***
Asta pikir setelah mengetahui kondisinya, Valeria akan sedikit melunak. Namun, dugaan dia salah, karena lima tahun berlalu, sang mantan istri sudah tidak sebaik dulu.
Alih-alih menghampirinya lalu bersedia untuk negosiasi, Valeria justru melanjutkan langkah—membuat Asta yang energinya sudah cukup terkuras, pada akhirnya kembali ke mobil.
"Salah satu alasanku menemui Tanaya memang agar warisan Papa tetap jatuh ke tanganku, tapi terlepas dari itu, aku juga menginginkan anakku. Perasaan sayangku tumbuh begitu saja setelah aku melihat foto dia di berkas informasi yang diberikan Papa."
Duduk di kursi kemudi, Asta bermonolog dengan perasaan yang resah. Satu tahun menjalani pemulihan usai tak berdaya selama empat tahun, dia tak memikirkam apa pun selain kesembuhannya.
Tak ingat pada sang anak setelah diberitahu tentang Valeria yang sudah lama menceraikannya, Asta benar-benar hanya fokus pada dirinya, hingga beberapa hari lalu, tepatnya saat dipanggil oleh Agra, Asta mulai diberitahu tentang Tanaya.
Tak hanya diberi misi untuk mendapatkan sang putri kemudian memperbaiki hubungan dengan Valeria, Asta juga diberitahu tentang kerusakan bagian reprodukinya yang membuat dia tak bisa memiliki keturunan lagi.
Cukup terpukul, Asta sempat putus asa, hingga nasihat dari Mauren membuatnya perlahan bangkit dari keterpurukan.
"Karena kamu enggak bisa punya anak lagi, itu berarti kamu harus memperbaiki hubungan kamu dengan Tanaya dan Valeria, Asta. Kamu harus memiliki mereka lagi dan buat Valeria juga Tanaya kembali sama kamu. Jangan cuman karena harta, tapi dekati mereka dengan tulus, karena kalau kamu tulus, Tuhan pasti kasih jalan."
Sekiranya itulah yang Mauren katakan pada Asta. Tidak langsung menerima nasihat tersebut, Asta awalnya ragu, hingga ketika semakin lama dia memandangi foto Tanaya, perasaan sayang pada sang putri semakin tumbuh, dan yaps! Asta kini berambisi untuk mengambil Tanaya karena jika sang putri sudah ada pada dirinya, maka Valeria pun akan ikut kembali.
Ya, begitulah kuncinya.
Untuk memperbaiki hubungan dengan Valeria, Asta harus fokus dulu pada Tanaya, karena sang mantan istri pasti akan ikut ke mana pun sang putri pergi.
Terkesan memaksa? Mungkin iya, tapi meskipun begitu niat Asta untuk memperbaiki hubungannya dengan Valeria, cukup tulus meskipun rasa cinta pada perempuan itu sampai detik ini belum hadir.
"Harus gimana ya aku sekarang?" tanya Asta, pada dirinya sendiri. "Jangankan memperbaiki semuanya, ketemu sama Tanaya aja aku susah. Valeria sama sekali enggak mau aku memperbaiki hubungan dengan anakku. Padahal, sebobrok apa pun aku, hubunganku sama Tanaya enggak bisa diputus gitu aja."
Asta menghela napas kasar, hingga ponsel yang tiba-tiba saja berdering membuatnya tersentak. Mendapati nama Mauren, dengan segera dia menjawab.
"Halo, Ma. Kenapa?"
"Gimana? Udah ketemu kamu sama Valeria?" tanya Mauren dari sebrang sana.
"Udah," jawab Asta. "Enggak cuman Vale, tapi Yaya bahkan calon suaminya Vale. Aku ketemu mereka semua siang ini."
"Terus gimana?" tanya Mauren antusias. "Kamu langsung ngenalin diri kamu sebagai ayahnya Yaya, kan?"
"Iya, langsung, tapi sayangnya Yaya enggak percaya, karena yang dia tahu, Papanya udah meninggal," ucap Asta, sambil mengingat lagi momennya dengan sang putri beberapa waktu lalu. "Vale ngarang cerita ke Yaya. Dia bilang kalau Papanya Yaya udah enggak ada sejak Yaya masih dalam kandungan, dan ya ... Yaya percaya. Jadi di mata anakku sendiri, aku adalah orang asing yang jahat."
Setelah mendengar pengaduannya, Asta pikir Mauren akan menyayangkan perbuatan Valeria. Namun, ternyata dugaannya salah, karena meskipun sang mama mendukungnya untuk memperbaiki hubungan dengan Valeria, sebuah pembelaan tak dia dapatkan.
"Wajar sih Vale ngarang cerita kaya gitu ke Yaya, karena waktu Vale hamil Yaya, kamu kan emang enggak ada tanggung jawabnya sama sekali," kata Mauren. "Kamu enggak pernah nemenin Vale check up kandungan, enggak pernah ngabulin ngidamnya dia, bahkan ketika Vale ngelahirin Yaya, kamu enggak ada di samping Vale, kan? Kamu beralasan sibuk. Padahal, waktu itu Vale mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan darah daging kamu."
