlintas di benaknya.
“Boleh. Aku sarankan, sebaiknya rahasiakan dulu pada yang lain, termasuk Mama,” Steve menyetujui sekaligus menyarankan balik.
“Setuju.” Christy mengacungkan jempol tangan kanannya kepada Steve.
“Sebaiknya sekarang kita tidur, kamu pasti lelah setelah seharian menjaga Fanny,” ajak Steve yang langsung diangguki Christy. Dia membenarkan posisinya juga Christy, kemudian membawa sang istri ke dalam pelukannya agar mereka bersama-sama menyambut alam mimpi.
***
“Kenapa anak Daddy senyum-senyum sendiri?” Jonathan heran saat melihat anaknya yang sudah berbaring di atas ranjang. Bukannya tidur, tapi malah senyum-senyum sendiri.
“Dad, Tere lagi membayangkan jika Aunty Angel benar-benar mau menjadi Mommy-nya Tere. Tere pasti senang sekali, karena tidur ditemani oleh kalian berdua,” ucap Tere dengan bahagia sambil menatap ke arah Jonathan yang sudah ikut berbaring di sampingnya.
Jonathan yang sedang malas menanggapi khayalan anaknya hanya menjawabnya asal. Dia juga menyuruh anaknya agar cepat tidur, “Berdoa saja supaya Aunty Angel-mu itu bersedia menjadi Mommy-mu. Sekarang tidurlah, ini sudah malam.”
“Oke, Dad, semoga Tuhan mendengar ucapan Daddy,” Tere menanggapinya dengan polos.
Jonathan menghela napas. Dia tahu jika anaknya benar-benar merindukan kehadiran seorang ibu. Namun, dia sama sekali tidak tahu siapa Aunty Angel yang dimaksud dan hal itu semakin membuatnya penasaran pada sosok tersebut. Andaikan Tere mau seperti ini saat dirinya mengatakan bahwa Felly akan menjadi ibunya, pasti sekarang dia tidak bertanya-tanya tentang sosok yang dimaksud sang anak. Jonathan mengecup kening buah cinta peninggalan mendiang istrinya yang sudah memasuki alam mimpi. Tak lama kemudian dia pun mengikuti jejak anaknya, berharap bisa bertemu dengan orang yang sangat dirindukannya tersebut.
***
“Pagi semua,” sapa Tere dengan riang saat melihat semua anggota keluarganya sudah menduduki kursi masing-masing di ruang makan.
“Pagi. Kenapa pagi ini Tere bangunnya lebih siang dari Fanny?” Christy menjawab sapaan Tere dan mewakili yang lain.
Tere menyengir. “Tere bermimpi sedang diajak jalan-jalan oleh Aunty Angel, jadi Tere bangunnya kesiangan,” jelasnya sambil mencium satu per satu pipi keluarganya.
Jonathan menggelengkan kepala atas tingkah anaknya yang sudah mulai terobsesi terhadap sosok Aunty Angel. Berbeda dengan Christy, Steve, dan Rachel yang tersenyum geli melihat Tere, sedangkan Joshua hanya menatap bingung anggota keluarganya.
“Aunty Angel? Siapa itu? Sepertinya Kakek ketinggalan informasi,” Joshua bertanya pada Tere setelah memangku cucu tertuanya tersebut.
“Aunty Angel itu calon Mommy Tere, Kek. Orangnya cantik dan baik,” Tere memberitahukan kepada Kakeknya.
“Benarkah? Kenapa Daddy-mu tidak mengenalkannya kepada Kakek, Sayang?” tanya Joshua sambil menatap putra sulungnya yang hanya mengendikkan bahu.
“Mungkin Daddy masih malu, Kek,” Rachel menjawab sambil mengerling menggoda ke arah anak sulungnya dengan menirukan nada bicara Tere.
Jonathan mendengkus atas kejahilan ibunya, sedangkan yang lain hanya tertawa melihat tindakan Nyonya rumah di mansion itu.
“Jangan digoda terus putra sulungmu, Sayang. Bisa-bisa nanti dia merajuk.” Joshua bukannya membela Jonathan, melainkan ikut menimpali godaan istrinya sehingga membuat yang lainnya pun tertawa mendengarnya termasuk Tere, meskipun dia tidak mengerti.
“Pantas saja Christy tertular jahil, ternyata kalian yang dicontoh olehnya,” gumam Jonathan setengah mencibir.
“Hei, Joe, kamu salah. Istrikulah yang menulari orang tua kita dengan virus jahilnya,” balas Steve yang langsung mendapat cubitan di pahanya dari Christy.
“Benarkah itu, Chris?” Jonathan menanyakannya langsung kepada adik iparnya. Namun, sang adik ipar hanya mengangkat bahu.
“Cepat lanjutkan sarapan kalian masing-masing, jika tidak hal ini akan terus berlanjut,” tegur Joshua dan mereka pun mengindahkan teguran sang papa seperti titah seorang raja.
