“Saya Rahmat. Lulusan Stanford dan punya usaha showroom mobil yang cukup sukses. Yang lebih penting, saya yakin bisa membahagiakanmu.” Mukadimah yang membuatku muak menatap muka lelaki yang sedang berada di depanku ini. Aku gak paham, kenapa Abi menerima lelaki ini untuk di-taaruf-kan denganku. Padahal sudah jelas terlihat, lelaki ini songong banget, tinggi gayanya, besar omongannya. Umi yang melihat reaksiku seperti ini, mengambil posisi untuk duduk di sebelahku dan menggenggam tanganku, seperti mau memberi peringatan, apa pun yang terjadi, aku tidak boleh mengeluarkan kalimat-kalimat buruk. Setelahnya, mengalir semua cerita yang bagus-bagus mengenai lelaki ini, suka bersedekah ke panti asuhan, suka menyumbangkan sejumlah uang untuk pembangunan masjid, semua tentang dia. Abi yang malam it