Asta menghela napas kasar, sementara Mauren kembali berkata,
"Seburuk apa pun sikap Vale dan Yaya ke kamu, kamu harus terima dan enggak boleh tersinggung, Asta, karena dulu sikap kamu ke Vale jahat banget. Kamu sia-siain dia. Padahal, cintanya sebesar dan setulus itu buat kamu."
"Cinta enggak bisa dipaksa, Ma," ucap Asta, sedikit membela diri. "Mama kan tahu sendiri kalau pernikahan aku sama Vale dulu terjadi bukan karena saling cinta."
"Iya memang, tapi kan bukan berarti kamu bisa bersikap jahat sama dia, As," kata Mauren, kembali membela Valeria. "Sekarang fokus deh buat dapatin Tanaya sama Valeria, tapi jangan pake cara yang kasar. Deketin mereka secara perlahan, terus ambil lagi hatinya. Kalau kamu tulus, Mama yakin Tuhan pasti kasih jalan."
Asta tidak memberikan respon, sementara Mauren kembali melanjutkan ucapannya.
"Mama sama Papa enggak akan abadi, Asta. Kita akan menua bahkan pergi meninggalkan kamu. Kalau kamu enggak berhasil dapatin Tanaya dan Valeria, akan bersama siapa kamu hidup ke depannya? Kamu enggak bisa punya anak lagi setelah kejadian itu. Jadi turunin ego kamu dan buka hati untuk Valeria. Dia perempuan yang sangat baik, dan kehilangan menantu seperti dia tuh kerugian yang sangat besar buat Mama."
"Akan aku coba, Ma," ucap Asta. "Tapi aku enggak janji berhasil, karena seperti yang Mama tahu, Vale sekarang udah punya pasangan. Jadi enggak mudah buat dapatin hati dia."
"Kalau kamu masih pengen hidup terjamin dengan semua aset Papa, dan enggak mau menua kesepian, kamu harus berusaha keras," kata Mauren. "Tanamkan di hati kamu, kalau Tanaya dan Vale harus kembali sama kamu. Bukan cuman demi harta, tapi demi hidup kamu sendiri. Mencintai Valeria enggak akan bikin kamu rugi, karena dia setulus itu."
"Iya, Ma. Udah dulu ya, aku mau cari hotel buat nginep," ucap Asta. "Doain aja semoga ke depannya aku bisa ketemu lebih lama sama Yaya. Dia anak yang lucu."
"Memang," kata Mauren. "Dan Mama pengen banget rasanya ketemu, tapi enggak punya muka karena kesalahan yang kamu lakuin. Jadi segeralah perbaiki semuanya, karena Mama pengen banget ketemu secara langsung sama cucu Mama. Cucu satu-satunya."
Asta tidak memberikan tanggapan, tapi setelahnya dia meminta izin kembali untuk menyudahi panggilan. Telepon berakhir, dia memasukan lagi ponselnya ke saku lalu melajukan mobilnya pergi dari apartemen.
Menginap di hotel yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal Valeria, Asta membooking kamar untuk satu minggu. Semakin berambisi untuk mendapatkan Tanaya, dia akan berusaha lebih serius.
"Pertama-tama Tanaya dulu," ucap Asta, ketika kini dia sudah berada di kamar. "Setelah Tanaya, aku yakin Valeria akan mendekat karena mereka satu pak—"
Tak selesai Asta bicara, sebuah panggilan lebih dulu masuk. Bukan Mauren, kali ini yang menghubunginya adalah Agra.
"Halo, Pa. Kenapa?"
"Gimana usaha kamu di hari pertama?" tanya Agra. "Apa ada hasil baik?"
"Belum," kata Asta. "Valeria sangat membenci aku dan Tanaya enggak mengenali aku sebagai ayahnya. Aku juga enggak bisa ketemu lama sama Yaya karena dia buru-buru ke unitnya, dan aku enggak bisa ngejar."
"Usaha lebih giat lagi," kata Agra. "Kamu yang bikin mereka jauh. Jadi sekarang kamu harus tanggung jawab buat mengembalikan mereka berdua ke keluarga kita. Enggak cuman Tanaya, tapi Valeria juga."
"Iya, Pa," kata Asta.
"Jangan pulang ke Jakarta sebelum berhasil dapatin Tanaya dan Valeria," kata Agra. "Untuk mempermudah semuanya, kamu fokus dulu sama Tanaya, karena kalau cucu Papa udah ada di kamu, Valeria pasti bakalan kembali sama kamu."
"Iya," kata Asta.
"Papa kirim Katya," kata Agra—membuat Asta mengerutkan kening. "Dia akan bantu usaha kamu selama di Bandung, dan kamu bisa repotin dia, tapi jangan macam-macam apalagi sampai punya perasaan cinta, karena Papa cuman mau Valeria yang jadi mantu Papa. Oke?"
"Wait, Katya?" tanya Asta heran. "Siapa emangnya dia, Pa?"