“Jangan dipikirin, ya, Teh. Tidur aja, udah malem. Istirahat. Insyaallah aku udah dapet rumah buat kita, walaupun gak besar, Teh. Kamarnya hanya dua, Teteh sekamar sama Umi, gak apa-apa?” adikku yang baru datang dari luar, memberikan kabar tersebut, “Gak apa-apa, Dek. Berapa harga kontrakannya, Dek?” aku bertanya, khawatir harga kontrakannya mahal, “Harusnya sih bayarnya tahunan. Tapi karena yang punya kontrakan ibunya temen aku, aku minta kita bayar bulanan aja, Teh. Sebulan tujuh ratus lima puluh ribu. Kontrakannya juga gak jauh dari kantor Teteh, jadi Teteh bisa hemat ongkos.” Aku memeluknya, haru, “Makasih, Dek. Terima kasih karena udah jadi anak yang hebat dan adik yang pengertian buat aku dan Umi.” Dia mengangguk, “Aku memang belum jadi pria dewasa, tapi sejak kalian berdua keluar da