Jonathan mengamati satu per satu anggota keluarganya yang sedang menikmati sarapan mereka masing-masing. ”Pantas saja Tere sangat senang dan betah berada di sini. Suasana di sini jauh lebih hidup. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan kediamanku,” pikirnya.
***
Seperti biasa Cindy menjalankan rutinitas paginya di rumah sakit dengan melakukan visit terhadap para pasiennya, salah satunya Cella. Dia sangat bersyukur karena kondisi Cella dan bayi kembarnya terus membaik. Setelah selesai memeriksa kesehatan Cella, pintu ruang inap sahabatnya tersebut terbuka dan menampakkan seorang wanita yang berwajah sangat mirip dengan salah satu pasien di ruangan itu.
“Hai, Aunty Angel, apa kabar?” sapa wanita tersebut menirukan Tere jika memanggil Cindy. Christy mendekati kembarannya dan mencium pipi kiri serta kanannya.
“Chris, jangan menciumku seperti itu. Aku tidak sepertimu jika sedang sakit yang harus minta dicium terus,” protes laki-laki yang sedang dicium saudari kembarnya. Hal itu tidak luput dari penglihatan dokter dan pasien cantik di seberangnya.
“Benarkah tidak perlu dicium jika kamu sedang sakit?” tanya Christy meyakinkan.
“Iya,” jawab Albert ketus dan mengambil majalah yang dibawakan Cindy.
“Baiklah. Cell, kamu sudah mendengarnya sendiri bahwa suamimu tidak usah dicium jika sedang sakit,” seru Christy pada seorang wanita yang berbaring di atas ranjang di sebelahnya.
“Eh, eh, kalau dia pengecualian,” sergah Albert cepat dan ketiga wanita yang ada di ruangan itu pun langsung menertawakan tingkahnya.
“Oh ya, Cindy, sehabis ini kamu ada waktu? Ada yang ingin aku bicarakan padamu. Cuma kita,” ucap Christy dan membuat yang lain mengernyitkan kening.
“Ada. Kita bicara di ruanganku saja,” jawab Cindy sambil mengangguk.
“Memangnya apa yang akan kamu bicarakan, Chris? Sepertinya sangat serius,” tanya Albert penasaran.
“Urusan wanita. Mau tahu saja kamu, Al,” jawab Christy.
“Selama ini kita tidak pernah saling menutupi apa pun, Chris. Jadi, apa yang akan kamu bicarakan dengan Cindy?” Albert semakin penasaran dengan jawaban yang diberikan oleh adik kembarnya.
“Aku mau berkonsultasi,” Christy menjawab asal karena sedikit kesal dengan rasa penasaran yang dimiliki kakaknya.
“Jangan bilang kalau kamu mau hamil lagi. Hey! Fanny masih sangat kecil. Aku tidak mau keponakanku kekurangan kasih sayang orang tuanya, terutama dari ibunya,” protes Albert dengan nada sedikit tinggi.
Cella dan Cindy menatap pasangan kembar di hadapannya yang sedang berdebat. “Al, turunkan sedikit volume suaramu. Biasa saja kali, Al. Bukannya anak-anakmu juga hampir tidak mendapat kasih sayang lengkap orang tuanya, terutama dari ayahnya?” sindir Cindy tanpa memandang wajah Albert yang sudah menegang.
Cella melihat raut wajah suaminya yang menegang kemudian berganti dengan ekspresi bersalah dan menyesal. Christy pun juga melihatnya. Ruang inap pun langsung berubah sunyi karena sindiran yang dilontarkan oleh Cindy kepada Albert.
“Cindy, sudah selesai memeriksa Cella? Jika sudah, ayo kita ke ruanganmu,” Christy bersuara guna memecah keheningan. “Aku tidak bisa berlama-lama karena takut Fanny terbangun dan rewel di rumah,” imbuhnya.
“Sudah, ayo.” Cindy tanpa merasa bersalah langsung mengajak Christy keluar menuju ruangannya.
“Kalian lanjutkan beristirahat, aku keluar dulu,” pamit Christy dan menyusul Cindy yang sudah lebih dulu keluar.
“Al,” panggil Cella setelah Christy dan Cindy meninggalkan ruang rawatnya.
Albert hanya menoleh ke arah suara istrinya. Lidahnya kelu meski untuk sekadar memberikan tanggapan singkat.
“Al, jangan dimasukkan ke hati ucapan Cindy. Mungkin dia hanya bercanda,” hibur Cella sambil tersenyum tipis.
“Tidak, Cell. Apa yang diucapkan Cindy itu sangatlah benar. Aku hampir saja berbuat seperti itu kepada kalian. Maafkan aku,” ucap Albert dengan raut yang benar-benar menyesal.
“Aku sudah memaafkanmu. Yang terpenting sekarang kamu sudah menyesali dan mau memperbaiki ke depannya,” ucap Cella sambil mengangguk.
“Terima kasih, Sayang.” Albert mulai menuruni ranjangnya dengan perlahan dan Cella hanya mengangguk.