"Banun itu anak pertama dari dua bersaudara.” Prana membuka percakapan ketika keesokan paginya aku sampai di kantor lebih dulu dari yang lain, seperti biasa. Ternyata dia justru datang lebih pagi lagi. Aku diam, tidak bereaksi apa pun. “Tan, aku lagi ajak kamu bicara.” Aku hanya melihatnya sekilas, “Ngomong aja, aku dengerin, kok. Aku sambil ngecek kerjaan.” Prana menghembuskan napas kasar, “Lihat aku dulu, Tan. Dengarkan apa yang mau aku bilang.” Aku tidak menggubrisnya, bergeming sambil mengecek email, “Ini masalah kemanusiaan, Tan. Banun butuh pekerjaan ini, dia sudah nyaman berada di sini, sudah bisa beradaptasi dengan kamu sebagai koordinatornya dan Yani sebagai rekan satu timnya. Di rumahnya, dia dipaksa menjadi anak perempuan yang manut sama keputusan kedua orang tuanya. Kemarin sor

