Semua orang tahu bahwa tak akan ada yang menang dan juga yang kalah dalam hal tersebut. Namun, Kayla tetap berdiri tak gentar dengan kedua kakinya dan juga tatapan tajam menuntut apa yang diinginkan. Simpel, tidak merugikan, tetapi sangat sulit untuk diterima oleh lawan bicaranya. "Sayang," Raga dengan sangat pelan mendekati sang putri, "lepas pisaunya, ya." Membujuk. Kayla mengeratkan rahangnya, mata tak lepas menatap mega yang gemetar ketakutan. "Cabut kata-kata Nenek," ulangnya, entah sudah keberapa kalinya. "Bu, kenapa bisa Kayla semarah itu?" Ranto memulai interogasi, menurutnya sudah pasti ada yang memicu kemarahan tersebut, sebab cucu perempuannya sangat lembut dan tidak pernah bersikap kurang ajar seperti ini. "Ibu cuma ngomong yang sebenarnya, tiba-tiba Kayla berdiri dan ambil

