*** Tidak terlalu banyak pekerjaan yang harus diurus, hari ini Sastra lebih banyak bersantai di ruangannya. Tidak terus diam, sesekali dia berjalan-jalan kemudian memperhatikan Tanaya yang sedang berkegiatan di luar kelas. Merasa tidak punya beban apa pun, Sastra cukup tenang, hingga tepat pukul sepuluh kurang beberapa menit, persis saat dirinya bersiap-siap pulang, sebuah panggilan masuk ke nomornya. Bukan dari orang asing, telepon berasal dari Tegar—membuat Sastra seketika malas untuk menjawab. Namun, karena malas bertengkar dengan sang ayah, panggilan tetap dia jawab. "Halo, Pak. Kenapa?" tanyanya tanpa basa-basi. "Tadi pagi apa ada nomor baru yang chat kamu?" tanya Tegar dari sebrang sana—membuat ingatan Sastra ditarik ke momen di mana dirinya mendapat chat dari sebuah nomor baru.

