Berangkat kerja hari ini sungguh tidak menyenangkan. Kemarin, tepat hari Jumat setelah ashar, aku menerima khitbah dari Rahmat. Umi tidak lama hadir di acara hari itu, “Umi kurang sehat. Izin ke kamar dulu, ya.” ucapnya setelah menyaksikan tukar cincin yang diwakilkan oleh ibunya Rahmat. Setelah selesai acara hari itu, Umi mengurung diri di kamar. Hanya keluar ketika Abi memanggil, memasak untuk makan kami sekeluarga, lalu setelahnya kembali ke kamar. Sesampainya di kantor, Teh Yani ngeledekin aku, “Eciee … yang jarinya udah pake cincin mah beda. Jadi dilamar sama lelaki mana, kamu, Nun? Tampan, gak? Lulusan pesantren, ya?” Teh Yani memberondongku dengan segambreng pertanyaan dan ke-kepo-annya. Belum juga aku menjawab pertanyaannya, Mbak Tania masuk, “Serius kamu udah dilamar, Nun? Wah … k

