*** "Ya Tuhan, aku ketiduran." Barusaja membuka mata, Asta berucap dengan suara yang parau. Terlelap sejak meninggalkan Mauren begitu saja di ruang tengah, dia mengalihkan atensi ke arah jam dinding di kamarnya. Cukup terkejut setelah melihat jarum jam di angka setengah dua belas, Asta mengerutkan kening sebelum kemudian memijatnya karena rasa pusing yang belum hilang. Tidak melakukan apa-apa, selama beberapa detik yang dia lakukan adalah diam sambil mengumpulkan nyawa, hingga setelah rasa pusing dan sakit di kepala mulai mereda, dia beringsut. Mengambil ponselnya dari meja nakas, Asta mengecek pesan atau panggilan yang mungkin saja masuk. Namun, ketika dilihat, dia ternyata tidak mendapat satu pesan pun begitu juga panggilan. "Siapa sih yang mau telepon aku?" tanya Asta dengan senyu

