Sudah satu minggu ini Dalila, istri kedua Abi tinggal di rumah kami. Umi yang sejak kedatangannya memang sudah tidak sreg dengan tindak tanduk wanita ini, memilih untuk diam, mogok bicara. Hanya anggukan dan gelengan kepala yang Umi lakukan. Kecuali dengan aku dan adikku, baru Umi mau buka suara. Malam ini, setelah salat isya, Umi mengetuk pintu kamarku, “Neng, ini Umi. Bukain pintunya.” Aku yang baru selesai salat, bergegas membuka pintu dan mempersilahkan Umi masuk. Aku duduk di meja yang biasa aku gunakan untuk membaca buku, sementara Umi duduk di pinggir ranjang, “Neng udah tau, kan keadaan rumah tangga Umi dan Abi.” Aku mengangguk, sementara Umi menjeda ucapannya dengan menarik napas panjang perlahan, aku memperhatikan wajah Umi tercetak jelas guratan kelelahan dan letih yang luar bia

